Tags

, , , , ,

“This world is just a filthy horror show. There’s so much pain.”

135893703492304_300x430

Psychological Thriller adalah genre favorit saya. Makanya saya girang banget begitu tau ada film Belenggu. Seriously, Indonesia kudu memperbanyak bikin film-film sejenis gini.

 
Elang (Abimana Aryasatya) terbangun dari mimpi seram yang selama ini menghantuinya. Mimpi dia berada di dalam mobil bersama seorang wanita, sosok berkostum kelinci, dan mayat kedua tetangganya. Malang bagi Elang, dunia nyata yang seharusnya menjadi tempat melarikan diri dari mimpi buruk, justru sama buruknya dengan mimpi-mimpi yang dialaminya. Elang tinggal di sebuah kota yang lagi dicekam ketakutan. Ada seorang pembunuh yang buron dan semua orang di kota itu mulai saling tidak mempercayai satu sama lain.
Elang mulai merasa ketakutan. Dia merasa mimpi-mimpinya berkaitan dengan kasus pembunuhan tersebut. Dalam mimpinya Elang melihat Djenar (Laudya Chyntia Bella) dan anaknya, Senja dibunuh oleh pembunuh yang memakai kostum kelinci. Mengetahui hubungan Djenar dan suaminya kurang harmonis, Elang menaruh curiga kepada sang suami. Sementara di bar tempatnya bekerja, Elang melihat seorang wanita sedang bertengkar dengan pacarnya. Aneh, wanita itu mirip sekali dengan wanita yang juga hadir di dalam mimpi Elang. Elang lantas menolong wanita yang mengaku bernama Jingga (Imelda Therine) itu.
Pertemuannya dengan Jingga tidak membuat hal menjadi lebih mudah bagi Elang. Kejadian-kejadian dan pertemuan dengan orang-orang misterius kerap terjadi kepadanya. Belum lagi mimpi-mimpinya yang semakin intens. Puncaknya terjadi ketika Elang sampai di Jalan Flamboyan nomor 6. Selama ini hidup seorang diri, Elang jadi bertekad untuk membantu orang-orang yang dianggapnya sebagai teman: Djenar, Senja, dan Jingga. Tapi yang bikin Elang makin bingung adalah justru dia yang sekarang menjadi tersangka utama atas kejadian pembunuhan di kota itu.
belenggu

Sedikit demi sedikit misteri yang terjadi di kota itu dibuka dengan penceritaan yang baik. Suasana kelam dan nuansa surealis dibangun dengan bagus. Kebingungan dan ketakutan Elang dengan sukses tersampaikan. The best thing about psychological thriller kayak gini adalah bebasnya penonton untuk menebak-nebak alur cerita. Belenggu memainkan ini dengan baik, namun terasa lambat. Saya merasa beberapa langkah lebih maju mengungkap misterinya dibandingkan dengan kedua tokoh detektif di film ini. Makanya, saat detektif mengungkapkan twist pertama, jatohnya datar, karena penonton sudah menebak dengan benar duluan. Then again, mungkin ini disengaja karena setelah pengungkapan ini, cerita berubah drastis. Karakter-karakter yang telah kita kenal di paruh pertama, berubah menjadi sosok yang lain. Plotnya jungkir balik dan tau-tau kita terpana dengan terungkapnya twist kedua. Nicely done!

However, gaya penceritaan yang begini, terasa familiar buat saya… hmmm…..

 

Psychological thriller adalah genre favorit saya. I watched them too many, I found flaw on this movie. Sayang memang, Belenggu tampil kurang orisinil. Saat melihat trailer-nya saya jadi teringat ama film Mulholland Drive, Donnie Darko, dan serial American Horror Story: Asylum. Dan saat menonton filmya, well, memang terasa seperti gabungan dari ketiga film Barat tersebut.
Kostum Kelinci terlalu mengingatkan kepada tokoh Kelinci di film Donnie Darko. Seharusnya hal ini tidak begitu jadi masalah kalo saja Jingga tidak menyebutkan “…mungkin kita pernah kenal di dunia yang lain.” Referensi ‘dunia yang lain’ ini justru kembali menguatkan kemiripan Belenggu dengan Donnie Darko yang bercerita tentang parallel universe.
Belenggu-Bella

 

Nun berseragam putih, while she’s a great horror factor for this movie, turut andil mengurangi keorisinilan Belenggu. Terlihat seolah dicomot langsung dari teaser serial American Horror Story: Asylum. Tapi mungkin juga saya yang kuper karena gak tahu kalo di Jakarta lumrah adanya rumah sakit jiwa yang matronnya suster-suster seperti itu.

 
Dan terakhir, oh boy, Mulholland Drive adalah psikologikal thriller favorit saya. Menit-menit awal menonton Belenggu serasa menonton remake atau bahkan parodi dari Mulholland Drive. Terlalu banyak kesamaan. Sekuens di babak-babak awal, kehadiran pria bertopi koboi, simbolisasi warna putih dan merah, papan nama jalan, interaksi dengan pelayan kafe, scene di teater (kalo di Belenggu, bilangnya “Let me go!” instead of “Silencio!”) semuanya mirip!  Belakangan saya tahu, Belenggu mengaku terinspirasi dari Twin Peaks, serial thriller besutan David Lynch, director film Mulholland Drive. Pantesan aura-aura filmnya mirip.

 

Semua kemiripan tersebut mengganggu saya. Karakter-karakter seperti koboi, kelinci, bahkan suster-suster itu tidak memiliki fungsi signifikan, hanya atribut yang seharusnya bisa diganti menjadi lebih Indonesia, seperti sinden keroncong yang dipake alih-alih seriosa. Gimana bisa nonton dengan nikmat kalo jadi teringat akan film lain? Kayak orang lagi pacaran tapi tiba-tiba pacarnya bikin jadi ingat mantan. Sebagai sebuah thriller, Belenggu memang cukup mengejutkan dengan scare scene yang lumayan segar. Tapi twist dua lapis film ini tidak cukup kuat buat melupakan kenyataan bahwa Belenggu telah kehilangan originalitasnya.

 

Palace of Wisdom gives 7.5 stars out of 10 for this movie.

Because in life, there are winners and there are losers.

We be the judge.

 

 

That’s all we have for now

Feel the power of wisdom!

Advertisements