Tags

, , , , , , ,

“The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.”

 

TL_Payoff_1-Sht_v6_Lg23

 

–Warning! This article contains an excessive amount of compliments for Brittany Robertson.
So buat haters; do your best!–

 

 

Tomorrowland adalah film yang fun abis, well for the most part of it. Imajinatif dengan karakter-karakter yang likeable; keren dan kocak. Casey Newton (Britt Robertson is baaaaaccckk) adalah sosok tokoh yang tepat yang representatif banget buat suri teladan anak muda yang selalu memimpikan dunia menjadi tempat yang lebih baik. Britt memang paling bisa meranin remaja yang sedikit keras kepala tapi punya critical thinking model begini, dia tahu persis cara mengeksplor karakternya sehingga terasa spesial. Athena (cute freckles, Raffey Cassidy!) juga mencuri perhatian. Dia nampilin kualitas akting yang ageless dalam usia yang semuda itu! Meski sebenarnya tokoh yg paling intriguing dalam cerita ini adalah si Frank (George Clooney jadi old-grumpy-man). Meski hubungannya dengan Athena gampang ditebak ke mana arahnya, namun Frank ini terlihat semacam lain-di luar-dengan-yang-di dalam, penasaran aja pengen tau apa yg ada di balik pikirannya.
05 - Copy
Love seeing her having fun on the big screen again.

 

Punya pesan yang kuat, film ini menginspirasi kita untuk berani bermimpi, untuk not to give up hopes no matter what, and in the end, film ini got me into thinking. Sepanjang sejarah homo sapiens, banyak literatur tentang apa yang terjadi setelah kiamat. Dunia dystopia. Kehancuran, pecah belah, kekacauan, perang, bencana, manusia pindah ke ruang angkasa, ide tentang kepastian hari esok seperti itu, sadar ato enggak, telah membuat kita kehilangan rasa antusias terhadap masa depan. Ya kita menjadi terlalu tertarik sama ide-ide futuristik pembangunan sehabis kiamat/bencana. Ada benarnya juga kata Simon Pegg (yang main Shaun of the Dead itu, loh) tentang kita yang suka science-fiction dan bagaimana itu “dumbing us down”. Nyatanya memang we’ve gotten addicted and paralyzed by it. Di lain pihak, apa yang dilakukan manusia saat menghadapi itu semua? Angkat bahu dan balek ke gadget masing-masing. Padahal agama juga bilang kita harus mempersiapkan diri menghadapi akhir zaman . Dalam film ini diceritakan gimana efek beracun ‘losing faith with the future’ tersebut kepada manusia. Generasi yang tanpa lelah mencemooh generasi sesudahnya. Peradaban manusia seolah punya death wish, kita yg bikin ramalan-kita pula yang mewujudkannya, jadi kayak lingkaran setan.

Ada sedikit kemiripan dengan film Interstellar dari segi tema dan elemen-elemen narasi nya. Bahkan mungkin aja tempat di ending kedua film tersebut berada di dalam satu universe yang sama (ayoo tulis segera your own fanfic, fanboys!! Hihihi). Tomorrowland tampil lebih universal friendly walau style humornya rada-rada liar. Lebih ringan. Juga lebih realistically challenging. Kita enggak punya komputer galaksi super pinter yang bikin kita enggak bisa mati. Kita enggak punya planet kosong yang siap untuk ditempati begitu ibu bumi sudah tiada. Umat manusia cuma punya mimpi.

Sayangnya, pesan itu jatuh flat dengan resolusi yg klise parah begitu masuk act terakhir. In fact, keseluruhan cerita film ini yang udah dibangun mantap di dua babak awal terasa runtuh di akhir. Motivasi si antagonis yang, yah aku ngerti people crave for destructions and such, tapi gak bisa bilang gitu aja dong, maksain tanpa ada penggalian lebih lanjut. Kata-kata Frank ngomelin Casey jadi kayak diarahin directly ke penonton, “can’t you just be impressed and move on?”. Enggak bisa gitu. Mereka udah mengangkat pertanyaan-pertanyaan serius, namun lantas went on dengan memberikan jawaban, yang sama sekali enggak original! Aku merasa ditinggalkan begitu aja oleh plotnya, like, “ya memang gitu, so what?”.

tomorrowland
Natural reactions…. her chuckles….. yea she’s cute, so what?

 

Kalok ada yang lebih cantik dari Britt di sini, maka itu adalah visual filmnya. Tomorrowland di-direct dengan sangat kreatif. Dunia fantasy itu terlihat real (pgn berenang di kolam vertikal kayak gituu). Lucunya, adegan-adegannya punya logika sendiri, beberapa kayak adegan film kartun, yang justru itu hal bagus, jadi menguatkan aspek tentang ‘dare to dreams’ nya. Adegan Frank kecil naik wahana “It’s a Small World” sukses membuktikan teori aku selama ini tentang rumah boneka adalah ride yang paling seram benar adanya, hahaha! Suka sama cara mereka menampilkan adegan yang terpindah-pindah dalam sekejap itu. I found those as a complex and rather sentimental scenes. Porsi action nya pun tak kalah dahsyat. I had enough nerdgasm saat Casey masuk toko suvenir. Ada banyak tribute buat Star wars juga, iya iya Disney, kami setia nungguin akhir tahun kok hehehe.. Banyak, deh hal-hal awesome yang bisa kita lihat sehingga seolah mengalami sendiri. Personally, I was mark out begitu novel 1984 di-mention xD

 

 

Nonton ini kita akan dibawa dalam sebuah perjalanan yang seru ke tanah masa depan! The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 platinum stars for Tomorrowland. No coke tho!

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

05 - Copy (4)
A strong candidate buat Unyu Op The Year My Dirt Sheet Awrds V :lope:

We be the judge.

Advertisements