Tags

, , , , , , , ,

“Love. Power. Death. Equals Life.”

uddrl

What’s up with this omnibous craze? Belakangan Indonesia demen banget ngeluarin film omnibus. Pada tau omnibus kan? Bukan, bukan robot yang bisa berubah jadi mobil, itu mah Optimus. Omnibus adalah istilah buat film yang nongol ramean dalam satu kemasan.  Tak jarang, film omnibus ini digunakan sebagai ajang uji coba kemampuan sutradara muda yang mungkin belum pede buat bikin film panjang. Bagusnya, kita jadi beli satu dapat banyak deh hehehe
Biasanya dalam satu judul, omnibus ini tema cerita pendeknya sama semua. Kayak film Dilema yang ada 5 cerita tentang manusia dan pilihan hidupnya atau Jakarta Hati yang ceritanya tentang permasalahan kehidupan sehari-hari warga ibukota. 3Sum ini beda. Ketiga segmen ceritanya sama sekali gak punya benang merah. 3Sum menawarkan tiga film dengan genre berbeda dan tema yang berbeda pula. Cinta, Kehidupan, dan Kematian.

 

Insomnights garapan Witra Asliga dan Andri Cung ditampilkan sebagai pembuka. Cerita thriller tentang seorang pria yang mengalami insomnia, susye bobok. Pria bernama Morty (Winky Wiryawan) ini jelas stress. Udah dicuekin pacar, gak bisa tidur pula. Malam demi malam dilewati Morty dengan gelisah. Belum lagi gangguan suara-suara dan penampakan setan yang selalu setia menemaninya setiap malam.
Jujur, ini adalah segmen yang paling lemah dari film 3Sum. Pertama, ceritanya predictable. Kedua, scare scene-nya udah lapuk dimakan jaman dan terlihat makin konyol dengan pake efek ala video hantu amatiran di Youtube. Ketiga, runtutan misteri yang diungkap kurang rapih, flashback yang seharusnya digunakan untuk membangun mood dan hasrat nebak-nebak penonton malah justru terkesan datar, seolah hanya adegan yang melompat-lompat. Faktor terakhir penyebab fail-nya film ini adalah Morty yang terlihat begitu annoying.
3sum1
Karisma Winky Wiryawan tampaknya gak cukup kuat buat maenin karakter utama sebuah psikologikal thriller yang simpatik.

 

Entah kenapa mereka menempatkan Insomnights di awal. Ini membuat penonton susah untuk mengikuti, let alone menyukai segmen cerita berikutnya. Untungnya Rawa Kucing, cerita kedua dalam film 3Sum tampil cukup kuat. In fact, Rawa Kucing adalah strongest story di film ini. Menyuguhkan drama tentang percintaan, Andri Cung kali ini bercerita tentang bagaimana Ayin (Aline Adita), seorang wanita kaya yang hobi hura-hura justru pada akhirnya jatuh cinta kepada Welly (Natalius Chendana), seorang pria miskin tuna rungu nan lugu.
Menit-menit awal Rawa Kucing terasa lebih menyeramkan dari pada keseluruhan cerita Insomnights hahaha. Welly tidak perlu bicara untuk menggambarkan dia takut, dia pengen lari. Dibandingkan dengan segmen yang lain, segmen ini memang yang paling banyak karakternya. Tapi karena ini film pendek, maka fokus pengembangan tetaplah pada kedua karakter utama, Ayin dan Welly.
3sum2
Sayangnya, plot yang diceritakan agak terlalu melebar, sehingga beberapa adegan yang melibatkan tokoh selain mereka terasa sebagai filler yang cukup mengganggu. I just got this feeling that film ini gak cocok buat sebatas film pendek. Mestinya jadi film yang berdiri sendiri. Yah, dosa Andri Cung di cerita Insomnights lumayan terhapus di segmen ini.

 

3Sum ditutup oleh Impromptu, crime-action karya William Chandra. Tentang sepasang pembela kebenaran (Dimas Argoebie dan Hannah Al Rashid) yang well, mereka membasmi kejahatan. Film ini tergolong seru tapi juga terlihat sedikit agak konyol. Dalam perjalanan mereka ke sebuah gedung untuk mengeksekusi pejabat korup, dua pasangan ini harus berurusan dengan polisi gadungan yang sudah lama merajalela. Di sinilah letak konyol nya. I can’t put a finger on them. Apakah mereka pasangan yang hebat, jagoan? Atau enggak?
3sum14
Pertarungan mereka melawan polisi gadungan di terowongan itulah penyebabnya. Di situ, jelas they are not in the life dangering situation at all. Mereka sengaja mengikuti permainan polisi gadungan. Mereka terlihat santai. Bahkan saat polisi gadungan itu got the upper hand for a while. Jadi seharusnya mereka kuat, kan? Kalo begitu mengapa mereka terlalu lama membasmi preman-preman berpakaian polisi itu? Adegan di terowongan ini seolah diulur-ulur untuk memanjangkan waktu, sayangnya justru menghasilkan kesan kalo kedua jagoan kita ini not that good. Setelah membereskan polisi gadungan, akhirnya mereka sampai di sarang target sebenarnya. Di sana mereka dengan cool nya menghabisi penjaga dan…. bereslah semua. Meski nembak kamera cctv, mereka sama sekali tidak terlihat badass bagi saya. My point is, akan lebih seru jika adegan di terowongan itu dipercepat, adegannya dibikin dramatis like, they are overcome the odds dengan cerdasnya, terus adegan di gedung itu baru deh dibanyakin. Kayak The Raid menyerbu apartemen itu.

 

I know this review is kinda harsh. Jangan salah, posisi memang menentukan prestasi. Karena jelas kesalahan terbesar 3Sum adalah menempatkan segmen yang paling lemah di awal cerita. Seharusnya mereka mencontoh WWE dalam hal penempatan posisi segmen. Kalo di WWE, match yang aksinya paling heboh akan diletakkan sebagai pembuka. Pertandingan yang terlalu gimmickal biasanya diletakkan di tengah, berfungsi sebagai cooling down for something bigger or just serve as a bathroom break. Match dengan sisi storyline terkuat akan diletakkan sebagai main event, sebagai penutup. Mencontoh formula itu, saya rasa 3Sum bisa tampil lebih maksimal dengan urutan Impromptu-Insomnights-Rawa Kucing

 

 

That’s all we have for now

Palace of Wisdom gives 6 stars out of 10 for this movie.

Because in life, there are winners and there are losers.
We’ll be the judge.

 

Now go, feel the power of wisdom!

Advertisements