Tags

, , , , , ,

Video berikut dijamin bisa banget ngebantu kamu buat ngejawab pertanyaan annoying tentang acara pro wrestling semacam itu.

Very funny and educating, that guy said it best!

 

 

Pro wrestling is everything but wrestling. Mereka tidak menjual diri sebagai kompetisi olahraga. Lihat aja, mereka justru punya monster dari neraka, penjaga kuburan, matador, wonder woman, superman, supermodel kapiran, bajak laut, eccentric rebels, cult leader, crazy geeky girl, dan banyak lagi. Mereka menjual karakter-karakter; ada pahlawan-ada penjahat. Pro Wrestling lebih mirip Avengers ketimbang mirip UFC. Menonton pro wrestling itu sama aja dengan nonton kartun, nonton anime, nonton film, heck bahkan dramanya engga jarang lebih lebay dari sinetron. Ya, fiksi memang, but would you call a movie fake? No, they are scripted. Begitu juga pro wrestling.

Layaknya tokoh film, karakter-karakter dalam pro wrestling juga berkembang. Di video itu contohnya Triple H. Karakter Triple H tumbuh dari bangsawan kaku berdarah biru menjadi seorang pemberontak yang anti dengan penguasa. Ironisnya, sekarang dia menjadi sosok authority yang dulu selalu dia tentang. Buat ukuran sebuah fiksi, Triple H adalah contoh dari seorang karakter yang hebat. Karakter yang berkembang secara multi dimensi. Sebagai manusia, kita senang melihat orang-orang tumbuh, berubah, berjuang, we love to see people developing their own self into something. Kita demen menyaksikan perjalanan hidup yang penuh perjuangan, dan imajinasi seperti begitulah yg ditawarkan oleh cerita pro-wrestling. Dan dengan superstar yang begitu banyak, cerita di dalam pro wrestling gak pernah berakhir. Sama seperti kehidupan nyata. Their plots are always intertwined with the others. So yeah, pro wrestling itu lebih ke sebuah tv show yang nyeritain about life, in a comical way-sometimes cross the line, yang setingnya di dalam arena gulat.

Pendalaman karakter tersebut biasanya dilakukan juga dengan bantuan promo, yaitu ngobrol pake mikrofon di dalam ring maupun di backstage. Pertandingan di dalam ring adalah porsi aksinya, kayak tembak-tembakan atau adegan berantem dalam film action. They are semi-choreographed in order to advance the storyline. Semi-coreographed maksudnya menang-kalah udah ditentukan sebelumnya, gimana melakukan gerakan dengan aman juga mereka sudah apal, tapi saat nampil, they do it all live! Runtutan adegan di dalam ring berjalan begitu saja. Terkadang kita bisa dengar mereka bisik-bisik saat mau ngebanting “slam me”/”elbow!”. Dan sebagaimana pertunjukan live lainnya, para superstar harus tahu cara memancing emosi penonton. They should know the art of connecting with live audiences. Gak banyak loh performer yang mampu tampil ‘langsung’ on weekly basis mikirin alur pertandingan, risking their own neck doing acrobats while still maintaining connection with the crowd.

Memang sih beberapa ceritanya konyol, apalagi episode-episode yang sekarang ini. But dang, when they got it right, it was really awesome!! It is a big hit or miss, really. Malahan, aku mulai tertarik ama film garagara nonton WWE. I got my insight mana cerita yg delivered mana yg enggak, dari kebiasaan ngikutin storyline WWE. I could tell good or bad portrayed of characters, aku jadi bisa menilai mana aksi-bahkan mana musik-yang wellplaced atau yg samasekali gak mendukung penceritaan karena WWE melingkupi semua aspek entertainmen tersebut. Growing up watching prowrestling helps me develop this mindset yang sekarang kugunakan untuk nulis2 review.

Enggak ada ruginya kok nonton pro wrestling. Dan yang jelas juga enggak ada malunya. I’m proud being a WWE fan.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

 

 

Remember, in life there are winners

and there are losers.

 

2x

 

We be the  judge.

Advertisements