Tags

, , , , , , , ,

Indonesia nyaris gak kebagian jatah menikmati film-film Hollywood tahun 2011 lalu. Untungnya masalah pajak film yang dinaikkan di awal tahun itu segera beres, dan saya akhirnya bisa menonton seri terakhir Harry Potter bertepatan dengan ulang tahun saya. Enggak tepat-tepat amat ding, telat seminggu…
Anyway, 2011 was a great year untuk orang-orang yang gemar melihat ledakan di layar. Banyak film-film action bagus yang tayang, sebut aja Fast Five, Battle: Los Angeles, dan even Cars 2 ada adegan action dan ledakan-ledakannya.
Golden Globes bilang The Descendants adalah best motion picture di tahun 2011. Palace of Wisdom punya pendapat sendiri, menurut kami film-film top 2011 itu adalah:

Honorable mentions:
Film 2010 yang baru saya tonton di 2011; Let Me In, Black Swan
Film 2011 yang baru bisa saya tonton di 2012; Sherlock Holmes: A Game of Shadows, Paranormal Activity 3, The Descendants
Yang unyu-unyu: The New Daughter, Sleeping Beauty, Texas Killing Fields
Mind-blowing movie, tapi terlalu berat untuk ditonton dua kali; Drive, The Ides of March
Just funny: Hangover 2, Bridesmaids
These will scare you to death: Final Destination 5, Ladda Land, Insidious, Claypot Curry Killer
And Harry Potter 7 Part 2 (battle scene-nya failed this movie. Big time)

 

 

 

8. ATTACK THE BLOCK

Director:  Joe Hornish
Stars: John Boyega, Jodie Whittaker, Nick Frost, Alex Esmail
MPAA: R
IMDB Ratings: 6.8/10
“This is MY block!”

Alien memang selalu menarik untuk dibahas. Apalagi dijadikan sebuah film. 2011 lalu, tak urung ada banyak Alien yang turun dari luar angkasa untuk menghibur fans-fans mereka di bumi. Dari sekian banyak film-film Alien itu, I picked Attack the Block sebagai yang paling mantep, bahkan mengalahkan Super 8-nya Stephen Spielberg. Tanya kenapa? Simply because film ini sukses dalam telling an enjoyable story, in a refreshing way.

Tidak ngikutin pola seperti ini

Tokoh utama dalam film ini bukanlah tipe ‘anak muda’ biasa. Dia tidak punya kemampuan khusus, dia bahkan bukan anak baik-baik. Moses adalah ketua dari sekumpulan anak berandal yang sering mencari masalah di jalanan sekitar apartemen mereka. Tapi justru di sinilah letak menariknya. Sepanjang film, kita akan mengikuti gerombolan ini. At first, mereka terlihat bengal tapi saat Alien mulai merusuh di apartemen mereka, well they are not that bad. Bahkan Sam, yang pernah dirampok oleh Moses dkk, balik bekerja sama dengan mereka untuk mencari cara mengusir para alien dari apartemen mereka. Malahan, karena merasa bertanggung jawab, Moses nanti akan mengorbankan diri jadi umpan buat menjebak alien-alien tersebut.

“Aaaaaaa, they are blacker than my cousin…!!”

Konflik cerita yang luas (selain alien, mereka juga harus berhadapan dengan ketua preman yang sok ngerap, ditambah sub-plot antara Moses dan Sam), penokohan yang unik dan kocak membuat film ini fun to watch.

My favorite scene: Yang seru adalah saat Moses and the gank dikejar-kejar keliling kota ama alien-alien itu


 

 

 

7. DIARY OF A WIMPY KID: RODRICK RULES

Director: David Bowers
Stars: Zachary Gordon, Devon Bostick, Rachel Harris , Peyton List
MPAA: PG
IMDB Ratings: 6.1/10
“It’s unbelievable! Even at school Rodrick is ruining my life.”

Warning! This movie contains bird’s poop, weird dancing, and the music of Ke$ha.

Faktanya, menjadi anak umur 12 tahun itu enggak enak. Paling tidak itulah yang dirasakan Greg Hefffley. Di sekolah, Greg yang seperti biasa selalu merasa dirinya cool, naksir ama cewek baru, tapi api cintanya selalu ditiup-tiup ama anak India bernama Chirag Gupta.. Sementara di rumah, Greg bukan hanya jadi bulan-bulanan oleh abangnya, Rodrick, sekarang dia juga harus menderita karena ulah adiknya yang suka merusakkan barang. Geez, ternyata menjadi anak tengah itu cukup menderita yaa hahaha

“I’m only thlee”

Sama seperti novelnya, fokus cerita jilid kedua ini adalah tentang Greg dan Rodrick yang ‘dipaksa’ bekerja sama oleh keadaan yang berbahaya. Mereka lagi dihukum untuk tinggal di rumah selama weekend. Berhubung nih kakak adik pada bandel-bandel, maka mereka (tepatnya si Rodrick) lantas mengadakan pesta besar di rumah. Semua temannya diundang. Besoknya, satu jam sebelum orangtua mereka pulang dari liburan, Greg dan Rodrick membersihkan sisa-sisa pesta, and suddenly they found this

Kalo ini ketahuan mereka dalam masalah besar.

Lucunya saat kedua kakak adik ini mulai kompak menutupi kejadian pintu itu (mereka menggantinya dengan pintu yang di gudang), mereka malah jadi makin musuhan saat rahasia Rodrick terbongkar karena ulah Greg.

Dengan ceritanya yang ringan dan menghibur, if you want to see movie with your entire family, this movie definitely is your choice.

My favorite scene:

 

 

 

6. SUCKER PUNCH

Director: Zack Snyder
Stars: Emily Browning, Vanessa Hudgens, Abbie Cornish, Jena Malone
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 6.1/10
“You have all the weapons you need. Now fight.”

Pertama kali nonton, saya bahkan gak ngeh ini film tentang apa. Kirain full-action gitu. Gak taunya film ini lumayan membingungkan. Agak mirip sama Inception dari segi alam fantasi dalam alam fantasinya. We need to go deeper.

Babydoll dikirim ke sebuah asylum oleh ayah angkatnya. Saat si unyudoll ini hendak di-lobotomy, penonton dibawa ke ‘dunia lain’ di mana Babydoll ternyata berada di sebuah rumah bordil.  Babydoll dan teman-temannya (Sweet Pea, Rocket, Blondie, dan Amber) berusaha kabur dari sini. Mereka menyusun rencana dan menggunakan keahlian menari Babydoll untuk mencuri benda-benda yang bisa menolong mereka dalam melarikan diri. Saat menari inilah penonton dibawa sekali lagi masuk ke dunia khayal Babydoll, ke dunia di mana dia menjadi jagoan yang harus melawan samurai raksasa, pasukan nazi, robot, dan naga.

She can sucker punch me any time she wanted to

Jadi kita sudah tahu kalo sebenarnya kejadian yang bener-bener dialami si Babydoll ini adalah yang di insane asylum. Masalahnya adalah si sutradara Zack Snyder bilang kalo tokoh/topik utama film ini ternyata adalah si Sweet Pea, bukan Babydoll. Nah lo??

My favorite scene: Adegan opening yang pas latarnya ada lagu Sweet Dreams yang dinyanyikan ulang oleh Babydoll sendiri.

 

 

 

5. X-MEN: FIRST CLASS

Director: Matthew Vaughn
Stars: James McAvoy, Michael Fassbender, Sebastian Shaw, Jennifer Lawrence
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 7.9/10
“Mutant and proud.”

I was a fan of X-men. Komiknya udah baca ampe khatam (boleh minjem di taman bacaan), game-nya sukses ditamatin, dan selalu siap duduk manis setiap jam 6 sore buat nonton film kartunnya. Tapi gak tau kenapa, saya gak pernah benar-benar nge- ama film-film X-men. Pernah nonton yang pertama tapi yaa, nothing special.

X-Men: First Class ini berbeda. Mungkin karena ini tentang asal muasal terbentuknya dua kubu mutant (kubu baik dipimpin oleh Professor X dan kubu keren dipimpin oleh Magneto), maka filmnya lebih menekankan ke sisi story, di mana tokohnya digambarkan dengan lebih kompleks. Semua mutant yang muncul punya peran yang sama signifikannya, gak cuma numpang lewat sebentar. Speaking of the mutant,  this film makes old-school fan seperti gue memekik gembira saat karakter-karakter original seperti Banshee, Havoc, Riptide, dan Azazel beraksi.

Menonton film ini layaknya belajar sejarah, kita jadi tahu fakta-fakta menarik seperti nama X-Men diusulkan oleh Dr. Moira, sedangkan nama Professor X dan Magneto diusulkan oleh Mystique. Dan di film ini kita juga jadi tahu darimana Magneto mendapatkan helm-nya yang rada-rada norak itu hehehe

And later he changes it to red. For the worst.

My favorite scene: Saat Profesor X yang masih berambut ngajarin para mutant, termasuk Magneto, cara memaksimalkan kekuatan mereka.

Oiya, kabarnya ni film bakal ada sekuel-nya loh. Liat aja nih

 

 

 

4. THE HELP

Director: Tate Taylor
Stars: Emma Stone, Octavia Spencer, Viola Davis, Bryce Dallas Howard
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.0/10
” If you can love your enemy, you already have victory “

Diangkat dari novel yang berjudul sama, The Help mengupas tentang masalah rasisme yang terjadi di Mississipi, Amerika Serikat tahun 60an. Diceritakeun kala itu para pembantu rumah tangga yang berwarna kulit sama dengan warna kulit Boim yang temannya Lupus mengalami perlakuan yang kurang etis dari majikan mereka yang wanita putih kaya raya macam mamanya Caca yang di film Bidadari. Bayangkan, para PRT ini bekerja untuk satu keluarga kulit putih selama bertahun-tahun, mengasuh anak-anak mereka sementara anaknya sendiri diasuh orang lain, membersihkan rumah dan segala macam, tapi sang pembantu bahkan tidak boleh memakai kamar mandi yang sama dengan kamar mandi keluarga majikannya.

Istilahnya “equal but separate”.

Untungnya gak semua orang berpikiran begitu. Tokoh utama film ini lantas menulis novel yang menerangkan suka-duka “budak modern” itu secara blak-blakan tapi dengan nama tokoh dan lokasi yang disamarkan. Buku tersebut laku keras dan tentu saja para majikan kejam jadi malu sendiri. Sukurin hihihi.

Menakjubkan memang bagaimana film bertema berat seperti ini bisa menjadi tontonan ringan yang menghibur, menyentuh, dan begitu menginspirasi semua orang tanpa kehilangan pesan mulia yang hendak disampaikan.

My favorite scene: Saat salah satu pembantu, Minny, datang membawakan ‘pie coklat’ buat mantan majikan yang telah memecatnya.

“eat my shit!”

 

 

 

3. FLYPAPER

Director: Rob Minkoff
Stars: Patrick Dempsey, Ashley Judd, Tim Blake Nelson, Octavia Spencer (Minny lagi, yay!)
MPAA: R
IMDB Ratings: 6.3/10
“This is not a bank robbery!”

Apa yang kira-kira akan terjadi kalo sebuah bank dirampok 2 kelompok penjahat pada saat bersamaan? Terjadi keributan ibarat trus para sandera mati menderita? Wrong. Jadinya malah kocak, at least begitulah yang terjadi di film ini. Kawanan perampok berperalatan canggih jadi kecele saat dua orang preman, red-neck style datang mencoba merampok bank yang hendak mereka gasak. And you know what, justru salah seorang sandera merekalah yang mengusulkan supaya mereka berdamai

“is he seriously suggesting that we rob the same bank?”

Keadaan makin bertambah ruwet terutama bagi para perampok saat sang sandera cerdas (meski agak lebay) mulai gak mau diatur. Dia dengan seenaknya berkeliaran dan mulai mengungkap satu-persatu misteri yang ada di balik kasus dobel-robbery yang aneh ini. Bukan hanya itu, sandera itu juga sukses mengambil alih kendali sehingga keadaan berbalik. Dan terungkaplah bahwa ini bukanlah perampokan, tapi jebakan!

This movie is absolutely fun to watch, banyak stereotype membuat ceritanya jadi makin rame, dan ditambah dengan twist yang lumayan bikin, “oohh ternyata dia…” *manggutmanggut*

My favorite scene: Saat salah satu hi-tech thief kaget ngeliat si sandera tiba-tiba datang menyapanya

 

 

 

2. REAL STEEL

Director: Shawn Levy
Stars: Wolverine, Evangeline Lily, Dakota Goyo, Karl Yune
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 7.3/10
“Win or lose, the fight’s not over until someone is on the mat.”

Dengan tema pertarungan antar-robot, Real Steel sukses dalam menjaga agar kesannya tetap real. Seting yang diambil adalah tahun 2020 di mana kala itu tinju manusia sudah gak laku lagi. Kemajuan teknologi (untungnya belum maju-maju amat, mobil masih jalan di darat) membuat orang lebih memilih menyaksikan pertarungan tinju antara robot karena lebih brutal dan tentu saja lebih seru.

Meskipun begitu, Real Steel membuktikan bahwa robot itu juga punya jiwa. Well, not literally, but I mean Real Steel punya sesuatu yang tidak dipunyai oleh film-film Transformers. Emosi. Saat karakter robot Transformers berkesan kosong (padahal mereka bisa bicara), robot-robot di Real Steel terasa begitu ‘hidup’. Pertarungan antara robot-robotnya sukses memancing emosi penonton. Gimana dengan pemain manusianya? Drama ayah-anak diceritakan dengan apik dan yang paling penting tidak klise; si anak tidak melulu ngambek dan akhirnya diculik demi menambah derita si ayah  -___-

Satu lagi film yang tepat untuk ditonton bersama keluarga!

My favorite scene: Tentu saja pas main event: Atom melawan Zeus for World Robot Boxing Championship!

Kita bersorak, terharu, marah, tertawa, bertepuk tangan, saat para robot dan pengendalinya beraksi. So, how come you not watch wrestling and say that wrestling is fake?

 

 

 

1.  SCREAM 4

Director: Wes Craven
Stars: Neve Campbell, David Arquette, Courteney Fox, Emma Roberts, Brittany Robertson (sayang matinya cepet banget – , -)
MPAA: R
IMDB Ratings: 6.4/10
“You forgot the first rule of remake, Jill; Don’t fuck with the original.”

Sebelumnya, ada satu pertanyaan buat kalian: “What’s your favorite scary movie?” 😀

Jika di jawabanmu ada Scream-nya maka kemungkinan besar you will very much like seri terbarunya ini. Tapi kalo enggak,  well masih ada kemungkinan kalian jatuh cinta pada film ini. Because this movie has it all; Comedy, drama, twist, cewek unyu, and blood.

Sidney Prescott kembali ke kampung halaman yang penuh sejarah kelam buat dirinya. Sayangnya, bukan hanya teman-teman lama yang menyambut kepulangan Sidney ke Woodsboro. Musuh lamanya, Ghostface, juga turut muncul kembali meneror Woodsboro sebagai ucapan “welcome home” kepada Sidney. Siapa lagi kah yang masih tega mengganggu hidup Sidney?

Wes Cavern menghidupkan kembali franchise kesayangannya ini, lengkap dengan humor-humor satir khas seri Scream. Nyepet-nyepet genre horror lain seperti Saw  (dikatain ‘torture porn’ hahaha) dan film lain yang berbuntut angka di belakangnya (termasuk Scream sendiri hehe), nyelip-nyelipin istilah Twitter dan Facebook biar gaul, dan tetap menyertai trivia horror movies yang selalu gue jawab tapi adaa ajaa yang salah 😀

Dan sebagai bonus buat penggemar Scream, di seri keempat ini banyak diselipin adegan yang sengaja dibikin menyerupai adegan di seri Scream sebelumnya. Beberapa adegan dari Scream-Scream lama yang direka ulang di Scream 4 itu adalah:

1. Pembunuhan cewek pirang di garasi mengingatkan pada salah satu pembunuhan di Scream 2 yang juga terjadi di garasi.

2. Kirby menjawab film horor favoritnya adalah film Bamby. Ini mirip dengan Randy yang menjawab Showgirls saat ditanya pertanyaan yang sama di Scream pertama.

3. Adegan Jill dan Trevor di kamar, di mana si Trevor masuk dari jendela dibikin persis kayak di Scream; Sidney kaget saat pacarnya, Billy masuk lewat jendela kamarnya.

4. Deleted scene Scream 4 dibuat mirip dengan fountain scene di Scream original

Atas: Scre4m. Bawah: Scream

5. Charlie yang terikat di kursi sama kayak adegan opening Scream yang si Drew Barrymore ngeliat pacarnya lagi keiket di kursi di halaman

6. Trevor diikat dan diumpetin di dalam lemari, begitu juga dengan ayah Sidney pada film pertama. Bahkan pakaian keduanya pun sama.

7. Dilihat dari kesamaan sifat dan peran, karakter-karakter Scream 4 bisa dibilang merupakan kembaran dari karakter di Scream; Jill —> Sidney (tokoh utama), Kirby —> Tatum (sahabat tokoh utama), Trevor —> Billy (pacar tokoh utama), Robbie —> Randy (horor freak), dan Charlie —> Stu (sidekick tokoh jahat)

My favorite scene: Yang paling berkesan itu adalah saat Jill ketauan ‘gila’nya

Nih adegan saya ulang berkali-kali sampe-sampe dialognya jadi apal  di luar kepala 😀

Do you know what it was like growing up in this family, related to you?! I mean, all I ever heard was ‘Sidney this, and Sidney that, Sidney, Sidney, Sidney’. You were always so fucking special!!” unyuuuu :lope:


 

That’s all we have for today.

Because in life, there are WINNERs and there are…

We have nothing against the other vampires. They are cool enough. Except for the sparkling things.

Now go, feel the power of wisdom!

Advertisements