Tags

, , ,

“War. It’s just another family torn.”

Sejak penampakan Nick Fury di post-credit scene film Iron Man empat tahunan yang lalu, penggemar superhero Marvel sudah menanti-nanti film ini dengan gak sabar. Nick Fury membuktikan kata-katanya, “You think you’re the only superhero in the world?”, dengan muncul kembali di secret scene beberapa film superhero keluaran Marvel yang lain (The Incredible Hulk, Iron Man 2, Thor, Captain America).

Sebagai pemimpin S.H.I.E.L.D. Nick ingin mengumpulkan superhero untuk menjaga perdamaian dunia. Dari apa? Dari kekacauan yang bakal terjadi, thanks to Loki. Adek tiri Thor ini bermaksud untuk menjajah bumi. Dia mengincar Tesseract (kubus biru yang dipake Hydra di film Captain America) yang kini ada di tangan S.H.I.E.L.D. Dengan tongkat saktinya, Loki menghancurkan markas dan menghipnotis sebagian besar anggota kelompok pelindung dunia itu.

Nick Fury memanggil para superhero yang sudah susye paye dia kumpulkan untuk menggagalkan rencana Loki. Para jagoan itu sendiri awalnya ikut dengan ogah-ogahan. Masing-masing mereka punya ego yang gede. Tony Stark menolak kerja di dalam tim. Dr. Bruce Banner gak mau terlibat lebih jauh karena dia punya masalah dengan ‘anger management’. Kapten Steve Rogers masih bingung, dia ikut lebih karena he had nowhere else to go. Natasha Romanoff agak kurang stabil karena temennya, Clint Barton, dalam kekuasaan musuh. Thor yang belakangan bergabung juga masih jaga harga diri sebagai dewa di antara manusia. Inilah yang digunakan Loki. Dewa yang penuh tipu muslihat ini menanamkan benih-benih permusuhan di antara para anggota Avengers. Paruh pertama kita akan dimanjakan dengan pertarungan impian antara tokoh-tokoh protagonis. Nice fan service!

 

Director Joss Whedon menebak dengan tepat selera penonton. Ledakan, aksi, special effect, dan humor menjadi senjata utama film The Avengers.

Interaksi antara superhero selalu dihiasi dengan dialog-dialog yang kocak. Adegan yang bermula serius akan dicairkan dengan kata-kata yang mengundang tawa sebagai penutupnya. Mulai dari si one-liner Iron Man sampai dengan ngeles-nya Thor. Bahkan Loki si penjahat utama pun mendapat bagian komikalnya sendiri.

Setiap karakter punya gimmick berbeda dan bagusnya, meskipun nanti karakter mereka berkembang,  mereka stay in character. Bagaimana mereka bertindak, seberapa kuat mereka dibanding dengan yang lain, tercermin dengan sempurna. Seperti  si Kapten Amerika yang old-fashioned tapi nanti jadi punya jargon “Suit up!”. Persaingan gak resmi antara Thor dan Hulk. Terus juga Stark dan Banner yang kalo ngobrol jarang pake ‘bahasa inggris’. Apalagi kalo mereka udah ngobrol berdua, saya aja gak ngerti mereka ngomongin apa hahaha. Momen-momen gimmickal ini terasa begitu berarti di mata fans; realistik dan tentu saja menarik.

 

Kalo soal aksi dan effect-effect jangan ditanya. The Avengers menyuguhkan aksi yang banyak dengan visualisasi yang dahsyat punya. The Incredible Hulk pun akhirnya bisa terlihat seperti benar-benar diperankan oleh aktor. Pertarungan terakhir antara Avengers dan pasukan alien Chitauri adalah salah satu adegan pertarungan terheboh yang pernah ada.

Para superhero akhirnya mengesampingkan ego mereka dan sepakat untuk bekerja sama. Porsi battle mereka dibagi sama besar. Captain America berjuang di darat, sekali lagi dia stays in character dengan adanya adegan menyelamatkan tahanan di sebuah bank. Pahlawan menolong yang lemah, klasik! Black Widow memukau dengan aksi akrobatnya, menyabotase kendaraan terbang alien. Hawkeye yang sudah sadar dari hipnotis Loki, sibuk memanah musuh dengan ketepatan 100%. Iron Man melakukan serangan udara sambil terbang ke sana kemari. Thor dengan Mjolnir menunjukkan kenapa dia pantas disebut sebagai dewa petir. Dan The Incredible Hulk? Yaah, seperti kata Captain America, Hulk smashes things. Faktanya, Hulk sukses mencuri perhatian dengan aksi beringasnya itu.

Sedikit saran, mending nonton yang 2D aja. Karena yang 3D gak begitu banyak berpengaruh, beberapa adegan malah cenderung kabur.

 

The Avengers memang ditargetkan buat penonton yang sudah menonton film-film Marvel yang lain. Paling enggak, ya nonton Thor, deh. Beberapa adegan mungkin jadi agak kabur jika kamu hanya menonton film ini aja. Sayang, Spiderman, Fantastic Four dan beberapa karakter Marvel lain gak bisa dimunculkan lantaran masalah hak cipta. Aneh aja ngeliat New York lagi diserang, tapi Spidey gak keliatan batang idungnya. Mungkin dia lagi sibuk motretin jalannya pertarungan buat bahan berita koran hehehe.

Bahkan adegan rahasia sehabis closing credit ( Jangan cabut dulu begitu filmnya habis!) film ini yang seharusnya menjadi “big surprise” malah akan jadi “huh, emang itu siapa?” Beginilah resiko film yang diadaptasi dari komik. Penonton yang gak baca komiknya tidak akan tahu siapa tokoh yang nyengir di akhir adegan itu. No worries, we do share knowledge at the Palace of Wisdom.

Inilah wujud sang raksasa jingga misterius.

Namanya Thanos. Di film ini Thanos diceritakan sebagai tokoh atasan yang ‘meminjamkan’ tentara Chitauri kepada Loki. Sejarahnya, Thanos adalah seorang mutant dari ras superhuman yang disebut Titanian Eternals. Mereka ini semacam dewa; punya kekuatan super, tidak nambah tua, tidak butuh makan, juga tidak pake kol. Eh sori, itu mah teks lagu anak-anak hehehe. Maksudnya mereka juga tidak perlu oksigen. Ngeri, kan? Nah, si Thanos ini lebih gawat lagi. Dia jahat, jenius, dan punya senjata andalan bernama Infinity Gauntlet. Dengan Gauntlet ini Thanos semakin tak terkalahkan karena dia bisa menguasai  Waktu, Ruang, Jiwa, Pikiran, Kenyataan, dan Kekuatan. Serunya, Infinity Gauntlet ini sempat muncul di film Thor!

Apakah Thanos nanti akan merebut Gauntlet itu dari istana Thor? Wah, jadi gak sabar menunggu The Avengers 2 tayang 😀

 

I’m not a fan of action movies, but who doesn’t like superheroes in action? Palace of Wisdom gives a solid 8.5 stars out of 10 for this movie

 

That’s all we have today.

Now go, feel the power of wisdom!

Advertisements