Tags

, , , , ,

“One have to realize how many great things could happen by confronting the things that scare them most.”

 

 

poster-terbaru-filosofi-kopi-isyaratkan-konflik

 

By now, mungkin semua udah pada tahu bahwa bagi saya, film itu utamanya adalah cerita. Cerita di dalam sebuah film ibarat rasa dalam sebuah hidangan. People are not necessarily have to like yang rasanya manis. Semua orang bebas mau suka rasa apa. Asal jangan rasa malu loh yaaa..
Filosofi Kopi gives us a stale taste while comes up with high production-value.

 

Premis cerita tentang struggle terhadap usaha yang terancam bangkrut, tokoh idealis dan tokoh realis, tema persahabatan, film ini beranjak dari blueprint yang sudah biasa. Kayak Ben’s Perfecto yang banyak orang bilang rasanya enak dan nikmat sekali, tapi toh ternyata ada juga yang bilang hambar.
Ngerti kok, kenapa banyak yang suka; cinematografinya indah, chemistry Ben dan Jody, dialog yang asik,dan fakta ini adalah adaptasi menakjubkan dari storynya Dewi Lestari. Ini memang soal selera. Yang menarik bagi saya justru adalah cerita background masing-masing tokoh utama, yang untungnya dibangun dan digali dengan baik. Perkembangan karakter Ben (Chicco Jerikho charming banget meranin karakter eksentrik ini) dan Jody (Rio Dewanto sukses ngimbangin karakter lawan mainnya) sangat menarik untuk diikuti. Dan resolusi masalah-masalah mereka dibereskan dengan rapih, bikin penonton bilang “Aahh!” kayak abis nyeruput kopi. Masalahnya, begitu ‘bahan-bahan racikan’ untuk konflik itu terhampar di atas meja, the already generic story ini menjadi ngebosenin dengan cepat. You know there’s a problem with the movie kalo baru di pertengahan aja kamu udah mikir “…perasaan lama banget filmnya..?”

Kopi pake cinta lawan kopi pake obsesi itu sebenarnya enggak perlu disebutin dengan gamblang di dalam film. Meski dia seorang blogger garismiring writer, I did find si El (suka deh denger Julie Estelle berbahasa Perancis) ngomong ‘terlalu banyak’ for the sake of the storytelling. I think kayaknya akan lebih dramatis kalo komentar-komentar El yg pintar nan filosofis lagi konklusif tapi tajam itu dikeluarkan lewat ekspresi saja. She should be the bridge, yang represent viewer ke dalam cerita. Biar penonton bisa terlibat, aja sih, ceritanya udah like-able banget soalnya. Filosofi Kopi, menurutku, terlalu menyuapi penonton mengenai apa yang ingin disampaikan. Terlalu clear (gak butek kayak aer kopi) sampai-sampai ke poin kita kinda tahu apa-apa yang bakal terjadi. Kita tahu ungkapan “kopi punya sisi pahit’ was bound to be said sometimes in the movie. Bahkan saat adegan penutup ekstra di toko buku itu, saya yakin bukan cuma saya yang bisa menebak arahnya bakal ke sana sedari awal-awal.

Saking easy nya, saya sempat ngarep ada kejutan liar, kayak Pak Seno lanjut bilang “..dan terus mayat Tiwus kami kuburkan di ladang kopi itu.”
filosofi-kopi_20150408_100937
Jeng! Jeng! And the gank would be like, “Pantesan rasa kopinya lain dari yang lain… kabooorrrrr!!!”

 

Duo tokoh utama ended up doing the lowest of the low. Membeli kopi dari orang desa untuk menang taruhan itu ibarat lagi main ps, si player 2 kalah melulu, trus minta tukeran joystick biar menang. But personally, I’m happily agree dengan keputusan Ben di akhir bagian itu.

Berdamai dengan diri sendiri adalah salah satu pelajaran berharga mengenai kehidupan yang bisa dipetik dari film ini. Dan buat mencapai itu, enggak bisa dengan cara terus menghindar. Jody enggak akan pernah tenang sebelum dia mau stop and look back into inti ‘buah kopinya’. Ben harus confront his ego dengan kembali ke akar ‘pohon kopinya’. Banyak orang memilih untuk melupakan masa lalu, meninggalkan kenangan jelek itu begitu saja. The thing is, masa lalu akan terus membayangi. Memaafkan orang lain itu penting, tetapi memaafkan diri sendiri juga sama pentingnya. It’s about to face it, forgive it, and let it go. Baru saat itulah kita bisa benar-benar melangkah maju. Pelajaran yang lain mungkin adalah bagaimana cara membuat kopi hahaha. Kopi di sini bukan hanya sekedar atribut, it is actually indeed a key point dalam penceritaan. That’s one plus.

 

Seperti dalam memilih film; ketimbang “Tall Cap Triple-Shot Half Caf”, saya lebih suka kopi saya itam dan pake es batu.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 stars for Filosofi Kopi.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

We be the judge

 

 

 

 
CYMERA_20150410_170433 Max Black wins everytime.

 

 

Advertisements