Tags

, , , , , , ,

“The acceptance of certain realities doesn’t preclude idealism, it can lead to a certain breakthrough.”

B6rGBKaCYAAV3Eo

 

Belakangan ini lagi musim cerita tentang idealisme seorang tukang bikin karya yaa.. Berturut-turut saya menonton Birdman, Frank, dan juga Top Five yang bermain dalam tema yang sama, dengan presentasi yang totally berbeda (buat yang nanya2, review film2 tadi saya pos di Path, soriii… will post them soon!). Sekarang giliran produk lokal yg tampil menceritakan itu, dikemas dengan bungkus drama surealis (David Lynch comes to my mind!) dan diperankan oleh sutradara thriller andalan Indonesia, Joko Anwar. Yay, film besutan Richard Oh ini siap untuk bikin bingung yang nonton!

Banyak yang bilang film ini mirip dengan Birdman yang menang Best Picture Oscar 2015, tapi menurut saya Melancholy is a Movement ini kinda kebalikan dari Birdman. For once, Birdman akhirnya terbang lagi sedangkan Joko merasakan bahagia dan damai saat dia berenang. Bahkan kata Mas Richard, tadinya mereka pengen bikin scene Joko berenang dan berubah menjadi ikan. Yang satu akhirnya menemukan peace saat menerima kenyataan bahwa dirinya gak bakal bisa lepas dari bayang-bayang his former work, yang satu lagi menemukan dirinya damai saat menyelami daerah yang belum pernah dia masuki. Berbeda, meski yah, keduanya sama-sama terpaksa meninggalkan idealisme nya.

 

I did like the story, meski untuk mengikutinya butuh perjuangan yang berat. Bukan, bukan karena ceritanya semi-linear dan gak jelas. I don’t mind that, daya tarik film ini justru di cara bertutur yang demikian. Maksudnya berat diikuti karena presentasi dan eksekusi sebagian besar adegannya terasa gak nyata, bahkan untuk universe se-chaos dunia di film ini. Kesan fake nya itu. Maybe it was intentional mengingat dalam film ini bertebaran satir, I dunno. Segala kejadian yg terjadi sebelum adegan2 terakhir film ini dibuat sangat… ah, mencerminkan apa2 yg bikin film indonesia itu weak di kacamata saya. Karakter yang susah to relate to; some of them are annoying, dialog yang over the top, pengambilan gambar yang sok ‘deep deep gimana gitu’ –saya gak tahu istilahnya- I just called them The Lazy Shots, hal-hal itu kerasa lebih mengganggu penceritaan dibandingkan membantunya. Tokoh yang cemberut enggak kontan bikin tone jadi otomatis melankolis, loh.

20150402_193752 - Copy (4)

 

In the end, film ini leave to open interpretation, and that’s what I like best. Seru aja nebak-nebak apa yang terjadi sebenarnya. Sudah lama saya gak mikir keras sehabis nonton, sejak film Enemy tahun lalu (the review is on Path :D). On my second watch, I literally nyatetin beruntut semua poin yang terjadi di sepanjang film Melancholy is a Movement; mulai dari kapan Joko mulai ngomong pertama kali, sampai dia bantuin mobil mogok, pokoknya semua deh! Dan tetep aja saya masih gak yakin tentang maksud dari semua itu, terlebih bagian dua cewek pakek seragam sekolahan Jepang yg melenggang lewat sambil cekikikan, orang ketiga, the muse, Renata dan Zooey yang dikubur. Apa maksudnya? Apa Joko just went on with his sin karena yg paling buruk yang bisa dilakukan orang terhadap dirinya adalah “fukcyu!”? I really can’t put my finger on that. Yang jelas, I like to think each and every scenes mewakili simbol dan makna tertentu.

 

Ada beberapa tema yang berulang dalam keseluruhan film ini; idealism tadi, boredom, religion, dan order-the repetition itu sendiri. Punya idealisme memang tergolong penting. Kita harus punya sesuatu yang membedakan kita dengan orang lain, apalagi sebagai seorang pembuat film. Harus punya gayanya masing-masing. Jangan sampai karyanya sama dengan kebanyakan. Ketakutan ini tercermin dari adegan favorit saya di film ini, saat Joko bermain gapleh bersama pemuda-pemuda, yang semuanya bernama Joko!
Kalo sudah nyaman dengan gaya sendiri, kenapa musti iseng mengubahnya? Joko awalnya berpikir demikian. Tapi betapa membosankan kalo selalu begitu, sama saja dengan membatasi diri sendiri. Bagaimana kita tahu batas kemampuan kita kalo kita enggak melangkah ke luar. Keadaan menuntut Joko untuk mencoba hal baru. Orang-orang gak suka dengan hal yang repetitive dan stale (bahkan Joko sendiri terlihat bosan dengerin curhatan temen-temennya yg itu-itu melulu), terkadang kita harus menuruti keinginan orang. Dalam workshop nya Joko menyebut film layaknya sehelai pakaian; kalo belum dicoba ya kita mana tau pas ato enggak di badan. Yang penting selalu “do it from the heart.” Jangan karena ikut-ikutan tren semata.
Patung Moai itu bagi Joko adalah semacam simbol ‘keras kepala’ idealisme yang selalu muncul setiap dia lagi galau. Di akhir cerita, patung itu muncul dengan sedikit berbeda; kali ini tampak seperti dari kayu, warnanya lebih terang, kepalanya enggak lagi gede2 amat, jumlahnya banyak, dan punya tangan, sesuai dengan Joko yang sekarang lebih fleksibel terhadap karyanya. Perang antara idealisme dan komersil memang bakal terus terjadi. Bakmi haram itu adalah metafora betapa orang enggak mau melakukan hal yang bertentangan dengan keyakinannya. In fact, beberapa orang menganggap idealisme sebagai sesuatu yg harus diyakini religiously. Tapi, menerima kenyataan juga sama pentingnya. Joko sadar dirinya gak mau berakhir sebagai sebuah pilihan. Dia ingin berhenti saat sudah mesti berhenti, saat udah gak bisa berkarya lagi. Bukan karena jualannya udah enggak laku nanti.

 

Ngomong-ngomong, film religi tentang orang yang bosan dengan kedamaian dan kesempurnaan Surga itu langsung membuat saya teringat sama komik Dragon Ball hahaha

05 - Copy

 

 

Melancholy is a Movement bener-bener ngajak kita bergerak berjalan di garis tipis between dream and reality. Meleng dikit, kita bisa nyasar. Ending nya bahkan sangat susah diterima oleh kebanyakan penonton. Enggak suka. Gak ngerti. It really makes us feel like Sisyphus, doesn’t it? Tapi begitulah hidup. There’s no absolute end to everything, everybody just have to start doing something.. from our heart.

 

The Palace of Wisdom proudly hands out 7.5 noir-stars out of ten for this movie.

 

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners
and there are losers.

We be the judge.

Advertisements