Tags

, , , , ,

“To realize that all your life; all your love, all your hate, all your memory, all your pain–it was all the same thing. It was all the same dream. A dream about being a person…  And like a lot of dreams, there is a monster at the end of it.”

 

 

395px-Killers_poster_2014

Pas banget film ini tayang beberapa hari menjelang valentine. Loh kok pas, ini kan film thriller, di mana nyambungnya? Coba aja bawa gebetanmu nonton Killers di bioskop, dijamin kamu bakal dapat pelukan-pelukan unyu sebelum akhirnya doi mu ngajak keluar atau pingsan karena gak kuat liat adegan-adegan bloody di film ini. Hahaha.

Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel yang sebelumnya udah terkenal lewat Rumah Dara dan segmen Safe Haven di V/H/S 2, kali ini berkolaborasi dengan writer dari negara Jepang (alias The Land of The Weird Sh*t) Takuji Ushiyama. Dan lahirlah Killers, sebuah psikologikal thriller, genre yang jaraaangg banget hadir di bioskop film Indonesia, yang sukses menggabungkan gross-nya Jepang dengan emosi khas Indonesia.

 

Nomura Shuhei (diperankan dengan sangat meyakinkan oleh Kazuki Kitamura) adalah seorang Jepang yang kece, lagi kaya tapi punya hobi yang enggak banget: bunuhin cewek, merekam, dan meng-upload-nya ke internet! Yeah, because that is just about a normal thing to do in 2014, share your victims’ precious sakaratul maut moments to the world! Videonya ini ditonton oleh seorang jurnalis di Indonesia, Bayu Aditya (kudos buat Oka Antara meranin a very disturbed man, bikin penonton enggak nyaman udah nge-cheer dia di awal).  Kata orang, nonton tv mengajarkan kekerasan. Well, nonton video aplodan si Shuhei mengajarkan sesuatu kepada Bayu. Bayu mulai merasakan ‘this feeling’ di hatinya setelah  baru saja selamat dari dua orang perampok dengan cara membunuh perampok-perampok itu. Perasaan senang. Tapi apa iya yang dirasakannya ini memang the joy of killing, ato cuma perasaan lega karena selamat dari maut? Bayu pun meng-upload korbannya ke internet, dan Shuhei membalas! Merasa bertemu seorang yang sama ‘sehat’nya dengan dirinya, Shuhei  membimbing Bayu untuk mengikuti jejaknya. Kedua orang ini mulai kirim-kiriman video pembunuhan (duh, romantisnyaaaa~~), meski sebenarnya alasan mereka di balik semua itu berbeda.

KILLERS

 

Film ini dengan lihai membawa kita bolak-balik Jakarta-Tokyo, untuk melihat lebih dalam siapa kedua orang itu. Shuhei yang membunuh cewek-cewek jalanan dan Bayu yang membunuh orang-orang penting. Motivasi mereka memang berbeda. Begitulah hidup, semua yang kita alami, rasa cinta, benci, kenangan, sakit, sebenarnya itu semua terjadi karena mimpi. Konsekuensi dari angan-angan kita untuk menjadi seorang manusia sempurna. Dan layaknya seperti sebagian besar mimpi, selalu ada monster di akhir cerita. Monster itulah yang harus dikalahkan untuk bisa mencapai kesempurnaan yang didambakan. Secara simbolik, monster ini adalah rintangan terbesar yang pasti dihadapi semua orang dalam hidupnya. Bayu mendambakan keluarganya harmonis, but keluarganya kinda crumbled down sejak Bayu gagal mengekspos seorang koruptor. Dharma (the-ever sinister Ray Sahetapy), si koruptor adalah simbol kegagalan bagi Bayu, monster yang harus dikalahkannya. Kalo si Shuhei? Well, cowok yang rada narsis ini (c’monHello, my number one fan” !?) di matanya dunia yang sempurna adalah dunia bersama sang kakak. Dalam usahanya mencapai itu, tak sadar dia sudah menjadi monster bagi dirinya sendiri, musuh yang justru harus dia hadapi. Itu juga yang terjadi kepada Bayu. Bayangkan betapa bingungnya pria ini begitu mendapati akibat aksinya keadaan justru semakin sulit. lni adalah cerita  tentang manusia yang gagal mencapai ‘kesempurnaan’ karena mencari di tempat yang salah. Ya, ‘monster’ itu, tak jarang adalah diri kita sendiri.

 

Ada dua hal yang agak kurang sreg buat saya, pertama scene sebelum ending, kurang suka dengan gaya ‘everybody comes out silih berganti’, jadinya kayak ending film2 mafia yang biasa aja ato malah kayak promo WWE yang superstar-nya satu persatu muncul seperti diatur. Kedua, karakternya si Luna Maya. Datang-senyum-ngamuk, gitu aja, annoying. I failed untuk bersimpati kepadanya. Overall, filmnya sangat keren, memuaskan dahaga penggemar thriller seperti saya. Bener-bener pantes dapet special screening di Sundance tahun ini. Dan memang Killers ini bukan buat konsumsi semua orang. Adegan pembunuhannya yang sadis dan being a psychological thriller tentu bisa membuat yang nonton merasa tak nyaman. Di studio pas saya nonton aja, ada dua orang yang keluar dan gak balik-balik sampai filmnya selesai. Tapi itu semata membuktikan betapa suksesnya Killers bercerita. Oh iya, dianjurkan sehabis nonton ini jangan main Flappy Bird dulu, takutnya ntar kamu ikutan nge-upload video di ‘YouareapsychoTube hihihi

 

 

Ok, that’s all we have for now.

Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for this movie, really dark-twisted in a different way, with eleven on-screen deaths! Cool!!

Before you go, remember
In life there are winners and there are losers

 

We be the judge.

Advertisements