Tags

, , , , , , , ,

“Growth is painful, change is painful, but nothing is as painful as staying stuck somewhere you don’t belong.”

 

badancokro1

 

Sebenarnya saya pengen iri sama anak sekolahan jaman sekarang (lucu ya, iri kok pengen..). Mereka punya berbagai macam media yang bisa digunakan sehingga belajar bisa menjadi kegiatan yang fun. Film misalnya, bisa banget dipakek untuk bermacam-macam pelajaran; bahasa, ilmu alam, ilmu sosial, dan tentu saja sejarah. Sesuatu yg dulu sering saya lamunin saat guru sejarahku ngedongeng di kelas, “Ah that would be easy kalo ceritanya dipentaskan.”
Pengen iri, tapi kenyataannya malah miris. Saat nonton Guru Bangsa Tjokroaminoto kemaren, selain saya studionya hanya diisi oleh delapan orang yang semuanya jauh lebih tua daripada saya. Dalam bayangan saya, harusnya banyak pelajar yg rebutan nonton ini. Semangat ’45 menyaksikan sejarah yg mereka pelajari di buku dihidupkan kembali. Ke mana mereka? Oh, ternyata yang muda-muda itu lagi sibuk antri mau nonton film hits. Penasaran pengen liat akting terakhir si anu, kata mereka. Little did they know, di film yang saya pikir wajib mereka tonton ini ada (salah satu) penampilan terakhir dari seorang seniman besar yang lebih dekat dengan kita.
B9x_3gBCYAAL-mc
R.I.P. Alex Komang

 

 

Selain almarhum, jajaran pengisi peran di dalam film ini memang bukan main-main. Sebut saja Reza Rahadian yang kebagian peran sulit meranin Sang Guru Bangsa himself. Sulit karena I think Reza kali ini harus memainkan peran dari nol, mengingat rasa-rasanya gak ada yang tahu persis seperti apa pembawaan Tjokroaminoto yang sebenarnya. Di film ini, beliau tergambar sebagai sosok yg tegas dan lantang, kharisma dewa, berani-not everyone sees his way but he always stand up for his belief, dengan tetap memperlihatkan sisi vulnerable begitu sudah menyangkut keluarga dan “sudah sampai di manakah hijrah kita?”.
Di film ini juga ada Christine Hakim, Sudjiwo Tedjo, Chelsea Islan, Deva Mahenra, Tanta Ginting, Ibnu Jamil, Ade Firman Hakim, Alex Abbad, Putri Ayudya, para bule Belanda, dan pemeran pendukung lain yang menampilkan akting terbaik mereka.

Tjokroaminoto digarap dengan sangat serius, hasilnya; film ini berhasil bercerita dengan sangat baik. Setting nya jadul abis, membuat kita mudah membayangkan beneran lagi melihat Surabaya di jaman penjajahan. Durasi yang sepanjang film India dan alur mengalir lambat itu enggak menjadi masalah buat bisa mengikuti cerita film ini dengan khusyuk. Karena sutradara segede Garin Nugroho ini sepertinya memang tahu betul apa yg dia lakukan. The plots are build up with nice pay-offs at the end, misalnya metafora kapas di awal yang sukses bikin terenyuh penonton di akhir kisah. Treatment film ini juga dilakukan dengan magnificent. I can’t figure it all, karena ada begitu banyak fun things yang bisa ditonton dalam film ini, yang enggak bisa saya ingat semua dalam sekali lihat. Dialog, lokasinya, posisi dan gestur para pemain, saya tahu itu semua mewakili satu makna tertentu.
CYMERA_20150411_170928

 

Perjalanan hidup Tjokroaminoto tak lepas dari kata ‘hijrah’. Berpindah dari suatu kondisi ke kondisi lain yang lebih baik. Demikian prinsip Pak Tjokro dalam usahanya meningkatkan status dan kepentingan rakyat di tengah-tengah rezim penjajahan Belanda, dengan tidak melupakan keluarga tercintanya. Hidup dimulai dari Basmallah, titik, dan terus berkembang menjadi bentuk-bentuk yang lebih kompleks, begitulah kata seni batik. Mendirikan Serikat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Serikat Islam, kita semua tahu apa yang sudah beliau lakukan demi bangsa ini. Belanda aja pada segen, kok. Ekspektasi pertama saya adalah ceritanya bakal fokus ke ‘pemberontakan’ dari murid-muridnya saja (I certainly would love a movie about that too!). Film ini membahas rapi semua yang dilakukan HOS Tjokroaminoto sampai saat dia ditangkap Belanda. Yang paling menggelinjang buat saya adalah fakta bahwa Tjokroaminoto adalah orang yang sudah membimbing tokoh-tokoh besar di negara ini. I found it was so cool beliau adalah bapak kos bagi mereka. I was also enjoy menebak-nebak siapa meranin tokoh yang mana. Revealing di epilog film bakal bikin malu orang-orang yang pengetahuan sejarahnya cetek kayak saya ini. Dan Soemaun, gilak I think he was perfectly portrayed sebagai pemuda yang benar-benar ‘mengerikan’, we can sense some darkness the moment we laid eyes on him. Salut buat yang meranin tokohnya! Sedangkan buat Belanda, well I kinda feel them pas salah satu panglima nya ‘curhat’ di awal-awal film haha.

 

Adegan favorit saya tentu saja adegan joget Terang Bulan itu. So out of place, but also so playful. Juga ada scene lagu-lagu lain, opera, dan puisi-puisi. Film ini menyenangkan seperti itu!
Yang bikin tambah menarik adalah hadirnya karakter-karaketr yang saya sebut ‘free-spirit’, kayak Stella, Bagong, Mbok Tun, dan Si Dasi Kupu-Kupu. Mereka ini adalah karakter fiktif yang enggak terikat sejarah. Mereka ada sebagai simbol dan jembatan buat kita yang nonton. They represent us, mereka mewakili rakyat beserta konflik yg sertamerta muncul bersamaan dengan peristiwa2 penting yang terjadi.
hqdefault

 

 

Film sejarah belum pernah semenarik ini while it did manage to stay accurate. Tapi mungkin saya harus narik napas dulu sebelum nonton film ini untuk yang kedua kalinya. Enggak segera. Tapi saya pasti akan tonton lagi.
Ayo dong hijrah dari tontonan ‘komedi omong’ ke yang enggak sekadar ngomong!!

The Palace of Wisdom gives epic 8 out 10 golden stars for Guru Bangsa Tjokroaminoto.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners
….and there are losers.

 

We be the judge.

Advertisements