Tags

, , , , , ,

“No wise man ever wished to be younger.”

 

AgeofAdalinePoster640

 

Karena kecelakaan, Adaline jadi gak bisa bertambah tua, mentok di umur 29. Premis plotnya cukup seram sehingga bisa aja dijadiin thriller. Apalagi kayfabe science nya pake dijelasin dengan kumplit di dalam film, sort of hati nya membeku terus kesetrum petir jadi bisa hidup kembali kayak gitu. Tapi penceritaan Age of (Ultron! ..hehehe enggak ding) Adaline ini mengambil arah lebih ke drama, dengan mengangkat konflik tentang eksistensi manusia dan relationship nya dengan orang lain.

It is actually a decent story. Ada well-placed plot twist di tengah yang juga merupakan main conflict buat Adaline. Aku suka twist yang seperti begini, mengalir alami. Menurutku twist yg bagus itu bukan plot yg sengaja dibengkokkan seenak jidat si yg bikin film, buat ngecoh penonton semata. Twist baru bisa dibilang keren kalo twist itu sendiri adalah satu-satunya resolusi dari plot yg ada, yg enggak bisa diliat sama penonton pada mulanya. Yang kontan bikin penonton mutar balik mikir, dan pada film ini, twist yang saya maksud itu sukses bikin kita-kita yang nonton bilang, “haaaahh ternyata!? hayo lo Del, mamam…. gimana tuh sekarang”

Sosok Adaline digambarin sebagai sosok wanita tangguh yang classy banget. Old soul dalam raga muda gitu. In a way, dia kayak Vermouth yang di Detektif Conan.
CYMERA_20150608_200813 Ageless and mysterious

 
Blake Lively sempurna sekali memerankan tokohnya, saya ga bisa membayangin Adaline diperankan oleh orang lain. Pembawaan dingin Adaline diimbangi oleh Ellis (dimainkan penuh karisma oleh Michiel Huisman) dan diberikan tambahan sentuhan emosional oleh karakter yang diperankan dengan superb oleh Harrison Ford. My problem with Adaline is saking classy dan cool nya, dia terlihat rada invulnerable. Keras dan dingin sekali. Memang ada satu-dua kali dia menangisi nasib, tapi dia seolah gak terpengaruh amat ama semua itu. Enteng aja main pindah alamat dan ganti nama. Mungkin juga dia memang udah ‘kebal’ kayak Elsa versi “galau never bother me anyway~” Saya sendiri aja kayanya bakalan semati rasa itu juga kalo udah idup muda berpuluh-puluh tahun seperti dia. Realisation justru datang dari anak si Adaline yg udah jadi nenek-nenek. Dia yg ngingetin, “Ma, bentar lagi aku isdet, siapa dong yang ntar bisa mama ajak curhat?”

Kebanyakan manusia takut mati karena kematian itu berarti semua yang kita punya bakal berakhir. Kita takut meninggalkan itu, dan berharap bisa hidup lebih lama dari yang seharusnya. Padahal Dumbledore udah pernah bilang “Bagi pikiran yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya.” Hidup, mau selama apapun, tidak akan berarti jika kita tidak live it up. Being young forever tidak akan ada artinya jika kita tidak mengisi hidup. Umur hanya sekadar angka. Berumur panjang enggak lantas membuat kita gak bisa mati. Ada banyak hal yang lebih mengerikan daripada mati secara fisik. Thoughtful, film ini mengajak kita untuk go on living past our own fears sembari senantiasa memberikan meaning lebih ke dalam kehidupan kita masing-masing.

 

 

 

Saya nonton film ini awalnya hanya karena twitter saya difollow sama akun Lionsgate bertanda centang, toh nyatanya The Palace of Wisdom gives 8 immortal stars out of 10 for The Age of Adaline! I’m glad udah nyempetin waktu buat mengikuti kisah dalem ini dari awal sampai abis. Cuma dua jam kok, enggak sampai 100 tahun 😀

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners

and there are losers.

 

 

 

We be the judge.

Advertisements