Tags

, , , , , , , , , , ,

“Anonymity is an internet superpower.”

 

UFD_Tsr1Sheet_RGB_1216_FB_Hshtg_3

 

Pernah kena unfriended, atau kena unshared, atau malah pernah kena blok di internet? Apparently di era teknologi informasi sekarang, nge-unfriend adalah salah satu cara orang ngasih tau kalo mereka lagi ngambek sama kita. Sedikit childish memang, juga kind of dumb, just like teenage world haha. Sepintas, film ini pun terkesan sebego horor remaja biasa, you know, yg tokohnya bengong trus teriak2, ngelakuin hal-hal idiot yg ujung-ujungnya jump scare gapenting. Pierres aja, my group of friends, pernah ngeledek trailernya abis-abisan.

Tapi ternyata enggak, dan dari kacamata penggemar cerita seram, aku suka film ini. Unfriended punya pendekatan storytelling yang berbeda. Dengan efektif makek gimmick skype, youtube, instagram, meme, mail, facebook messages; sepanjang filmnya kita lihat dari layar komputer si Lily Blaire (diperankan dengan very well oleh Shelley Hennig), Unfriended tells an intense, unique-kind of psychological horor story.

Iya sih, tokoh-tokohnya masih seputar stereotype karakter remaja film barat, mereka video-group chat gitu di skype when suddenly account teman mereka yang udah meninggal ikutan nimbrung! Dia mau nuntut balas karena udah kena cyberbully hingga mati bunuh diri. Pesan dan presentasi film ini memang pas sekali buat kita-kita yang generasi internet (ciee..’kita’?). Apalagi di sini hantunya kayak ada di dalam komputer. Sehari-hari kan kita makek komputer, bayangin kalo kita tiba-tiba gabisa nge-close video, nge-comment sendiri, ngecilin volume aja gabisa, kehilangan kontrol komputer kayak yg dialami Blaire en de geng. Aku aja panik setiap lagi browsing tautau muncul suara iklan web, ehaduh itu mana yg bunyi??? close-close-CLOSE!… ekok masi bunyi? Hahaha, like,
00067796

 

Weak point dari Unfriended adalah tokoh-tokohnya yang…well, mereka remaja sehari-hari banget tapi rada susye untuk menyukai mereka. The writing of their characters biasa aja. Syukurnya gak pada bego-bego amat. I think I like Jess Felton (Renee Olstead bermain natural banget) dari antara mereka semua. Ekspresi dan suaranya itu loh, she seems funny. Dan kinda smart, buat ukuran blonde lol

Salah satu yang aku suka adalah film ini detil sekali. Bunyi notif skype dan facebook kayak bunyi yg asli, video chat yg kadang nge lag dan patah-patah, suara yg belum keluar padahal mulut udah komat kamit, semua aspek itu turut andil bikin filmnya makin realistis. Blaire yang nge-reply, mikir dulu, delete dan nulis lagi, mikir, apus lagi, baru akhirnya ngepos jawaban, itu human banget gasih!?! Kita juga biasanya kan mikir seratus kali dulu sebelum ngepost reply. Buat pengembangan karakter, hal tersebut efektif sekali, kita jadi bisa learn about Blaire personality dengan meliat dia changing her mind like that. Para tokoh yg lain juga gitu, they all acted like if a real human was put in that same situation.

Soal aspek horornya juga aku suka. Hantunya gak keliatan, death scenes nya sekelebat aja. Bener-bener plays on our imagination. Tokoh yang ngeliat sesuatu, entah dia lagi melototin atau lagi diplototin, tapi aku gak bisa liat apa yang mereka liat dan mereka sama sekali gak bilang mereka lagi liat apa!!. Totally unnerving dan bikin penasaran- ‘Palace of Wisdom like this :jempol:’
And the film is actually took it beyond, with a lot deeper message. The lack of empathy orang-orang di internet, sok-sok sarkas dan antagonis karena berlindung di balik anonimitas dunia maya, itu sebenarnya lebih nakutin daripada orang yang bawa bawa kapak. And in turn, internet can turn friends against each other. Kita bisa lihat gimana Laura Barns mengekpos satu per satu rahasia kecil teman-temannya, hanya lewat tulisan chat. Seriously, cyberbullying is happening. Memang ada orang yang bunuh diri karenanya. Film ini nunjukkin betapa besar akibat cyberbullying tersebut, bisa dibilang dengan metafora hantu, as sebenarnya rasa bersalah sudah menyebabkan orang bunuh diri tentu saja bisa mempengaruhi seseorang mentally. Unfriended adalah pelajaran buat generasi muda on how they use internet tanpa menyinggung orang lain.
Sayangnya ga semua orang bakal suka sama film ini, Unfriended really is a like it-or-not kind of movie. Enggak semua orang betah mantengin layar komputer remaja selama 80 menitan lebih. In that sense, film ini mirip 12 Angry Men yang juga hanya memakai satu lokasi sepanjang filmnya. Aku suka horor, dan Unfriended adalah horor yang berani tampil beda, dan menurutku mereka berhasil menampilkan penceritaan yang efektif buat target demographic-nya.

 
Yang jelas, kalo bisa kebawa mikir dalem padahal yg ditonton cuma film remaja, you know that film must be something special! The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars (no glitch!) out of 10 for Unfriended.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements