Tags

, , ,

“People have a need to create monsters. It helps us believe that the real world is not quite as scary.”

Belakangan, dunia film Indonesia memang lagi seru-serunya. Kali ini giliran Joko Anwar yang tampil dengan genre andalannya, thriller. Tentu saja lengkap dengan twist cerita yang bikin penonton memutar otak. Kalo kamu suka film misteri kayak gini, maka wajib hukumnya untuk segera cabut dan pergi menonton ke bioskop terdekat (yang terjauh juga gapapa, asal kuat ongkos). Tapi kalo kamu beneran takut, yaah baca sajalah review ini dulu, itung-itung pemanasan jantung. Tapi tetep musti nonton loh, jarang-jarang film gini ada yang made-in lokal hehehe.

Modus Anomali dibuka dengan suasana tenang hutan di sore hari. Kita lihat ada laba-laba lagi memintal sarangnya, ada serangga lagi mamam dedaunan, ada kadal lagi merayap pelan. Nikmati suasana tenang ini selagi bisa. Karena nanti yang ada hanya teriakan, and yes, there will be blood…….and spoilers.

Seorang pria terbangun dari kuburnya. Aneh. Dia bukan zombie. Bukan pula alien. Sama seperti kita-kita, pria itu manusia. Dan sama seperti kita-kita, pria itu juga bingung. Kenapa dia bisa ada di hutan, dalam keadaan terkubur pula?  Pria ini lupa ingatan, dia bahkan tidak ingat namanya sendiri. Yang dia tahu adalah seseorang berusaha menguburnya dan kini dirinya sedang dalam bahaya. Dalam bingungnya, pria ini berlari tak tentu arah menyusur hutan. Dia sampai ke sebuah kabin. Di dalam kabin tersebut, sang pria menemukan sebuah handycam bertulisan ‘PRESS ME’. Dia menekan tombol play dan muncullah gambar badut di layar, “Hallo, dude… I want you to play a game.”

Enggak, ding! Itu mah film SAW hehehe. Video yang ditonton pria ini ternyata lebih serem. Video itu menunjukkan adegan wanita hamil lagi ditikam oleh seseorang misterius. Bertambah lagi kebingungan sang tokoh utama. Apa yang sebenarnya terjadi di hutan ini? Siapa orang-orang di video itu? Kok tega sekali si orang misterius membunuh wanita yang lagi hamil? Jahat, ih!

Ketakutan si pria semakin menjadi-jadi ketika dia menemukan mayat wanita tersebut masih ada di dalam kabin. Tak ayal, si pria lantas mengambil langkah seribu.

Adegan-adegan berikutnya menceritakan bagaimana si pria menungkap misteri ini satu per satu. Dari dalam dompetnya, dia tahu kalau dia bernama John Evans (adek angkatnya Chris Evans atau mungkin juga masih sodaraan ama emaknya Harry Potter hihihi). John ternyata sudah menikah, and to his surprise dia juga menemukan foto si wanita hamil bersama anak cewek dan cowok dengan tulisan ‘We love you, John’ di baliknya. John menjadi semakin paham saat dia menonton sisa rekaman yang ada di dalam kabin tadi, wanita itu adalah istrinya dan sekarang dia harus mencari kedua anaknya yang masih hidup. John harus cepat karena si pembunuh juga masih berkeliaran di hutan itu.

Seolah belum cukup dengan lingkungan yang gelap dan mencekam, musik latar film ini juga turut andil menciptakan atmosfir tegang. Sukses berat, bisa dibilang begitu. Buktinya dua kali permen karet saya hampir ketelen. Pertama pas adegan John kejebak di dalam peti yang dibakar. Kedua pas adegan John tertembak panah (OMG,  pembunuhnya Katniss yang di The Hunger Games??!)

Unsur psychological thriller memang terasa kental sekali di film ini. Kecemasan dan kebingungan yang dialami oleh John ter-deliver sempurna. Penonton ikut merasakan apa yang dialami oleh John. Ketakutan, kesakitan, sampai perasaan murka timbul saat John “gagal menyelamatkan” putra-putrinya.

Lucunya, pandangan dan simpati penonton seujug-ujug berubah tatkala John mendapatkan Suntikan Kebenaran. And this is the cue for the twist. Suasana berganti mendadak. Sunyi senyap. John seketika menjadi tenang. Perubahan karakter terjadi di sini, John berubah dari face menjadi heel (istilah Smackdown, sori :D) Identitas John yang sebenarnya terungkap. Mungkin kamu sudah bisa menebaknya.  Cuma masih satu pertanyaan tersisa, WHY? Pertanyaan ini akan terjawab di ending. Untuk bisa menghargai kesulitan hidup, manusia memang butuh untuk menciptakan monster. Dengan begitu kita jadi tahu bahwa kenyataan tidak seburuk yang kita bayangkan. Tapi John menciptakan monster dengan memberikan kenyataan yang buruk dan menyulitkan hidup orang.

The only downside dari film ini adalah bahasa. Kurang jelas juga kenapa film ini menggunakan bahasa Inggris dengan subtitle Indonesia alih-alih sebaliknya. Mungkin karena setting filmnya yang bukan di Indonesia. Atau mungkin karena banyak menggunakan sumpah serapah yang enggak keren-keren amat kalo pake bahasa kita. Atau mungkin juga supaya kesan bingungnya makin kerasa (pas adegan John mendengar suara-suara di sebuah kabin, kan gak seru kalo mumble-mumble-nya pake bahasa Indonesia). Yang jelas, beberapa dialog masih terasa kaku dan canggung, sesekali pemainnya terpeleset dengan intonasi dan gaya bahasa yang nge-indonesia. Tapi gak fatal kok. Karena memang peran tokoh-tokoh lain gak begitu ditonjolkan. Adegan-adegan interaksi keluarganya malah cenderung cheesy, kayak di cerita Goosebumps.

Nonetheless, Palace of Wisdom gives 8 out of 10 stars for this movie.

That’s all we have today.

Now go, feel the power of wisdom!

Advertisements