Tags

, , , , , , , ,

“It’s Sobbering Time!”

 

fantastic_four2015-2

 

Sekarang ini adalah masa-masa menyenangkan buat comic book nerds. Para pahlawan super di dalam buku bergambar itu, berkat kecanggihan teknologi, mereka bukan hanya hidup tapi juga berevolusi menjadi sesuatu yg bisa dibilang larger than life. Liat saja baru-baru ini si Ant-man, a lesser known superhero, sukses besar di layar lebar- ngikutin pendahulunya yang lebih punya nama. But just when we think film comic book superheroes could not go wrong, Fox gives us Fantastic Four.

Ugh.

There is, literally, enggak ada yg bisa dipuji dari film tentang 4 orang yg mendapat kekuatan super after some ‘science disaster’. Aku kecewa, alih-alih “It’s Clobbering Time!” aku malah ngerasa “It’s Sobbering Time!!”. I believe bukan karena cast nya film ini gatot, no, they got a pretty nice line up of young stars. Michael B. Jordan yang main di Chronicles meranin Human Torch. Jamie Bell jadi Ben Grimm a.k.a The Thing versi manusia. Miles Teller, which is real talented– kita bisa liat he can actually draw heat di Insurgent, atau tonton aja Whiplash, di sini dia jadi Mr.Fantastic minus jambang uban. Dan Kate Mara is awesome di American Horror Story, sayang di film ini Sue Storm nya boring. Fantastic Four gagal simply karena mereka terlalu sibuk berusaha menciptakan franchise baru, mereka melupakan unsur cerita nya.

 

Ya, cerita. Plot film ini kosong melompong, sama sekali enggak ada yg terjadi selama 90 menitan yang menyiksa itu. Mereka got their superpowers, musuh tercipta, mereka berantem bentar, dan save the world. Udah. Oh iya, the reason dunia dalam bahaya in the first place adalah karena ulah mereka sendiri; ngambek karena gadikasih nyobain ‘mainan baru’, apaan tuh!. Backstory dari plot utama sama bego dan kosongnya dengan tampang si Dr. Doom (diperankan oleh Toby Kebbell; kasian bgt ni orang ckck). Mereka melewatkan begitu saja kesempatan untuk developing karakter dengan “one year later”, oh betapa malasnya. Seriously, character writing tokoh-tokoh sentral itu terlalu konyol untuk film yg berusaha tampil sewah Avengers dan seserius Dark Knight ini. Para Superhero itu ditulis berbeda dari versi komik nya. Dr. Doom yg aslinya keren, di film ini cuma cendol lava-kayak-plastik immature dengan motive yg….well, buat apa coba punya niat nuker bumi ama planet dimensi lain itu?.

Doom_Screenshot

secret superpower: hack your facebook account

 

Jokes hampa, relationship berasa forced.. Sue dan Johnny yg saudara angkat beda ras, it was okay, tapi kemudian mereka lanjut dengan menulis keduanya sebagai: yang putih pintar dan baik dan patuh, sedangkan yg satunya rulebreaker plus angotan.  So absurd it’s not even funny. Efek CGI nya parah buat ukuran film dengan budget segede itu. Green screen nya halusan dikit lah kalo dibandingin ama Garuda Superhero. I just don’t get it kenapa mereka berbelok dari cerita originalnya. Film ini terlalu terpaku about making this universe yg bisa mereka tambang terus dengan sekuel-sekuel. Itulah masalah perfilman sekarang. Semua merasa kudu punya cerita lanjutan. Sah-sah aja bikin episode kedua karena yang pertama sukses berat. Tapi jangan bikin film dengan niat dipanjang-panjangin demi uang semata. Tukang jualan memang banyak, gampang. Yang susah adalah menjadi tukang cerita. Dan peraturan nomor satu dalam bercerita itu adalah never, eeeeveerrrr insult your audiences’ intelligence.

Well, blockbuster luar musim panas ini enggak terliat begitu gemilang. Hollywood ga setanpa cela seperti dugaan banyak orang. Jadi mengapa kita tidak coba beralih ke alternatif yang lebih dekat, yang lebih relatable? I’m just saying, kenapa berbondong-bondong nonton rebootan gagal, or heck, even, kenapa peduli dengan lelucon lame Adam Sandler kalo masih ada pilihan film nasional, apalagi sekarang dalam rangka tujuhbelasan. Kapan lagi, yegak.. Merdeka!

 

It is not even worth ngebahas malasah tentang director nya ngemeng kalo versi asli film ini sebenarnya lebih fantastis. The Palace of Wisdom gives 4 stars out of 10 for Fantastic Four. Biar semua kebagian aja. Bagi adil deh tuh bintangnya, Doom jangan dikasih.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

 
Remember, in life, there are winners
And there are losers.

And meanwhile at Fox
hF201E33A

 

We be the judge.

 

Advertisements