Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,

Since our prophecies have been fulfilled; Birdman won the Best Picture dan Julianne Moore sukses dapet Best Actress di penampilannya dalam film Still Aliceyeaah we called it!! It is now time to make our own list.

2014 itu ternyata banyak banget film-film keren. Serius, really surprised me. Jaman sekarang orang pada makin kreatif dan imajinatif dalam menceritakan kisah. Sayangnya, beberapa film itu baru saya tonton di awal 2015. Gila ya, ke mana aje guee haha -.- Tapi ada untungnya juga sih. Kalo enggak, pasti bakalan bingung sendiri masukin mereka semua ke dalam delapan, ya hanya DELAPAN, film terkeren di dalam daftar ini. I’m not gonna lie, sebagian besar wujud daftar ini bakal berubah kalo saja saya nonton film-film itu tepat waktu.

Bukan berarti yang masuk daftar kali ini enggak bagusbagus amat, loh. They are great movies. Pertimbangannya jelas, punya jalan cerita bagus, penceritaannya gak biasa, mind-blowing details, likeable characters, dan tentu saja rewatch values.

 

Sebelum lanjut, of course, simak dulu para honorable mentions berikut ini:
Film 2014 yang baru ditonton 2015: Birdman, Still Alice, Whiplash, Frank, Oculus, Enemy, Locke, The Imitation Game, The Theory of Everything
Modern fantasies: Dawn of the Planet of the Apes, Interstellar, Godzilla, The Hunger Games: Mockingjay Part 1, The Boxtrolls
Heroes to the rescue: Guardians of the Galaxy, Captain America: Winter Soldier, X-Men: Days of the Future Past
Real talk movies: Boyhood, Happy Christmas, St. Vincent, The Fault in Our Stars, PK
Thrills and chills: Tusk, Stonehearst Asylum, Horns, Gone Girl, Before I Go to Sleep, Anna, Fatal Frame the Movie

Tuh, banyak kan.. Mentions terbanjir sejak notes seri movie terbaik ini saya bikin di tahun 2011 dulu. Sekarang, here are the winners:

 

 

 

8. AS ABOVE, SO BELOW
?????????????????????????
Director: John Erick Dowdle
Stars: Perdita Weeks, Ben Feldman, Edwin Hodge
MPAA: R
IMDB Ratings: 6.1/10
“What is within me is outside of me.”

 
Sebenarnya sih enggak ada yang spesial-spesial amat dari film horor ini. Style nya footage horor, yang sekarang udah mainstream banget. Tokoh utama nya semacam sempurna banget. Dan false jump scares, well this movie use it, like, a lot. Banyak banget sampe saat nonton ini rasa takut udah berganti menjadi antisipasi suara2 seram.

Yang bikin saya suka sama film ini adalah sensasi petualangannya. Bercerita tentang kelompok, terdiri dari arkeolog, penterjemah dokumen, dan para pencari harta karun, yang menjelajahi gelapnya catacomb di Perancis demi mencari warisan legendaris Nicholas Flames, Batu Bertuah. I like adventurous story like this. Apalagi yang ada unsur legenda nya. Suka ngebayangin kalo diri sendiri yang ngalamin kayak gitu. Setelah nonton itu, saya jadi pengen ke Paris, mau liat kuburan bawah tanah terbesar itu. Di bawah sana, mereka berjumpa dengan hal-hal aneh (piano di dalam kuburan kuno?!!) dan makhluk-makhluk horor yang merupaka jelmaan dari ketakutan dan sisi gelap dari masa lalu mereka sendiri.
as-above-so-below-movie-poster-16 - Copy
Metaphorically, mereka bakal jalan sampe ke neraka. Dan literally, setannya serem-serem. Ada yang kayak Voldemort lagi duduk di kursi goyang, hiiii. Ada sedikit rasa psikologikal saat masing-masing mulai berurusan dengan masa lalu mereka. Tapi semua itu datangnya out of nowhere banget. Kayak, loh itu siapa? Build up film ini memang gak bagus tapi cukup fun juga nerka-nerka koneksi yang terjadi antara tokoh-tokohnya dengan horor yang mereka temui di bawah tanah kota fashion itu.

 

My favorite scene:
Saat udah capek-capek merangkak di terowongan penuh belulang manusia, ehh mereka munculnya di depan terowongan yang baru dimasuki itu tadi! Hahahaha mamam tuh lingkaran setan! xD
jackhead4 - Copy - Copy
The face literally says, “what the f?!”

 

 

 

 

 

7. BIG HERO 6
Big_Hero_(film)_poster_006 - Copy
Director: Don Hall, Chris Williams
Stars: Ryan Potter, Scott Adsit, Jamie Chung, Damon Wayans Jr
MPAA: PG
IMDB Ratings: 8/10
“We didn’t set out to be superheroes. But sometimes life doesn’t go the way you planned.”

Dari sekian banyak film superhero yang keluar di tahun 2014, saya paling suka sama Big Hero 6. Karakter-karakternya bener-bener sukses menarik perhatian, dan Baymax….well, siapa yang gak suka sama Baymax? Robot perawat kayak balon ini kami nobatkan sebagai karakter paling lovable yang muncul di layar tahun 2014. Mau punya robot kayak Baymaaaxxxxx.

Science memiliki porsi besar dalam penuturan film ini. Tokoh utamanya aja, si Hiro adalah bocah superjenius yang bisa nyiptain apa aja. Bagus banget tuh, jadi anak-anak yang nonton bisa kepikiran buat “Maa, aku mau pintar juga biar bisa nyiptain robot yang berguna bagi umat manusiaaa”. Film ini memang banyak memberikan pembelajaran yang bagus kepada anak-anak. Termasuk tentang bagaimana kita bisa kehilangan yang kita cintai. That would be good, so they can learn how to cope with that, because that thing does really happen in real life.

Diangkat dari komik Marvel, Big Hero 6 udah gak perlu diraguin lagi soal aksinya. Kekuatan super yang dimiliki para kutu buku ini enggak kalah dibandingkan para Avengers. Yang paling spesial dari Big Hero 6 tentu saja adalah hubungan antara Hiro dan Baymax. Hubungan mereka ditulis dengan begitu bagus; kocak, and really build the emotional core for this movie. Agak sedikit mirip ama Hiccup dan Toothless dari How to Train Your Dragon sih, saya pengen liat mereka ‘diadu’ on a tag team match hahaha.
Anyway, menurutku film ini lebih dari sekedar animasi buat anak kecil, karena di balik ledakan dan aksi-aksi itu, it actually has some real emotion core to it. There is a lot of human emotions yang digambarkan di dalam film ini.

 

My favorite scene:

Oh Baymax, semua yang keluar dari mulut robotmu itu, lawaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkk!! Kalo pulang ke Duri, film ini harus dicekokin ke adek saya yg paling kecil, si Devan lol

 

 

 

 

 

6. IF I STAY
if-i-stay-2 - Copy
Director: R.J. Cutler
Stars: Chloe Moretz, Mireille Enos, Jamie Blackley
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 6.9/10
“Sometimes you make choices in life, and sometimes choices make you.”

Enggak kerasa Chloe Moretz udah berumur 18 tahun. Rasanya baru kemaren nonton dia masih kecil banget dalam The Amityville Horror. Sepanjang karirnya itu, Chloe udah mainin berbagai macam tipe karakter, bahkan kadang jauh di atas usianya. This time, adek kece ini main di film yang diangkat dari novel young adult, meranin Mia……cewek remaja yang jago main cello yang terperangkap di antara dunia fana dan alam kematian! Now you see why I picked this movie over The Fault in Our Stars hehehe.

Tutur cerita film ini tergolong unik banget untuk ukuran drama cinta-cintaan remaja. Alur bolak-baliknya bakal ngayunin kita dari senang, sedih, kaget, “awww so sweet”, sampe ke “oohh, tidaakk tega amaatt”. Temanya sendiri berputar pada masalah pilihan hidup. Kayak quote filmnya yg saya pajang di atas. “Di dalam kehidupan, terkadang kita membuat pilihan, kadang pilihan yang membuat kita.” Mia dihadapkan pada pilihan sulit, setelah kecelakan tragis yang dialaminya bersama keluarganya, dia harus memilih untuk ‘terus’ atau ‘tinggal’.

Mau gak mau, film ini lantas bikin kita turut memikirkan tentang pilihan-pilihan itu. Tentang keluarga. Tentang crossroad yang mungkin sudah kita alami. Memang enggak mudah. Mia datang dari keluarga super bahagia. Kedua orang tua adalah mantan rocker dengan attitude ‘hidup dibawa nyantai’. Cowoknya akur sama keluarganya. She’s surrounded by people who support her at everything she does. Dan sekarang dia mungkin akan kehilangan semua itu.

Saya hanya punya satu masalah sama film yang indah ini, seperti layaknya ftv, film ini terlalu berpesan kepada remaja bahwa punya pacar itu adalah hal yang paling penting di dunia. Hal ini bikin semua keputusan yang udah diambil Mia di akhir cerita menjadi agak…yah, I just can’t agree with that.

 

My favorite scene:
jackhead4 - Copy (4) - Copy
Di api unggun bareng seluruh keluarganyaaa! Di situ Mia terlihat bahagia sekalii. Suka ngeliatnya.

 

 

 

 

 

5. WHITE BIRD IN A BLIZZARD
poster-for-white-bird-in-a-blizzard - Copy
Director: Greg Araki
Stars: Shailene Woodley, Eva Green, Christopher Meloni
MPAA: R
IMDB Ratings: 6.4/10
“I’m here, Kat. I’m here.”

Saya mau bilang, White Bird in a Blizzard berhasil mengalahkan Gone Girl dalam menempati posisi di dalam daftar ini. Keduanya sama-sama berputar tentang misteri istri/ibu yang hilang, meski sebenarnya Gone Girl lebih powerful dalam penceritaan. The thing is, I can’t stand karakter si Rosamund Pike di film Gone Girl, I am not a fan of annoying, think-they-are-so-smart women. Jadi yah, saya mutusin untuk lebih suka film ini.

Tema yang diusung dalam White Bird in a Blizzard ini adalah soal relationship dan cerita coming-of-age, proses pendewasaan. Kat yang masih anak baru gede harus berjuang nanganin konflik keluarga yang muncul gara-gara ibunya ngilang. Ayahnya jadi terlihat depresi dan pendiam. Pacarnya juga berubah sikap kepadanya. Film ini berhasil menyajikan misteri yang cukup pinter. Sepanjang film saya seperti biasa selalu sok jadi detektif, menerka-nerka kelanjutan cerita. And everytime I did that on this movie, I failed. Dan sampai sekarang saya masih penasaran sama ‘bird’ dalam judul film ini. Apa maksudnya? Siapa yang dilambangkan sebagai burung? Kat kah? Ibunya kah? Jika iya, saya masih gak bisa menemukan penjelasan memuaskan kenapa ibunya bisa diibaratkan sebagai burung.

Yang menarik perhatian saya dalam film ini tidak lain tidak bukan adalah Shailene Woodley. It was nice to finally get to see her playing such character. Biasanya kan Shai mainin tokoh anak baik-baik melulu. Dalam film ini kita bisa nyaksikan karakter Shai bertransformasi menjadi wanita dewasa yang tangguh, bahkan, in some sense, lebih tangguh dari Tris di film Divergent.

 

My favorite scene:
jackhead4 - Copy (3) - Copy
The twist. The revelation. Love it.

 

 

 

 

 

4. NIGHTCRAWLER
Nightcrawler_PayoffPoster - Copy
Director: Dan Gilroy
Stars: Jake Gyllenhaal, Rene Russo, Bill Paxton
MPAA: R
IMDB Ratings: 8/10
“That’s my job, that’s what I do, I’d like to think if you’re seeing me you’re having the worst day of your life.”

Ambisi dan obsesi, apa itu hal yang buruk? Lou tadinya hanya seorang pria yang kerjaannya nyisir malam, mencuri benda-benda untuk dapet duit. Pertemuannya dengan wartawan yang lagi meliput berita kecelakaan membuatnya berambisi untuk menjadi wartawan juga. Tak lama buat Lou, ambisinya berubah menjadi obsesi. Dia menjadi sedikit terlalu ‘bagus’ untuk pekerjaan barunya itu.
Kekuatan utama film Nightcrawler ini adalah fokusnya yang amat mendalam kepada karakter Lou. Kita yang nonton, tahu kalo yang dilakukan oleh Lou itu salah, tapi kita diam-diam mem’benar’kan karena kita mengerti betul motif dan apa yang membuat Lou bertindak demikian. Ato paling enggak saya merasa begitu. Saya tahu, karena saya juga biasa mengejar ‘berita’ dan men’jual’nya ke yang mau nerima dan memuat. Only I did it dengan pergi ke acara atau dengan nonton film, terus nulis laporan atau review nya.

Writing yang smart, jarang loh ada film yang protagonist nya merangkap jadi antagonist juga seperti film ini. Jadi sebenarnya kitakita yang nonton film ini nge-cheer buat orang yang ngelakuin terrible things to make more money. Lou is psychotic, maybe. Tapi kita mengerti pemikirannya. See how this movie blow my mind like that? Jenius. Dan bicara tentang jenius, Jake Gyllenhaal mungkin adalah aktor paling jenius masa kini. Dalam semua filmnya, dia memainkan peran dengan sangat ‘klik’ sehingga I don’t see him as a Jake anymore. Kalo gak percaya, silahkan tonton filmnya yg lain, kayak Enemy.

Sebuah gambaran kelam terhadap profesi jurnalistik dan media, Nightcrawler merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton.

 

My favorite scene:

Dua puluh menit terakhir saat Lou ‘meliput berita’ pembunuh yang buron itu, sukses bikin saya nonton sambil gigit-gigit kuku.

 

 

 

 

 

3. BEFORE I DISAPPEAR
before_i_disappear - Copy
Director: Shawn Christensen
Stars: Shawn Christensen, Fatima Ptacek, Emmy Rossum
MPAA: not rated
IMDB Ratings: 7.2/10
“I’m gonna be a long gone before tomorrow comes around.”

Aslinya film Before I Disappear ini adalah sebuah kisah pendek berjudul Curfew. Cerita curfew begitu menyentuh, sad tapi uplifting sehingga sukses masuk nominasi film pendek Oscar di tahun 2012. Sang sutradara, yang juga merangkap pemain utama, mengembangkan ceritanya menjadi sebuah film panjang utuh tanpa mengurangi jiwa dan keajaiban penceritaan film ini.

Richard Hill adalah seorang pria loner, junkie, janitor di klab malam, yg siap untuk mengakhiri hidupnya. Dia udah gak sabar untuk menyusul kekasihnya yang udah lebih dahulu pergi. He tooks pills, nyelem di dalam bak mandi, dan mengiris nadi lengannya, saat telfonnya berdering. Dari adiknya. Yang meminta Richie untuk menjemput anaknya.
jackhead4 - Copy (2) - Copy
Dan mulailah petualangan Richi dan anak adeknya itu, Sophia di sepanjang kota pada malam hari. Petualangan yang dilakukan Richie hanya karena ini adalah hari terakhirnya di muka bumi.

Cerita satir tentang bunuh diri yang dilakukan dengan pendekatan dengan benar, enggak norak kayak film lokal Cinta/Mati yang tayang di sini sekitar duatahunan yg lalu. Hasilnya, jelas sebuah cerita yang begitu powerful. I absolutely love all aspects of the movie. Yang tadinya dikira sebagai just another story about kid and grownups, ternyata berkembang menjadi kisah yang penuh kejutan. Hebatnya lagi, tokoh-tokoh di dalam film ini, tidak beraksi sesuai pakem film lain. The drug lord dan kepala gang tidak serta merta membunuh orang. Mereka terasa… manusiawi. Hubungan antara tokoh-tokoh terceritakan dengan baik dan mendalam. I like the dynamic between Richie dan Sophia (bibit unggul nih aktris Fatima Ptacek), juga antara Richie dan adiknya, Maggie. So genuine.

 

My favorite scene:

Adegan dream-state Richie di bowling alley. Sophia dan semua orang di sekitarnya mulai menari. Terlihat seperti adegan yang out-of-place, tapi unik banget sehingga kalo enggak ada adegan ini, film Before I Disappear akan terasa hampa.

 

 

 

 

 

2. THE BOOK OF LIFE
the-book-of-life-poster1 - Copy
Director: Jorge R. Gutierrez
Stars: Diego Luna, Zoe Saldana, Channing Tatum
MPAA: PG
IMDB Ratings: 7.3/10
“Go write your own stories.”

Saya selalu suka dengan dongeng-dongeng yang ada sangkut pautnya ama Guillermo del Toro. Meski di sini dia ‘cuma’ jadi produser, tapi kita ngerasain sedikit ciri khas yang dia berikan kepada film-filmnya. Selalu tentang keluarga, fantasi, dan kematian.

The Book of Life menyajikan kisah dalam plot berlapis. Cerita utamanya sih tentang cinta antara ketiga sahabat dekat. Manolo dan Joaquin, sama-sama naksir sama Maria. Relationship mereka itu kemudian digunakan oleh dua dewa penguasa sebagai bahan taruhan. Ketiga tokoh utama itu punya ‘saga’ masing-masing yang dibahas tuntas di akhir film. Penceritaannya yang ringan, dihiasi animasi yang indah dan musik yang ajaib, bikin film ini asik ditonton bareng siapa aja. Saya pertama kali menonton film ini bareng adek cowok yang berumur 5 tahun, dan adek-adek sepupu cewek yang berumur 12 dan 17 tahun, plus emak-emak mereka, dan enggak satu orang pun yang enggak suka. Adek saya yg cowok itu, si Devan apalagi. Kerjaannya setiap hari jadi nonton film ini melulu, dan saya disuruh “ceritakan, Bang”

Meski ada unsur ‘is-dead’ nya, tapi film ini enggak bikin sedih, kok. Justru cheerful dan heartwarming banget. Orang bilang kita bisa belajar banyak tentang kehidupan dengan mengingat kematian. Dalam film ini, Manolo mendapat pelajaran berharga setelah berkelana di dunia orang mati. Pelajaran untuk tidak takut menjadi diri sendiri. In fact, film ini sarat dengan pesan-pesan positif seputar kehidupan. Mengajarkan bagaimana kita tidak boleh mementingkan diri sendiri. Tentang indahnya rela berkorban. Dan tentu saja pesan bahwa taruhan itu enggak baik, haha! Personally, I find Manolo could easily be related to myself, tho.

 

My favorite scene:

Karakter yg kayak boneka tali, latar yang penuh warna, susah memang untuk enggak suka dengan visual film The Book of Life ini. Saya paling senang sama adegan Manolo saat dia pertama kali tiba di The Land of the Remembered. Siapa sangka dunia kematian bisa seindah dan secerah itu? 😀

Devan’s favorite scene:
jackhead4
Devan ngakak berat setiap kali nonton Manolo nyanyi lagu ini. Kalo udah sampai adegan sini, dia pasti minta diulang-ulang bagian ini hihi

 

 

 

 

 

1. THE BABADOOK
Babadook-Poster-KeyArt - Copy
Director: Jennifer Kent
Stars: Essie Davis, Noah Wiseman, Daniel Henshall
MPAA: not rated
IMDB Ratings: 6.9/10
“I have moved on. I don’t mention him. I don’t talk about him.”

Saat pertama kali menonton The Babadook, saya merasa takut dan… bahagia. Ya, bahagia. Wow. Belum pernah saya sebahagia itu saat menonton horor hari-hari sekarang. It was like, dang ini nih! Ini dia horor yang selama ini gue kangenin!. The Babadook adalah sebuah masterpiece psikologikal horor yang dengan tepat menggambarkan terror dan betapa depresinya kehilangan seseorang yang kita cintai.

Mungkin banyak yang mengira ini film monster biasa. Amelia (diperankan dengan sangat, sangat mengesankan oleh Essie Davis) tinggal bersama anaknya yang super annoying. Suatu malam, si anak minta dibacain cerita. He took out this particular book from the shelf, and they start reading it. Buku tentang monster hitam bertopi panjang dan berjari panjang, yang akan menghantui rumah jika dibiarkan masuk. Frankly, ceritanya tidak sedangkal itu. Babadook membuat penonton mikir, apa yang sebenarnya terjadi, mana yang enggak benar-benar terjadi. There’s a lot of deep metaphor di dalam film ini. Babadook is a very dark-look about grief, yang merupakan salah satu hal paling susah untuk dihadapi dalam kehidupan.
23BABADOOK6-videoSixteenByNine540 - Copy

Film yang keren banget. Currently my favorite horror of ALL Time! Beribu-ribu kali lebih bagus dari horor pasaran semacam Annabelle dan Ouija, dan Rumah Gurita. Enggak ada yang namanya false jump scare. Jantung kalian aman nonton film ini. Tapi pikiran kalian, itu lain soal hehehe. Babadook adalah film pintar yang bisa mempengaruhi pikiran penonton, you might find it explores your past, maybe your lover, or anything that you care about. Straight up disturbing and frightening!
Dan yg membuatnya lebih cool lagi adalah, The Babadook ini adalah film debutan sutradara dari Australia, Jennifer Kent. Bayangin aja, film debutnya aja sekeren ini, gimana ntar film-film dia berikutnya. Kalo kata abege masa kini, “can’t wait bangeeeett kakaaaak.

 

My favorite scene:
jackhead4 - Copy (5) - Copy
Saat Amelia nonton tivi, dan dia ngeliat si Mister Babadook di mana-mana. Sumpah, itu adegan nakutin bgt. Bikin saya kapok nonton apapun sebelum tidur.

 

 

 

 

 

 

Ok, that’s all our winners for top movies of 2014. Kalo diliat-liat, kedelapan film itu, sebagian besar ada adegan dream-state gitu ya. Semua film itu juga ada unsur kematian di dalamnya. Yea, I guess I really like deep, subconsce, psychological stuff like that.

 

So what’s your favorite movie? Yuk kapan-kapan nonton bareng xD

 

 

 

 

Before you go, remember
In life, there are winners and there are
bc1627df318171e36b
We’d be the judge.

Advertisements