Tags

, , , , , ,

Look around. What differences do you see?”

 

15 Juli 2012 kemaren adalah hari yang spesial. Karena hari itu saya berulang tahun. Dan karena hari itu juga saya mendapat hadiah berupa kesempatan menonton duluan film paling fresh se-Indonesia ini.

dooo kok bisa? Lain kali akan saya ceritakan hehehe 😀

Hari itu bukan hanya bersejarah buat saya yang baru pertama kali nonton premiere film. Bagi sang sutradara, Erwin Arnada pun bersejarah karena ini adalah film pertamanya. Hari itu pun pasti akan diingat terus sama sebagian besar cast-nya, karena ini adalah debut pertama mereka bermain di layar lebar.

Gimana, penasaran kan ama film ini? Ha, enggak?! Lanjut baca, deh kalo gitu..

 

Toleransi adalah kata kunci film ini. Rumah di Seribu Ombak bercerita tentang kisah persahabatan dua anak di kampung Singaraja, Bali. Samihi dan Wayan Manik. Dua pribadi yang begitu berbeda.  Ya beda agama, beda sifat, beda hobi, beda nasib, dan beda orangtua (ya iyalah -__-).  Persahabatan mereka membuktikan bahwa perbedaan bukan jurang pemisah, bukanlah sebuah alasan untuk bercerai berai.

Kisah mengharukan ini diceritakan oleh Mihi (panggilan Samihi). Mihi yang kembali ke Singajara, memandang Laut Lovina dengan penuh kerinduan. Dia mengenang sahabat lamanya, Yanik (panggilan Wayan Manik). Seorang sosok yang dianggap sebagai seorang ‘big brother’ yang selalu menjaganya. Seorang yang berperan sangat besar dalam mengubah hidup Samihi dan keluarganya. Karena Yanik lah, Mihi bisa menjadi peselancar hebat seperti sekarang ini.

Semasa kecil, Mihi berkenalan dengan Yanik yang datang menolong saat Mihi lagi di-bully anak-anak lain. Mihi ini dulunya memang tergolong anak yang cengeng. Lantaran dilarang oleh ayahnya, Mihi jadi takut air, dia gak bisa berenang, demennya baca buku-buku kumpulan puisi, kerjaannya sembayang-mengaji, persis kayak si Doel Anak Sekolahan. Kontras sekali dengan Yanik yang bisa dibilang sosok anak pantai sejati. Mandiri, berani, suka ngirim surat ke dewa-dewa, jago renang, impiannya berenang bebas bersama lumba-lumba di lautan sana.

Semenjak perkenalan itu, Mihi dan Yanik jadi akrab. Mereka sering main bersama dan saling membantu. Mihi membantu Yanik mencari uang agar Yanik bisa bersekolah kembali. Yanik membantu mencarikan seorang guru vokal buat Mihi yang mau ikutan lomba Qira’ah. Konflik dimulai ketika Yanik menceritakan rahasia kelamnya kepada Mihi, alasan mengapa dia ketakutan setiap kali bertemu dengan seorang bule yang bernama Andrew. Yanik yang selama ini cukup secretive, akhirnya membeberkan semuanya ke Samihi, berharap sobatnya itu bisa menjaga rahasia. Namun, rahasia itu justru diumbar ke seluruh kampung oleh Mihi sendiri. Padahal Mihi hanya berniat untuk menolong. Keadaan tidak menjadi lebih baik saat Bali diguncang oleh terror bom. Ayah Yanik jadi salah satu korbannya. Setelah memberikan dukungan terakhir kali buat Samihi, Yanik yang hobi nulis surat ini pun menghilang dari kampung mereka… Nanti setelah dewasa, Yanik kembali lagi ke kampungnya dan menjalin cerita dengan adik Samihi, Syamimi. Tapi kembalinya Yanik itu juga tidak untuk waktu yang lama…

Nah, karena muncul dalam 2 versi- versi kecil dan versi dewasa- inilah, maka tokoh-tokoh film ini rame sekali. Casts-nya tergolong baru main film tapi sudah cukup lumayan, bisa mengimbangi aktor kawakan sekelas Lukman Sardi yang memerankan tokoh ayah Samihi. Tapi ada satu kata-kata ayah Samihi dan Syamimi ini yang aneh; “Semoga Allah semua mengampuni kesalahan kita.” Bukankah dalam Islam Allah itu cuma satu? Mestinya bisa di-edit loh ini hehehe

Ending-nya juga cukup aneh. Samihi menatap laut dan berkata, “Aku yakin Yanik masih menungguku di sana” dan sejurus kemudian dia masuk ke air bersama papan seluncurnya. Apa Mihi mau nyari Yanik ke laut? Apa Mihi mau berenang sama lumba-lumba? Atau apa Mihi ‘menyusul Yanik ke rumahnya’? Yang terjadi terhadap Syamimi juga tidak disebutkan lagi. Mungkin memang sengaja dibuat agak berbeda dengan novelnya, tapi jadinya malah enggak gantung tapi juga gak ada conclusion.

Crown jewel film Rumah di Seribu Ombak ini tidak lain tidak bukan adalah Dedey Rusma, si pemeran Yanik kecil (yang sukses tampil menghibur kemudian mengharukan di adegan berikutnya) dan pemeran Syamimi dewasa, Andania Suri. Memang gak salah kalo Suri jadi dicap sebagai The Next Dian Sastro, but I prefer called her The Next Bright Star tho 😀

Adegan favorit saya adalah adegan Imi yang nangis, mencari Yanik di laut. Kalo gak ingat udah gede dan ada keluarga Suri yang menonton di sebelah, saya pasti ikutan nangis tuh hihihi. Kerennya adegan ini nyaingin adegan nangis Shailene Woodley dalam kolam di film The Descendants.

 

Perbedaan yang paling jelas antara novel dengan film Rumah di Seribu Ombak ini adalah di storytelling-nya. Bukan masalah klise “wah, beda ama yang di buku nih”, Ombak justru sangat setia pada alur di novelnya. Masalahnya adalah di delivery. Membaca versi novelnya, saya benar-benar terbawa emosi. Banyak adegan-adegan yang terasa flat di film. Menurut saya, film ini terlalu fokus ke cinematografi. Warna filmnya ngeganggu banget, kalo siang terlalu orange dan pas sendu terlalu biru. Padahal pasti lebih fun kalo warnanya cerah biasa saja. Pantai memang cantik, tapi beberapa adegan jadi kehilangan emosinya gara-gara terlalu fokus ke pemandangan. Contohnya nih, pas adegan perkenalan Yanik dan Samihi. Kerasa kurang feel karena mata pemonton dimanjakan dengan pemandangan laut yang diedit secantik mungkin, emosi ceritanya jadi ngambang. Konfliknya juga ngambang. Toleransi dan pluralisme yang jadi topik utama malah seolah mundur jadi latar belakang saja, tidak ada pengembangan. Fokus ceritanya justru ke Yanik dengan segala permasalahan kehidupannya. Itu juga gak tuntas-tuntas amat dibahasnya.

 

Film yang indah, tapi versi novelnya jauh lebih powerful. Palace of Wisdom gives 7.5 solid gold stars out of 10 for this.

 

 

 

 

 

That’s all we have for today.

Now go and feel the power of wisdom!

………you’re welcome.

Advertisements