Tags

, , , , , , , , , , , ,

Yang ‘ngeh’ judul di atas adalah gabungan dari judul-judul lagu pasti masa kecilnya bahagia banget. Hahaha.
IMG_20150215_141818 - Copy here’s a clue

 

 

Masa kecil memang masa paling spesial di dalam hidup kita. Banyak kenangan yang enggak bisa begitu aja terlupakan. Terlebih kalo kamu menghabiskan masa itu di sepanjang 1990-2000an! Kala di mana semuanya masih simpel, asyik, dan murah. Persis masa kecil. Serius, deh. Enggak membesar-besarkan. Tanya saja kakak-kakak kalian. Pasti mereka bakal suka-cita ngejelasin sambil pasang tampang mata menerawang berbinar-binar dengan senyum kece yang mengembang.

Dan sebagai makhluk Cancer yang manis, saya tentu saja gak bakal melewatkan kesempatan untuk bernostalgia di The 90’s Festival yang diselenggarakan di Venue Eldorado Family Club, Bandung hari Sabtu kemaren. Meski sebelum berangkat sempet bingung juga, sih. Niatnya ke sana pake 90 references, tapi ternyata setelah jungkir balik bongkar lemari, satu-satunya kaos saya yang berbau 90an (berbau bukan karena enggak pernah dicuci, loh!) adalah kaos grup gulat nWo Hollywood Hulk Hogan dulu. Padahal saya selalu mengira saya ini cukup antik untuk dipajang di museum. Oh, well……

So, I went to the Festival with high hopes. Kapan lagi coba bisa ngerasain sekali lagi gimana tahun 90an itu. Sesampai di sana, saya langsung menyerbu bagian yang mereka sebut ‘The World of 90s’. Saya pengen ngeliat lagi pernak-pernik tahun 90an yang udah jarang, bahkan enggak bisa ditemuin sekarang. And then, my hopes came crashing down. Barang serba-serbi 90s nya dikit banget. Sure, ada DingDong, Tamiya, Star Wars, Superman, Lupus, Gimbot, Tazos dan aneka collectibles lain dari tahun 90an, jajanan-jajanan khas, dan…dan…., itu doang.
20150214_145157 - Copy
20150214_145225 - Copy
20150214_143552 - Copy
20150214_145343 - Copysaya dulu punya album iniiii, tapi tazosnya gak lengkap hhehe
20150214_145652 - Copy

I was expecting they have a big-size tent full of 90’s memorabilias. Tapi enggak. Mesin DingDong nya cuma empat. Di sebelahnya ada jejeran game konsol, tapi enggak ada Nintendo (atau Spica). Thank God they got the games right (Street Fighter II, Mortal Kombat, Golden Axe!). Untuk main games ini, pengunjung bisa membeli koin di tenda yang juga jualan jajanan-jajanan jadul kayak coklat superman, permen karet yosan (mereka menjamin, huruf N nya bakal ada di sini!), coklat payung, coklat koin, segala macem deh yang dulu biasanya saya beli di kedai Mak Uwo sepulang ngaji. Sayangnya enggak ada es roti. Hahaha, pada tau es roti gak? Susah sih ngejelasinnya, pokoknya dia itu es tapi kalo digigit lembut gitu kayak roti.

 

Anyway, yang tadinya semangat sampe udah niat mau nulis full report-nya (kali aja ada majalah yang mau muat hehe), saya malah jadi kecewa. Mereka gagal nyuguhin rasa 90an secara maksimal. Acaranya terasa terlalu komersil alih-alih nostalgic. Bukan masalah harganya, I don’t mind the price. It’s about feel-nya. Semuanya masih berfokus ke jualan, like, booth-booth itu berdiri di sana hanya karena ada yang mau mereka jual. Heck, I was hoping to see Oplet Mandra haha! Kirain begitu masuk akan disambut sama jingle-jingle khas tahun 90an dari speaker, eh yang nyambut malah satpam yang mau ngecek di dalam tas saya ada senjata tajam ato enggak. Yea, I get it kalo ini sebenarnya adalah konser musik, but they were freaking advertised it as if there’s gonna be plenty of other stuff too!!

 

Saya sempat telat nonton konser dan enggak bisa nontonin semua karena keasikan nongkrong di booth Lupus Reborn.
20150214_170813 - Copy
20150214_170850 - Copy
Nemu kaos Lupus yang keren banget, yang belinya dapet diskon kalo bisa jawab trivia tentang dunia Lupus. Hahaha that was almost too easy for me, setelah itu saya langsung ganti kostum!! Sempet ngobrol-ngobrol sama komunitas Lupus yang ngurusin acara ini (I wanna join in!). Sayang, mas Hilman enggak datang, padahal saya udah siap mental untung nodong tandatangan hihihi. Lupus itu ikon 90an yang wajib banget dilestarikan. Kalo kamu belum pernah baca Lupus, tutup deh buku cengeng nan kacangan Raditya Dika itu sekarang, dan segera cari novel Lupus di kios-kios buku lama!

 

 

Ngomongin soal musiknya, dengan line-up artis yang begitu banyak dan keren-keren (ada Java Jive, Fatur, Nadila, P-Project, Sheila on 7, Voodoo, M.E., Air Band, Caffeine, Base Jam, Andre Hehanusa, Funky Kopral) mereka membagi show nya menjadi dua panggung, indoor dan outdoor. Pengisi acara tampil bergantian, one by one. Rada aneh juga karena mereka memulai acaranya jam setengah empatan lebih, ngaret (biasa, Indonesia.) padahal saya dengar ada curfew yang mengharuskan acara ini bubaran jam sebelas malem. But it is cool, akhirnya saya bisa mendengarkan langsung dan ikut menyanyikan lagu-lagu yang dulu saya tonton di tipi semasa kecil. Sayangnya beberapa performer membawakan lagu mereka dengan sentuhan modern and it was kind of suck-y. Ruined the nostalgia. Beberapa mereka juga kayaknya lupa kalo lagi ngadepin crowd dari generasi 90an. Adon salah besar ngontrol crowd pake cara lebai semacam “haaaii alviiinn”. Anak-anak 90an itu enggak pretentious kayak anak jaman sekarang. Kami punya attitude.

Lagu-lagu tahun 90an memang enggak ada matinya! Sebut aja “Salahkan Aku”, “Bermimpi”, “Kita”, “Salam Untuk Dia”,”Selalu Untuk Selamanya”, “Inikah Cinta”, “Hidupku kan Damaikan Hatimu”, atau masih banyak lagi judul lagu yang bikin memori terbang balik ke kisah hidup jaman dulu. Namun yang paling keren, pastinya adalah Susan! Hahaha, saya dari kecil ngefans berat sama boneka imut yang sedikit bandel ini. Sayangnya, Kak Ria Enes enggak nampilin kalimat Susan yang legendaris itu, “Susan kan arek-arek Suroboyo, yee!”. Dan lagi, Edi Brokoli tega amat nyamain Susan ama Annabelle dan Chucky hihihi. O iya, di panggung ini juga akhirnya dijelasin conclusion dari feud antara Edi dan Sheila on 7 beberapa tahun silam hihihi. The rest of the show was awesome, ini beberapa gambarnya
20150214_153644 - Copy
20150214_155013 - Copy eaa geng Saint Seiya ke-gep di backstage
20150214_162442 - Copy
20150214_202510 - Copy
20150214_230428 - Copy
1424060349660 - Copythis pretty much sums up this fest; they are killing it! *whooopeee*

 

 

Dan I must admit, penutupan acara ini keren, meski mungkin gak semua orang setuju. Jadi, rumor jam malam itu ternyata benar adanya. Saat Duta and the gank (duile, 90an bgt istilah ini!) lagi hot-hotnya nampil, mereka diberhentikan oleh petugas polisi yang memang sejak beberapa jam lalu sudah berjaga-jaga di sekitaran panggung outdoor. Enggak ngerti juga, mungkin karena lokasinya di dekat lembang, dan itu malam minggu, mungkin jaga-jaga serbuan geng motor atau apa, yang jelas Pak Polisi menyuruh acara segera dihentikan karena sudah pukul setengah duabelas. Melewati batas jam malam. Duta meminta Pak Polisi sendiri yang jelasin ke penonton, dan begitu mulut beliau di depan mikrofon, seruan protes penonton langsung membanjiri panggung. “BOOO!!!!!”
20150214_232517
That moment, walau mungkin gak disadari, tapi begitu rebellious. It was so genuine. Stand up against the authorities. So 90’s!!
20150214_232729 “na-na-naa-na, na-na-naa-na, hey-hey-heyy, goodbye~”

Padahal kalo enggak distop, saya jamin Sheila on 7 bakal menutup acara dengan lagu Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan deh xD

 

 

 

 

 

 

That’s all for the Festival.
I did have a good time there. But I still missed Wiro Sableng, Casper, Alien Workshop, Fido Dido, Space Jam, Tamagochi, Pager, and the other nineties legends. The 90’s Festival was simply NOT delivered.

 

Remember, in life there are winners and there are losers.
IMG_20150215_104523 - Copy
We don’t do valentines at the Palace of Wisdom. We travel back in time.

Advertisements