Tags

, , , , , , ,

“To the praying Mother and the worried Father; let your children go.”

 

 

wpid-img_20150412_2114111

 

“Kalo bapaknya sersan, anaknya nanti jadi jenderal!”, sering banget ga sih kita mendengar kalimat ‘nuduh’ seperti itu diucapin?

Prinsip bahwa anak haruslah lebih hebat daripada orangtuanya nampaknya memang sudah jadi masalah klasik di dalam setiap rumah tangga. Kenapa nya, ya, saya juga gak ngerti-ngerti amat. Penjelasan dari Ultron yang di film Avengers 2 cukup mengena; “Everyone creates the thing they fear. Parent creates children, that will supplant them.” Para orangtua takut mereka akan tergantikan, so mereka simply mempersiapkan ‘pengganti’ yang tentu saja harus lebih unggul dari dirinya sendiri. In a way it is a good thing, tapi masalahnya adalah para orangtua cenderung memproyeksikan diri terlalu banyak ke dalam diri anaknya. Padahal anak bukanlah sebuah investasi. Emangnya tanah! Anak adalah individu baru yang berhak menentukan sendiri kehidupannya. Biarkan mereka memilih. Biarkan mereka pergi. Toh, saat balik nanti, kita tahu mereka bakalan pulang ke rumah dengan lebih ‘kuat’.

 

Problem ini juga terjadi di meja makan keluarga pensiunan perwira Sersan Tebe (kuat, tegas, keras, tapi begitu vulnerable, Mathias Muchus sukses meranin kepala keluarga batak yang idealis)
00067195

Menolak untuk ikut pindah dari Jakarta ke kampung bersama keluarganya, Ronggur (kalo diliat-liat di beberapa adegan Vino G. Bastian rada mirip ama Jake Gyllenhaal yaa) leashed out onto his dad. Jelas, dia enggak mau disuruh jadi pendeta di kampung yang jauh dari kota. In a tipikal gak-mau-diatur fashion, Ronggur juga mengingatkan kedua adiknya untuk berani menyuarakan pilihan hati mereka. Ayah mungkin memang tahu dan berpikir untuk selalu memberikan hanya yang terbaik untuk anak-anaknya, tetapi pilihan hidup sang anak seyogyanya adalah yang utama. Ambisi untuk membuktikan diri di mata sang ayah yang sebenarnya amat dia cintai dan juga untuk membuktikan cinta hidupnya kepada Andini (Marsha Timothy meranin pasangan pendamping yang biasa, sesosok cewek annoying) membuat Ronggur pada akhirnya memilih untuk menjalani hidup sendiri, berpisah dari keluarganya.

Transformasi karakter Ronggur diceritakan dengan menakjubkan. Kita bisa menyaksikan bagaimana anak baik seidealis Ronggur akhirnya berubah menjadi orang yang melakukan semua yang dulu dilihatnya dilakukan oleh ayahnya. Melakukan semua yang bikin dia benci kepada si ayah, semua hal yang berlawanan dengan everything that he believed in. Kita tahu ini semua bisa terjadi karena deep inside Ronggur takut. Takut gagal dalam pembuktikan diri. Takut ‘kalah’ dari ayahnya. Dan yang lebih utama, Ronggur masih takut untuk menjadi dirinya sendiri. Thanks to his dad.

 

 

Belum pernah baca bukunya (yang tentunya juga ditulis oleh TB Silalahi), meski begitu rasa-rasanya saya bisa menyimpulkan kalo film ini termasuk adaptasi yang gak bagus-bagus amat. Kita bisa lihat di beberapa adegan disebutkan banyak adegan penting nan emosional yang enggak diwujudin ke film. Terlihat dari betapa messed-up nya cerita begitu masuk act 2 sampe hingga menjelang act terakhir. Ada begitu banyak yang terjadi, ceritanya jadi serabutan, sehingga terasa ngulur-ngulur dan bikin durasi jadi enggak efektif. I think dengan ide cerita yang mudah ditangkap itu (ceritanya relatable banget buat semua orang, that’s a fact!), kita bisa menikmati film ini hanya dengan menonton bagian awal dan akhirnya saja.

Kadang di Jakarta, kadang di Toba. Sometimes its funny, sometimes its well-acted. Kalo ada satu hal positif yang menonjol di Toba Dreams, maka itu adalah musiknya. Saya yang biasanya cuek sama yang namanya musik, mau gak mau memperhatikan alunan nada-nada di film ini mendukung sekali buat keseluruhan presentasinya. Mungkin juga itu karena saya akrab sama lagu batak, sih. Gara-gara bokap yang orang jawa tapi demen muter vcd karaoke Trio Ambisi, saya jadi apal lagu Sai Anju Ma Au hehehe

Saya juga suka sama adegan berantem di rumah temannya, which I think was very intense. This is where Ronggur sadar akan kelemahan terbesar dari jalan hidup yang sudah dipilihnya. Bagian terbaik film ini tak pelak adalah adegan klimaks sebelum endingnya.. I’m glad they did it that way. IT HAD TO GO THAT WAY!!! Dengan begini, hubungan ayah-anak itu bisa ter-conclude dengan kerasa gak cari aman dan exciting abis. Saya suka gimana film ini enggak mendikte begitu saja siapa yang benar. Hubungan antara Ronggur dan ayahnya sedikit mengingatkan kepada hubungan antara Light Yagami dan ayahnya (Death Note 2). Toba Dreams adalah cerita yang lebih manusiawi, dan itulah yang membuat film ini begitu kuat.
smallthumb_vididfc_31032015_040506
I bet nama pistol itu Charlene, atau karena orang batak mungkin namanya adalah Charlen #FullMetalJacket

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Seperti Danau Toba, cerita film ini enak diselami tetapi kering di bagian tengahnya. The Palace of Wisdom gives 7.5 stars out 10 for Toba Dreams.

 

 

 

 

 

Remember, in life there are winners
And there are losers

 

We be the judge.

Advertisements