Tags

, , , , , , ,

“Love will find a way.”

Hijabers In Love v2014

Normally, I wouldn’t care sama film cinta-cintaan remaja. Tapi berhubung yang main di sini adalah Gadis Sampul favorit saya dan saya tahu ama produsernya, so I gotta watch this one.
But then again, meskipun kenal, I won’t pull any punches.

 

Begini-begini, dulunya saya anak pesantren loh! Bahkan sempat jadi anggota rohis di SMP. Yah, meski cuma anak pesantren dan rohis kapiran, saya tahu kalo di mata anak-anak lain, kelompok agamis semacam mereka ini dianggap paling jauh sama yang namanya keren. Paling susye diajak gaul. Film Hijabers in Love mematahkan semua pakem itu. HIL menunjukkan bahwa kamu bisa menjadi seorang yang gak malu tampil taat beragama, seorang yang memakai jilbab, bahkan menjadi seorang ustadz, dan sekaligus menjadi seorang yang cool! Kayak Annisa yang berjilbab tapi jagoan main basket, Pak Ustadz yang tahu betul musik-musik, dan ketua Rohis yang… pacaran?

Ya, pacaran adalah konsep anak muda yang sama sekali tidak tersentuh oleh kalangan hijabers dan rohis. Let’s face it, Islam toh memang melarang pacaran sebelum nikah. Hal inilah yang menjadi tema di film Hijabers in Love. Tentang bagaimana posisi seorang hijaber di dalam cinta. Jatuh cinta boleh, tapi pacaran? belum tentuuu. Annisa (sukses berat on her first lead-role, congrats Andania Suri!) yang cerminan kebanyakan remaja cewek; polos, agak-agak ignorant, tapi ngegemesin, lagi naksir berat sama ketua rohis di sekolahnya! Bersama sobat kentalnya, Jelita (diperankan dengan manis sekali oleh Vebby Palwinta), Annisa pun ikutan masuk rohis dan ekskul musik. Jelas, biar bisa deket terus sama Kak Nanda yang ketua rohis itu (Shawn Adrian Khulafa, yang kayaknya udah diset buat jadi idola baru remaja). Annisa steps up her game dengan memutuskan untuk mulai memakai jilbab. Maklum deh, cewek biasanya memang suka nekat begini, apalagi kalo lagi pertama kali ngerasain jatuh cinta. Kontras sekali dengan Jelita, yang diam-diam juga naksir Ananda tapi lebih memilih untuk menuliskan perasaan sukanya ke dalam puisi. Masalah muncul ketika salah satu tulisan Jelita terbaca oleh Annisa.

hijabers-inlove

Konflik di film ini bukan hanya antara Annisa-Jelita. Dan sama sekali gak pake adegan jeles-jelesan murahan, “huh, itu kan cowok gue, gue akan balas dendam!” ala ftv. Hijabers in Love membahas konflik ketiga karakter utama dengan pendekatan from within, almost psychological. Masing-masing mengalami konflik yang cukup untuk membuat karakter mereka berkembang dan terlihat tidak one-dimensional. Ah, masalah hati memang pelik. Well, kayaknya memang masa remaja itu adalah masa paling ngebingungin sepanjang usia, dan anak-anak remaja ini, we knew that sometimes they hold so much in their little hands. Terlalu banyak tekanan, pertimbangan, yang seyogya nya harus dihadapi dengan penuh cinta dan keikhlasan. Seperti Jelita, Ananda, dan Annisa yang perlahan belajar bahwa jika segala sesuatu sudah diikhlaskan karena Allah, maka cinta itu akan menemukan jalannya. Lihat sendiri bagaimana Annisa yang semula berhijab karena cinta malah akhirnya menjadi cinta dalam berhijab.

 

Jadi film ini moderately bagus, aktingnya lancar but nothing too memorable except one, menyenangkan untuk ditonton (meski di pertengahan kedua agak boring karena terasa slow), apalagi banyak cameo dan penampilan khusus yang mencuri perhatian. Ada Miing Bagito yang merupakan penampilan pertamanya setelah hengkang dari DPR, Bapak walikota Bandung Ridwan Kamil, Rizky Hanggono, juga ada hint buat next film rumah produksi ini; “Jatuh Dari Surga”, ada produsernya juga, dan tak ketinggalan wajah saya sendiri sempat mejeng sekelebat di atas Bandros hhehe. Eh, pada gak tau Bandros? Itu loh bis tingkat classy yang bakal jadi kebanggaan kota Bandung.
Dan Suri, waah tampilnya brilian sekali. Di Rumah di Seribu Ombak lalu, doi dapet adegan keren; nangis di tengah laut. Di Hijabers in Love ini gak tanggung-tanggung, ada kali Suri beradegan nangis 5 kali, and she killed them all. Semuanya luar biasa! I admit it kalo belum baca novelnya, mungkin mata saya udah berair juga nontonin adegan-adegan yg bikin penonton di sebelah saya sesenggukan itu. But I did read the book, so I sort of knew it was coming. Satu scene lagi yang bikin saya terkesan adalah adegan Jelita nyanyi “Bila nanananananana nananana…puisi tentangnyaaaa~”. Itu cukup bikin merinding dan sampe sekarang lagunya masih terngiang-ngiang, well done!
Secara garis besar sih, film ini udah pas buat kategori pasarnya. Karakter-karakter utamanya kerasa sangat dekat dengan sosok remaja masa kini, apalagi Annisa. Filmnya sendiri juga remaja banget dengan nampilin istilah-istilah dan gadget masa kini. It is a nice touch nampilin adegan ngobrol via whatsapp. Meskipun mungkin ada beberapa penonton yang bakal bersikap kayak Bart Simpson gini
20140501_085146 (2) - Copy

 

Dorongan untuk menutup muka pake baju kayak Bart di atas juga sempat terjadi kepada saya saat nonton ini. Banyak adegan cheesy dan kehadiran karakter yang terlalu komikal, kayak karakter Satpam, karakter Marlon yg entah kenapa digambarkan suka ngupil, dan.. fart joke. Dut! Really? A fart joke??! Apa faedahnya adegan itu? It’s degrading the whole movie!!
Meski bukan film religi, tapi dengan banyaknya dakwah sisipan di film ini, I think it is the best for this movie to stay away from bathroom jokes dan semacamnya.
Surely, buat comedic relief sebenarnya masih bisa nampilin yang lain. Mas Miing, misalnya, tambah lagi aja porsinya. He still got it! Hihihi… Atau simply diisi dengan dan interaksi Annisa dengan Jelita atau dengan teman-teman lain di sekolah.

 

 
Singkat kata, I’m just glad film ini enggak berakhir menjadi semacam AADC versi berjilbab.

 

 

OK, that’s all we have for now.
Berhasil niup angin seger di antara film-film CGI blockbuster, Palace of Wisdom gives this movie 7 solid gold stars out of 10.

 

 

 

 
Before you go, remember
In life, there are winners and there are losers.

We be the judge.

Advertisements