Tags

, , , , ,

“The most damaged people are the wisest.”

inbbdex

Waktu masih SMA dulu, saya pernah dikasih tugas bikin resensi novel, salah satu pilihannya adalah novel karangan Buya Hamka ini. Too bad I didn’t pick that.  Sampe sekarang saya belum nemu kesempatan lagi buat baca novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Tapi saya tak perlu repot mencari lagi, karena Soraya Intercine Films telah mengangkat cerita klasik ini ke layar lebar!
tkdw-reza-e1370771666791
Film ini sekilas mengingatkan kepada film The Great Gatsby dan yah, you guessed it.. Titanic. Dihikayatkan ada seorang pemuda bugis bernama Zainuddin (Herjunot Ali) yang pulang ke kampung halaman ayahnya di Sumatera Barat. Di kampung itu, Zainuddin bermaksud belajar ilmu agama dan kebudayaan daerah asalnya. Zainuddin bertemu Hayati (Pevita Pearce) dan lantas jatuh hati. Gayung bersambut, Hayati membalas panggilan hatinya. Sayang, adat istiadat suku minang yang keras melarang Hayati dan Zainuddin untuk bersatu. Zainuddin tidak jelas adatnya, sedangkan Hayati berasal dari keluarga terpandang. Zainuddin pun diusir dari kampung. Pada detik-detik terakhir saat hendak berpisah, Hayati mengikrarkan janji akan setia menunggu Zainuddin kembali kepadanya.
Manusia yang berjanji, Tuhan yang ngasih cobaan. That’s just how the world works. Hayati dilamar oleh kakak sahabatnya, Aziz (Reza Rahardian), seorang pemuda asli minang yang kaya raya. Seluruh keluarga mendesak Hayati untuk segera menerima lamaran Aziz ini. Hayati manut. Dilayangkannya sepucuk surat kepada Zainuddin, Hayati telah memilih. Dan hancurlah hati Zainuddin.
Zainuddin kehilangan semangat hidup. Berbulan-bulan dia tidak beranjak dari pembaringannya. Setelah disadarkan oleh Bang Muluk, sepupunya, barulah Zainuddin bangkit dari kesedihan. Mereka pindah ke Batavia. Zainuddin menuangkan kisah cintanya ke dalam sebuah buku, yang kemudian sukses berat dan menjadikannya sebagai sosok sastrawan termahsyur di Indonesia. Novel karangan Zainuddin inilah yang bakal menghantarkan cinta matinya kembali kepada Zainuddin. Cinta matinya yang ikut tenggelam bersama kapal Van Der Wijck.
7-jakpress 2

 

 

Teknis pengambilan gambar film ini boleh diacungi jempol. Paruh pertama filmnya menggunakan tone warna biru, menggambarkan suasana hati karakternya yang penuh kegalauan. Terus di pertengahan warnanya berubah kuning, seiring dengan karakter cerita yang mulai beranjak makmur.  Setting tahun 1930an nya cukup tergambar dengan baik (Batavia nya keliatan kereeennn), meski ada beberapa hal yang terlalu modern buat ukuran tahun segitu. Bak mandi Hayati, jenis tenda pacuan kuda, dan musik di pesta rumahnya Zainuddin misalnya. None of them were exists in the 30’s.
Adegan kuncinya, yg kapal tenggelam itu, saya kira bakal megah mengingat katanya budget dan waktu menggarap cerita ini gak tanggung-tanggung. Ternyata jatuhnya kayak cheap version dari Titanic. Jauh banget dari yang saya bayangkan. Enggak epic. Dan Pevita, well, I think Hayati is too big for her. Performa Pevita adalah yang paling lemah di film ini. Reza Rahardian tampil bagus, begitu juga dengan Herjunot meski kadang tampil terlalu komikal. Awalnya tertarik pengin lihat Pevita berbahasa minang, eh ternyata she can’t even pronounceniniak mamakright. Adegan monolog Pevita yang membaca surat-surat terdengar kaku, bahasa yang sangat sastra itu bagai keluar dari seorang murid SMP yg lagi baca puisi.
Durasi film yang panjang diisi dengan teknik penceritaan yang normal-normal saja, sepertinya ini juga yang menyebabkan ending film ini kurang nendang. Saya lihat banyak penonton yang mulai sibuk dengan hape mereka begitu cerita mulai masuk di babak pertengahan. Sedangkan saya menonton film ini dengan tangan siap menutup telinga. Seriously, lagu background “Sumpah matiku..” Nidji itu overused sekali. Jadinya annoying. Kalo setiap lagu itu terdengar kepala kamu digetok pake buku (sori, bukan bermaksud sadis hhihi), maka saat habis film ini niscaya kepala kamu bakal benjol. Setiap ada momen sedih, pasti lagunya terdengar. I mean, come on, ceritanya udah klise, eee malah ditambah monoton lagi dengan lagu yg itu-itu melulu.

 

 

 

OK, that’s all we have for this time.

Umm.. do not get me wrong, dari sisi cerita, dongeng Zainuddin dan Hayati  ini termasuk sempurna, sayang presentasi penceritaannya yang standar membuatnya menjadi nothing special. So, Palace of Wisdom gives a rather 7 out of 10 gold stars for this movie.

Remember, in life there are winners and there are losers

We be the judge.

 

 

 

Now go, feel the power of wisdom!

 

Advertisements