Tags

, , , , , , , , ,

“Change happens. Whether we like it or not..”

4fb6e87ba96437474fb1f7198c20d5bf516dd2d0

 

Setiap hari kita bangun dari tidur, mandi, tidak lupa menggosok gigi, terus pergi melaksanakan tugas masing-masing. Anak-anak berangkat ke sekolah, yang gedean dikit melangkah ke kampus (sempet mampir main game online dikit, sih), dan yang udah gedean banyak berjalan ke arah tempat mereka bekerja. Roda-roda kehidupan berjalan dengan normal. Semua pada jalur masing-masing. Semua ada aturan mainnya.

The Maze Runner yang diangkat dari novel young adult karangan James Dashner mencoba menceritakan bagaimana jadinya kalo tatanan dunia yang sempurna itu dilanggar. Dalam dunia dystopia ciptaan James ini, sekelompok pria berhasil bertahan hidup di dataran hijau di tengah-tengah sebuah labirin raksasa. Mereka bahkan telah sukses membangun semacam kota, sesuai letaknya they called it Glade, lengkap dengan aturan-aturan yang tentunya dibutuhkan untuk menjaga balance di dalam komunitas kecil tersebut. Tidak ada yang tahu mengapa mereka ditempatkan di sana. Semua orang yang dikirim ke sana sudah dihapus terlebih dahulu ingatannya. Yang jelas, setiap sebulan sekali seorang penghuni baru dikirimkan ke Glade. Enggak jelas juga siapa yang mengirim, soalnya ngirimnya gak pake perangko -_-
Bulan ini, mereka kedatangan seorang cowok misterius ke dalam Glade. Belakangan diketahui cowok itu namanya Thomas (Dylan O’Brien believable banget meranin seorang yang bingung di sini). Thomas berbeda dengan penghuni-penghuni di sana. Rasa ingin tahunya gede banget, kalo gak mau disebut kepo. Thomas mempertanyakan segalanya. Begitu pemimpin di sana, Alby (Aml Ameen potrays a very charismatic man), menjelaskan tentang bahaya labirin yang mengelilingi daerah mereka, Thomas malah seolah menantang ingin memasuki labirin itu. Peraturan pertama di Glade, setiap orang harus mengerjakan sesuatu. Ada yang bercocok tanam, ada yang jadi dokter, ada yang menjaga keamanan, Thomas sendiri tertarik untuk menjadi Pelari seperti Minho (Ki Hong Lee, mirip ama yang di game Temple Run hhaha) yang tugasnya bolak-balik ke dalam labirin demi mencari jalan keluar.
temple-run-2-update

Eh salah gambar, sori
supertimemaze

 

 

Cerita tentang Thomas yang berusaha mencari jalan keluar, baik dari labirin maupun dari much bigger mystery yang melatar belakangi semuanya, dan melanggar semua peraturan kelompok dalam usahanya itu adalah point utama presentasi film ini. Memang sudah banyak cerita yang sewarna, apalagi di kalangan seri Young Adult, tapi The Maze Runner menyuguhkan tone yang berbeda. Dark dan bermain di zona ‘confusing’. Didukung oleh detil-detil yang mengagumkan; suara derik labirin yang senantiasa berubah bentuk, dan wujud Griever (monster penghuni labirin) sukses bikin film ini jadi serem.
Penceritaan yang keren ini sayangnya gak bertahan ampe akhir. Saat misteri memuncak dengan kedatangan (untuk pertama kalinya!!) seorang cewek, Teresa ( Kaya Scodelario yang unyu tapi rada annoying) ke dalam kelompok mereka, pengungkapan misterinya justru datang dengan kesan ‘apa banget’. Mungkin memang sengaja disimpan untuk seri kedua, tapi jadinya sama sekali tidak ada penjelasan mengenai apa dan kenapa semua itu terjadi. Dan satu lagi, adegan petualangan di dalam labirinnya kurang greget. Kalo enggak ada Griever, kayaknya gampang banget deh masukin itu labirin. Kurang berasa sense of lost di dalam labirin nya.
maze-runner-movie

 

The Maze Runner menyampaikan pesan bahwa memang enggak mudah untuk melangkah keluar dari comfort zone. Liat aja Thomas yang mendapat tantangan keras dari Gally (Will Poulter, sumpah nyebelin nih orang), yang lebih memilih untuk tinggal selamanya di Glade daripada harus mempertaruhkan nyawa mencoba keluar dari labirin. Bahkan Thomas juga sempat ditentang rekan-rekannya, Newt (Thomas Brodie-Sangster lucky to keep his cool accent) dan Chuck (Blake Cooper will steal your heart here). Tapi comfort zone enggak berarti apa-apa karena tidak akan membawa kita ke mana-mana. Kita harus tetap terus mengembangkan diri, mendorong batas kemampuan masing-masing. Suka atau tidak, perubahan terus terjadi. Dunia semakin berkembang. Kita toh tidak bisa terus stale dan stuck di situ-situ aje. Melangkahlah ke luar dari tembok pembatas. Seperti Thomas yang berani masuk ke dalam labirin, meninggalkam amannya perlindungan Glade.

 

 

 

Ok, that’s all we have for now.
Tampil kuat mengimbangin pendahulunya semacam Hunger Games, Divergent, dan The Giver, film ini mendapat 7.5 bintang emas out of 10 dari Palace of Wisdom.

 

 

 

Remember,
In life there are winners and there are losers.

 

We’d be the judge.

 

Advertisements