Tags

, , , , , , , , , ,

“All war represents a failure of diplomacy.”

 

JenderalSoedirman-Poster

 

Bergerak diam-diam, hit-and-run, menggunakan element of surprise adalah cara paling tokcer dalam menyerang oposisi yang punya advantages lebih dari kita. Batman adalah yang pertama terpikirkan ngomongin soal taktik begini. Or you would think high of yourself kalo kamu udah namatin game Assasin’s Creed. Sesungguhnya itu semua bukan apa-apa dibandingkan sosok pahlawan jenderal besar yang namanya udah diabadikan jadi nama jalan gede di kota-kota tanah air kita. Tokoh yang udah bikin Belanda bingung dengan siasat kucing-kucingannya. Bapak Gerilya Sedunia; Jendral Soedirman.

 

Buat yang gak apal-apal pelajaran sejarah atau rajin tidur di kelas,

“…must… help….. Leo Dicaprio…ngrokZZzzzz”

“…must… help….. Leo Dicaprio…ngrokZZzzzz”

Soedirman adalah tokoh pahlawan nasional yang memilih untuk berjuang masuk hutan saat Agresi Militer Kedua oleh Belanda. Sebagai seorang soldier, Beliau enggak sudi untuk ngikut Presiden Soekarno bertempur di balik meja sama kumpeni gitu aja. Film Jenderal Soedirman ini menceritakan just about that. Tentang perjuangan yang Jenderal Soedirman lakukan di dalam hutan bersama pasukannya- yang berjumlah dan bepersenjataan kurang dari Belanda. Tentang struggle demi kemerdekaan dan ideologi. Juga tentang konflik batin yang pasti selalu ada dialami oleh para tokoh-tokoh setiap cerita peperangan. It’s not merely a flat-out biopic, dan itulah yang aku suka dari film ini.

Durasi dua jam terbayar cukup lunas dalam nyeritain pergolakan yang dialami oleh, bukan hanya Soedirman dan pihak Indonesia, pihak Belanda as well. Aku suka gimana filmmaker points out persamaan yang dimiliki oleh Jenderal Soedirman dan General Spoor. Dan pay-off nya di akhir cerita- saat Beliau mulai menerima bahwa victory lebih penting dari posisi, bahwa perang terjadi justru karena kegagalan dalam berdiplomasi- it was so good dan carefully directed. Semua yang terjadi saat final scene tersebut; adegan Presiden minta difoto ulang-Jenderal dipeluk lagi, perfectly menutup cerita dengan strong, ninggalin penonton with so many emotions.

“saya kembalikan jabatan panglima tertinggi” *merindiiingg gaes*

“saya kembalikan jabatan panglima tertinggi.” *merindiiingg gaes*

 

Film ini juga bukan hanya sekedar reenactment sejarah. That would be boring. Kita diajak juga untuk mengenal beberapa orang pasukan Jenderal Soedirman yang udah ikut berjuang bersama Beliau di hutan. Kehadiran tokoh-tokoh yang aku sebut free-spirit itu (see my Guru Bangsa Tjokroaminoto review here) sukses bikin kita makin masuk ke dalam cerita. Tokoh-tokoh yang ga ada dalam sejarah ini lebih mudah to relate to dan ngasih tone ringan yang acceptable in order to drive cerita ke cahaya yang gak begitu serius. Si Karsani misalnya. Aku bahkan ga tau siapa yang meranin tapi he was there to play with our emotions. Efektif, meski kadang delivery dan jokes nya over the top.

Yea, there are major acting problems on this movie. Lebih banyak miss dibanding hit. Baim Wong meranin Presiden Soekarno adalah satu dari sedikit hit yang aku rasakan, while Nugie dan Mathias Muchus enggak begitu berdampak meranin Bung Hatta dan Tan Malaka respectively. Aktor bulenya was so-so. Namun yang paling enggak cocok adalah Adipati Dolken, yang tampak terlalu ‘mulus’ memerankan pejuang kelas kakap semacam Jenderal Soedirman. They do need starpower supaya bisa bikin penonton remaja tertarik mengikuti cerita sejarah, dan Adipati adalah satu dari bintang remaja top saat ini. Hanya saja peran Soedirman terasa terlalu tinggi buatnya. Muka memandang ke depan, suara diberat-beratin, butuh lebih dari itu untuk menciptakan karakter Soedirman yang kharismatik. I dunno, mungkin tata riasnya yg kurang atau apa, ada shot yg ngeliatin punggung tangan Soedirman sekilas; it was too clean. Begitu juga dengan pemeran lain. Penampilan mereka kurang mencerminkan pejuang yang udah spent great amount of time di dalam hutan. Enggak ada banyak perubahan dari adegan mereka masuk hutan sampai keluar lagi.

Banyak yang dihadapi Soedirman dan anak buahnya di dalam sana. Berlindung dari serangan bom dari udara oleh pesawat CGI (yang cukup seru btw). At some point, bukan saja Belanda yang harus mereka waspadai. Kelaparan, kedinginan, bahkan krisis kepercayaan juga menghantui perjuangan mereka. Film ini sayangnya hanya sekilas menyinggung hal-hal tersebut. Menurutku itu merupakan wasted opportunity fatal, karena cerita seharusnya bisa dibikin lebih dalem lagi jika semua itu dikembangin maksimal. The themes were there, but they just didn’t give much exploration for those. Tentang keraguan beberapa anak buah untuk terus ikut berjuang, misalnya. Atau sedikit psikological approach nyeritain tentang pengkhianat di antara mereka, pasti bakal jadi subplot yang menarik. Dan bisa buat ngembangin sisi manusiawi Jenderal Soedirman sendiri. Lagi sakit, memang, I’d say Soedirman harusnya bisa tampil lebih berpengaruh daripada cuma batuk-batuk dan sembunyi berdoa biar enggak ketahuan.

I guess it’s safe to say that we all want to see sepak terjang Soedirman lebih banyak

I guess it’s safe to say that we all want to see sepak terjang Soedirman lebih banyak

 

Gerilya esensinya adalah serang dan sembunyi bukan karena takut, melainkan karena penuh perhitungan. Begitu juga diplomasi; dipilih bukan karena takut atau enggak percaya kepada kekuatan sendiri, diplomasi adalah langkah yang diambil dengan penuh perhitungan demi menghentikan peperangan. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 Bintang Tanda Jasa buat Jenderal Soedirman.

 

 

 

……Anyway, aku jadi kepikiran kisah pejuang dan pahlawan kita kan saling tied-in, tuh, satu sama lain. Film ini sendiri, secara timeline, takes place setelah event di film Tjokroaminoto. Keren kali ya, kalok cerita perjuangan kita dibikin ala-ala Avengers gitu, jadi nanti tokoh-tokoh kemerdekaan itu beraksi di satu film bareng hahaha…..

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

Advertisements