Tags

, , , , , , , , , , ,

“The real and lasting victories are those of peace, and not of war.”

 

39453ddac4bccf1ed38003a1fd973139-045809000_1439997475-poster

 

Battle of Surabaya, atau aku lebih suka bilangnya Battle of Suroboyo, adalah film animasi komersil pertama di Indonesia (cmiiw there) yang kabarnya dilirik oleh Disney. So, this movie must be good, right?

…..er, right??

 

Kalo rumor tersebut benar, maka the logical reason I could think of why Disney wants this movie adalah because of its main plot dan characters yang particularly menarik. Premis utama film ini bisa banget dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih enjoyable. Seorang anak kecil tukang semir sepatu dijadikan kurir bagi panglima dan para pejuang Indonesia, dia bekerja undercover nganterin surat-surat tactical yang ujungnya adalah meletusnya perang besar melawan sekutu 10 November 1945, Perang Surabaya. Ini adalah kisah sejarah, dengan klan ninja menyusup di dalamnya, kurang menarik apa coba?

Film ini did try buat nyeritain tentang dampak perang terhadap pihak-pihak yang terlibat; gimana dalam perang enggak ada yang menang, tentang selalu ada yang dikorbankan. Menurut kalian Inside Out terlalu berat buat anak-anak, well, here comes the new challenger! Musa (dan semua anak yang nonton) menyaksikan tiga orang kesayangannya meninggal dunia, dengan tragis. Semua tumpah darah itu tidak bisa dihindari, kebebasan memang pantas untuk diperjuangkan. Namun, bersama Musa kita akan belajar tentang kemenangan yang sejati berasal dari perdamaian, bukan dari peperangan. Aku suka the efforts they put into that arc. It is nice to see ada film lokal yang berusaha menggali psikologi dalam peperangan seperti ini, it explores inti dari setiap cerita perang yang bagus; moral dilema. Namun, esensi tersebut kurang sukses diceritakan, mainly, karena film ini gagal untuk membuat kita peduli sama tokoh-tokohnya.

 

Visualnya bagus, on still shots. Penggambaran environment sekitar cukup halus, ada set 3D segala. Tapi begitu tokoh-tokohnya bergerak, berinteraksi, gambar-gambar itu terlihat masih terlalu kasar dan gak detil. Mungkin udah memang trend masa kini animasi dibikin simpel, enggak tau juga, kayak kasus Dragon Ball di bawah ini, take a look
h5B8F5015
Aku enggak bilang kalo animasi yang bagus harus sedetil gambar yang 1995. Film Spirited Away yg fenomenal itu juga tergolong simple but still holds more emotions inside of it. Sayangnya, ekspresi yang digambarkan di dalam film Battle of Surabaya lebih mendekati Goku yang di bawah. Datar dan emotionless. Saat adegan pengeboman, orang-orang itu hanya ngangkat tangan ngelindungin muka dan teriak. Enggak ada sense of impact, efek tiupan angin, ataupun detil yang lain. Bahkan sound yang keluar juga enggak diperhitungkan datangnya dari arah mana. Just a loud boom. Animasinya terlalu sederhana untuk cerita sekompleks cerita perang. Sehingga ekspresi yang ingin diceritakan jadi enggak keluar, no matter how hard the dubbers tried.

 

Battle of Surabaya memang paling menderita dari segi storytelling. The way they tell seorang tokoh berkembang dari poin A ke B. Berantakan. They didn’t let us invest much on the character development. Akibatnya kita jadi gak peduli amat pada apa yang terjadi pada Musa (Ian Saybani suaranya klop meranin Musa), atau Yumna (the ever-so-talented Maudy Ayunda sounds a little weird here, tho), atau Danu (Danu is kinda jerk for treating kids like that, suka gimana Reza Rahadian whispers life ke dalam tokoh ini).

Film ini formulanya cuma cerita eksposisi, yang mana merupakan cara terburuk dalam bercerita buat medium film; Ada tokoh baru, mereka menjelaskan siapa mereka. Terus tokoh sejarah nyeritain apa yang terjadi on real timeline. Penonton dirampas dari kesenangan menemukan cerita. Danlagi, pemaparan cerita tersebut dilakukan dengan pace yang cepat, filmnya terlihat terburu-buru. Clearly, mereka gak nyiapin banyak gambar untuk bikin cerita yang runtun. Mereka lebih memilih spent time untuk bikin adegan romansa dan komedi yang cheesy. Adegan perangnya lumayan, tapi this movie totally lost me saat mereka pake adegan yang rip-off dari adegan Hunger Games Catching Fire.

 yang ini nih, serdadu nembakin para pejuang yg pantang mundur lari membawa bom ke arah mereka meski dihujani peluru

yang ini nih, adegan serdadu nembakin para pejuang yg pantang mundur lari membawa bom ke arah mereka meski dihujani peluru

 

 

Battle of Surabaya aku yakin (dan geram banget) bisa jauh lebih baik lagi. Tarok Kak Seto sebagai narrator nya, for an instance lol

Enggak mudah nyeritain cerita perang dan pesan-pesannya, apalagi buat anak-anak, tapi untuk sampai ke sana bikinlah dulu penonton peduli sama cerita yang ada. The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 bulletproof stars buat Battle of Surabaya.

 

 

 

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

We be the judge.

Merdeka!!!

Advertisements