Tags

, , , , , , ,

“Seeing is believing….”

V-H-S-2_Poster_4_23_13

Sebagai penggemar film horror, tak ada yang lebih membahagiakan selain nonton film yang banyak setannya, banyak darahnya, dan banyak jeritannya. Mangkanya saya girang sekali kalo nemuin film horror omnibus kayak gini, berasa dapet lotere, beli satu dapat dua! Hehehe..

Saya sering ditanyain sama temen, apa sih enaknya nonton film serem? Betah banget nontonin setan? Kok mau-maunya bayar buat ditakut-takutin? Well, simpel aja sih, kapan lagi coba kita bisa melihat setan, adegan bunuh-bunuhan, dan hal-hal horor lain kalo bukan di film. We can experience something yang di dunia nyata gak bakal kita temuin. Secara teori juga dibilang, saat kita takut tubuh akan mengeluarkan adrenalin, inilah mungkin yang menyebabkan ketagihan ditakut-takutin hehehe. Dan lagi, nonton horror itu ada hikmahnya loh; dengan nonton film horror kita bisa tau kalau dunia nyata tidaklah lebih mengerikan dari dunia yang baru saja kita tonton, so kita bisa jadi lebih berani. Saya justru heran sama orang yang senang nonton film sedih. Soalnya, saya bahkan tidak mengerti bagaimana kata senang dan sedih bisa ada di dalam satu kalimat seperti itu…

Oiya, kalo mau nonton horror, lupakanlah aspek-aspek seperti plot, penggalian karakter, dan sebagainya. Karena untuk film jenis begini, makin gak masuk akal justru makin asik. Just relax and enjoy the scenes!

http-__d1oi7t5trwfj5d.cloudfront.net_8b_372de0602211e29dc322000a1d0930_file_000014.17045.VHS2_still1_KelsyAbbot__bySimonBarrett_2012-11-23_07-55-00AM

Nah, di film V/H/S 2 ini kita disuguhin lima cerita serem. Sama seperti V/H/S pertama, tema film ini adalah penonton diajak ngeliat rekaman-rekaman video yang isinya jelas saja bukan konsumsi orang yang jantungan. Karena ini dari video, maka sebagian besar kisah akan diceritakan secara first person view, udah kebayang belum betapa serunya film ini?

Sebagai cerita utama (berjudul Tape 49), kita bakal mengikuti sepasang detektif yang sedang menyelidiki hilangnya seorang mahasiswa. Penyelidikan membawa kedua detektif ini langsung ke kosan sang mahasiswa, yang malam itu tampak kosong. Sebagai detektif, Larry dan Ayesha tentu saja tak kenal takut. Mereka memasuki rumah kosong itu demi mencari beberapa petunjuk, sukursukur bisa langsung nemuin tuh mahasiswa. Di dalam ternyata kosong (duh!), tapi mereka menemukan kaset-kaset video, laptop, dan sejumlah televisi. Berpencar, Larry dan Ayesha lanjut menyelidiki seisi rumah. Tapi Ayesha yang penasaran, menonton satu persatu kaset video yang ditemukannya.

<ceklek, whuuuurrrr>

Video pertama yang diputar Ayesha berjudul Phase 1 Clinical Trial. Tentang seorang pria yang habis operasi mata, matanya sekarang mata robot yang, dengan tujuan untuk pengembangan lebih lanjut, bisa merekam apa saja yang dilihat olehnya. Seems cool, sampai si pria itu mulai melihat makhluk-makhluk asing, makhluk-makhluk yang berbeda alam dengan manusia. Segmen cerita ini menurut saya adalah yang paling lemah karena; pertama jelas, idenya enggak orisinil (The Eye, anyone?). Kedua, cerita ini terlalu mengandalkan jump scare buat nakut-nakutin penonton. Tau gak jump scare? Gini nih… Oh ada bunyi di jendela, kamera ngeliat ke luar jendela, lamaaaa… kamera lalu berbalik dan BAAAAA!!! vhs22

“Tiba-tiba hantu ada di b’lakangku~”.

Padahal kaget itu beda loh dengan takut. Dan yang terakhir, yah merasa aneh aja. Masak iya mata bionic-nya bisa sekalian ngerekam suara? Dan lagi, alih-alih matanya dihancurkan biar gak ngeliat setan lagi, bukannya lebih gampang dipakein penutup aja kayak bajak laut? See, cerita pertama ini terlalu dibuat-buat menurut saya.

Ayesha mulai merinding sehabis nonton video ini. Tapi karena masih penasaran, ditontonlah kaset yang kedua. Kali ini judulnya A Ride in the Park. Seorang pria yang hendak bersepeda di taman, memasang kamera di helmnya. Mungkin buat bukti ke ceweknya kalo dia beneran main sepeda, gak pake acara ngelaba. Setelah telfonan bentar ama sang pacar, mulailah cowok ini bersepeda. Seujug-ujug, dia bertemu dengan cewek yang terluka parah. Unaware kalo cewek itu abis digigit zombie, si cowok berusaha menolong. Dengan bertema zombie, segmen cerita ini adalah memang yang paling menarik. Jadi ntar si cowok itu kena gigit zombie juga, dan lantas dia berubah pula menjadi zombie. Kita menonton dari sudut pandang zombie sekarang, seolah-olah kitalah zombienya. vhs2-review-3

Menarik melhat si cowok ‘belajar’ bagaimana menjadi zombie (first rule: your own body is not tasty!), trus dia bersama rekan-rekan zombienya menyerbu sebuah pesta ulangtaun. Ending-nya cukup menggugah, di mana si cowok menemukan kembali kesadaran manusiawinya.

Sampai di sini, si Ayesha mimisan. Migrainnya kumat. Larry pun cabut buat beliin obat di apotik terdekat. Sambil nungguin Larry, Ayesha nonton satu kaset lagi.

Loh, kok bahasa Indonesia? Saya juga kaget karena baru “ngeh” kalo segmen ketiga yang berjudul Safe Haven ini memang buatan Gareth Evans dan Timo Tjahjanto. Yang jadi pemainnya adalah Oka Antara, Fachry Albar, Hanna Al Rashid, dan Epy Kusnandar. Dari kaget berubah menjadi “WOW!” berubah menjadi bangga. Safe Haven adalah segmen terkuat di seantero V/H/S 2. Waktu 40 menit berhasil terpakai maksimal buat pendalaman karakter, akting, plot twist, bloodfest, and stuff. Ceritanya tentang kru televisi yang ingin mewawancarai seorang pemimpin sekte sesat di kediamannya. Penggambaran sekte nya bener-bener sukses bikin disturbing, Epy Kusnandar nya juga alami banget meranin sang Ayah, ketua sekte. svhs2

Setelah fase perkenalan dengan alur mengalun lambat, memberikan waktu buat karakter tokoh-tokohnya tumbuh, then all hell break loose! “Waktunya sudah tiba” kata si Ayah. Dan kru-kru televisi itu terjebak dalam kegilaan. Semua jemaat sektenya bunuh diri! Tidak hanya sampai di sana, menit-menit berikutnya jauh lebih gila lagi. Muncul makhluk-makhluk aneh, orang-orang yang mati bangkit kembali menjadi zombie, even the Devil himself ikutan unjuk gigi di cerita ini!! Komplit, deh.

Larry yang pulang beli obat kaget karena Ayesha pingsan. Karena sakitnya udah parah? Atau karena ketakutan? Larry ikutan penasaran, dia menonton kaset video yang lain

Setelah euphoria film ketiga tadi, sulit rasanya mengikuti segmen terakhir yang berjudul Slumber Party Alien Abduction ini. Apalagi kamera di cerita ini (kali ini ditempelin di seekor anjing) terlalu goyang-goyang. Unik sih, tapi ceritanya tergolong standar. Sekelompok anak-anak yang lagi jaga rumah tiba-tiba diserang oleh Alien.

images

Satu per satu mereka diculik. Kurang dari segi gambar, tapi cerita ini lumayan di suara. Dialog nya khas humor anak abege amerike (kenape ane jadi betawi??), plus efek datangnya para alien cukup keren. Adegan kejar-kejarannya lumayan chaos, bayangin aja suara ledakan, raungan jeritan, ampe gonggongan numplek jadi satu. But it was kinda cool.

Kasian Larry, kebagian nonton kaset yang biasa aja hahaha. Setelah nonton inilah, Larry lalu sadar kalo mereka gak sendirian di rumah itu. Dari video yang nampang di laptop, Larry tau kalo mahasiswa yang mereka cari masih ada di dalam rumah. Dan mulailah klimaks kisah Larry dan Ayesha, yang menurut saya gagal dalam misinya menakut-nakuti penonton. Shock factor yang disuguhkan buat penutup film pun terasa jatoh flat. Sepertinya memang segmen Safe Haven sukses berat sehingga sisanya jadi seolah kehilangan spot. Yah, buat fun factor-nya kami memberi 6 bintang, but thanks for that Safe Haven, Palace of Wisdom gives round 8 gold stars out of ten for this movie.

That’s all we have for this time.

Remember, in life there are winners and there are losers
We be the judge

Now go, feel the power of wisdom!

Advertisements