Tags

, , , ,

In life, the choice is always between what is right and what is easy.”

Di samping karena ada Pevita, alasan saya semangat nonton film ini adalah ngeliat dari preview-nya, nih film mirip ama film ‘Pierres’ yang sedang saya (coba untuk) buat. Sama-sama bernuansa dark, gak banyak aksi-aksi, baik aksi anak muda nembak musuh pake pistol maupun aksi cowok nembak, ditolak, berjuang, dan akhirnya jadian ama cewek idamannya. Sebagai amateur yang baru mencoba memulai, jelas saya perlu banyak belajar, salah satunya adalah dengan ngeliat pros. Pake ‘s’ karena memang di film Dilema ini banyak sekali pemain-pemain dan juga sutradara top yang terlibat.

Jadi, Dilema ini punya style yang unik. Story-nya berasal dari 5 latar yang berbeda, yang nanti akan bergabung menjadi 1 kesatuan cerita. Kayak film Vantage Point yang keluar taun 2008, deh; Kelimanya ditabur begitu saja tanpa dipisahkan oleh judul. Urusan penontonlah untuk memilah dan menyusun segmen-segmen cerita selayaknya puzzle.

1.    The Officer. Disutradarai oleh Adilla Dimitri. Bercerita tentang seorang polisi muda, Ario (Ario Bayu) yang baru diangkat jadi reserse dan dipindahtugaskan ke Jakarta. Ario looked up to his late grandfather, seorang polisi hebat pada masanya. Di hari pertama bertugas, Ario dipasangkan dengan seorang polisi senior, Bowo (Tio Pakusodewo). Bertolak belakang dengan reserse Ario yang bisa dibilang idealis, Bowo bersikap sersan; serius tapi santai. Tapi sebenarnya, sang partner sedang dirundung masalah. Dia butuh uang banyak untuk membayar biaya operasi  orang yang ia cintai.
2.    Garis Keras. Sutradara Robby Ertanto Soediskam cukup berani dengan bermain di zona agama. Cerita tentang dua sahabat, Said (Winky Wiryawan) dan Ibnu (Baim Wong). Mereka sama-sama penganut Islam yang taat. Sayangnya akibat ada sedikit beda pandangan, mereka mulai berseteru.
3.    Rendezvous. Di cerita ini nih si Pevita muncul. Dia berperan sebagai Dian, seorang remaja putri anak orang kaya. Semenjak kepergian ibunya, Dian terjatuh ke dunia hitam. Drugs dan silet menjadi temannya. Hari itu, tanpa sepengetahuan Ayahnya (yang sepertinya  kurang perhatian) Dian yang sudah insaf pergi ke rumah pantai keluarganya. Di sana dia bertemu dengan beberapa teman, salah satunya Rima (Wulan Guritno) yang Dian anggap bisa memberikan perhatian kepadanya.
4.    The Big Boss. Sutradaranya Rinaldy Puspoyo. Dikisahkan ada seorang arsitek sukses bernama Adrian (Reza Rahardian) yang mendapat undangan oleh seorang wanita, Hetty (Jajang C. Noer) untuk datang ke rumah ‘bapak’. Dari temannya, Adrian tahu kalo yang mengundang itu bukanlah bapak sembarang bapak. Yang mengundangnya adalah Sony Wibisono (Roy Marten), seorang bos yang memiliki pengaruh besar di kota Jakarta. Didorong rasa penasaran mengapa seorang bos mau bertemu dengan dirinya yang anak yatim piatu tapi bisa sukses tanpa bantuan siapa-siapa, Adrian lantas memenuhi undangan tersebut.
5.    The Gambler. Cerita terakhir yang disutradarai oleh Robert Ronny ini mengambil latar perjudian. Sigit (Slamet Rahardjo) melangkahkan kaki memasuki kasino yang sudah tidak didatanginya lagi selama bertahun-tahun. Malam itu, Sigit yang sebenarnya sudah tobat berjudi, bermaksud untuk bermain sekali lagi demi mengambil kembali jam tangan warisan miliknya yang dulu terpaksa digadaikan karena kalah berjudi di kasino ini. Jam tangan itu sudah seperti ikon keluarga bagi Sigit. Dia ingin mewariskan benda itu kepada anak laki-lakinya. Di permainan terakhirnya ini, Sigit pun mesti berhadapan dengan orang yang dulu pernah mengalahkannya, si pemilik kasino itu sendiri, Gilang (Ray Sahetapi).

Nah, kelima cerita itu terjadi di kota yang sama, Jakarta, dan dalam hari atau dimensi waktu yang sama. Kita sebagai penonton akan melihat apa-apa saja yang terjadi kepada kelima tokoh ini seiring dengan berjalannya waktu. Mulai dari pagi hari ketika kedua polisi mendiamkan perseteruan dua kelompok ulama, terus beranjak siang hari di mana si arsitek sukses sampai di rumah bos kaya, dan akhinya larutlah malam (emangnya gula!) saat gadis mantan pengguna narkoba dan bapak mantan penjudi kembali terjebak ke dalam kebiasaan lama mereka. Klimaks cerita mulai dengan ditandai oleh terbukanya pembatas masing-masing segmen. Hubungan antartokoh dari kelima cerita menjadi jelas, mereka ternyata terikat dalam satu benang merah yang sama. Nicely done!

Sayang, kisah-kisah mereka tidak berakhir dengan happy ending. Dilema adalah tentang bagaimana manusia itu cenderung memilih yang terburuk untuk dirinya sendiri. Kelima tokoh sentral Dilema menapaki langkah yang salah. Well, ini review jadi wajar kalo ada spoiler, but SKIP this part and GO STRAIGHT TO THE NEXT PARAGRAPH kalo gak mau kena spoiler anyway. You have been warned!  Masing-masing dari kelima tokoh membayar mahal atas perbuatan mereka. Said akhirnya sadar telah salah pilih jalan, dia mencoba memperbaiki hubungannya dengan Ibnu namun keduanya tewas ditembak oleh orang yang membuat perjanjian dengan Ibnu (kemungkinan besar adalah kaki tangan Sony Wibisono). Sigit tertangkap tangan sedang berjudi oleh polisi Ario yang ternyata adalah anaknya. Sigit terpaksa mendekam di penjara karena Ario, meskipun pahit, memilih untuk tidak pandang bulu demi nama kebenaran. Adrian yang karena harga diri memilih untuk menolak ayahnya, tewas dibunuh temannya atas perintah sang ayah sendiri. Ya, Sony Wibisono yang bos besar itu teryata adalah ayah kandung dari Adrian. Ironisnya, Sony tidak hanya kehilangan satu, tapi dua orang anaknya! Dian, karena bujukan orang yang dianggapnya teman kembali terjerumus narkoba, ditemukan tewas di pinggir pantai. Bodies are dropping like flies….

Sebuah review terasa kurang lengkap kalo gak diriingi kritik. Ibarat garam tanpa sayur, yang ada asin melulu hehehe. Yah, meskipun masih amatir tapi sah-sah aja dong ngeritik yang atas 😀

Dilema dengan 5 sudut pandang dan temanya memberikan kejutan tersendiri. Sayang, menurut saya emosi setiap tokoh kurang ter-delivered, jadi tokohnya terasa kurang berjiwa. Penonton tidak 100% merasakan apa yang dihadapi oleh tokoh-tokoh cerita ini. Tidak ada momen spesial yang membekas (kecuali mungkin bagian-bagian yang ada Pevitanya). Well, kalo mau diurutin sih, si Sigit yang bisa membuat saya mencondongkan tubuh ke depan saat menontonnya ‘mempertaruhkan’ semua di meja judi. Bahkan bagiannya dengan Ario di ending adalah best scene film ini menurut saya. Drama antara Adrian dan Sony Wibisono sebenarnya cukup oke, tapi jadi agak tercemar oleh Hetty yang terlihat begitu komikal, kalo gak mau dibilang dibuat-buat. Seriously, why’d she go with the mysterious and riddle thingy? Ibnu dan Said were okay. Yang paling lemah adalah bagiannya Dian. Emosinya kurang sekali, Dian tidak terlihat sebagai anak yang bermasalah yang menyesali kehidupannya. Emang susye kali ya meranin yg begini, salut deh ama Pevita. Blame me for too much watching IMDB’s-8-stars-drama-movie hehe. Adegan ciuman Rima dan Dian juga dirasa gak pas, momennya gak masuk. Dan adegan ranjang itu, well kayaknya lebih baik gak dimasukin, karena bikin urutan adegannya jadi agak kaco, jujur I was like, “ini gak salah nyambungin adegan nih?”

Satu lagi, yah maybe it’s just me, tapi (awas, ini SPOILER BERAT loh!) saya rasa bakal jadi lebih menarik kalo si Sigit dibikin mati gantung diri di penjara. Jadi 4 dari 5 tokoh sentral yang salah jalan ini semuanya tewas. Trus nanti ada adegan Ario mandangin sosok siluet Sigit yang tergantung di selnya, that would be best picture of this movie! lol

Great movie, great stars, nobody’s perfect. This movie is worth a shot. Angin segar bagi perfilman Indonesia. Dari pada bengong, coba aja nonton. Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 stars for this movie.

That’s all we have for now.

Now go, feel the power of wisdom!

Advertisements