Tags

, , , , , , , , , , ,

 

“Horror movies don’t create fear, they release it.”-Wes Craven

CYMERA_20150831_084822

 

 

Penggemar horor dirundung duka. Salah satu director horor terbaik, Wes Craven- jenius di balik successful slasher semacam A Nightmare on Elm Street, The Hills Have Eyes, The Last House on the Left, Scream– meninggal dunia karena brain cancer di usia 76 tahun. Karya-karya Beliau sukses semua paved a way buat generations of horror to come. In honor of Wes Craven passed away 30 Agustus lalu itulah, The Palace of Wisdom sekali lagi nonton keempat film Scream, dan coba (sebisa mungkin try not to fanboy-ing too hard) ngereview film yang pertama kali membuatku jatuh cinta sama genre ini.

 

 

SCREAM (1996)

scream (1)

scream (2)

 

 

 

 

SCREAM 2 (1997)

scream2 (1)scream2 (2)

 

 

 

SCREAM 3 (2000)

scream3 (1)

scream3 (3)scream3 (2)

 

 

 

SCRE4M (2011)

scre4m (1)scre4m (3)scre4m (2)

 

 

Kalo diurutin, The Palace of Wisdom will give the first place to Scream original, runner up nya Scream 4-fun dan berhasil bikin ceritanya balik ke aura sebelumnya, terus Scream 2-paling gore dan sadis, dan paling bontot Scream 3.

Kalo Ghostface, yang juara adalah Jill (seriously, kalo ada dubsmashan dialog nya, aku mau deh nyobain ahhaha). Stu is the close number two. Dua orang ini paling sadis dan ga pandang bulu. Motif mereka juga pure gila. Stu bahkan ga punya motif yg jelas. Dia bilang peer pressure, tapi bisa juga karena cemburu sama Casey, heck I say hanya karena dia menikmati itu semua.

Oh iya buat bonus, serial TV Scream yang ditayangin MTV juga baru saja menyelesaikan season 1 finale nya. Not bad, meski Wes Craven gak turun langsung nanganin serial ini, Scream TV tampil cukup cerdas-nyinggung masalah slasher yang susye untuk dibikin per episode tanpa nge-drag ceritanya too much, ada banyak serial lain yang jadi referensi setiap minggunya. Dari segi karakter, Scream TV agak lemah karena masih terlalu stereotipical. Revealing ghostface nya juga predictable. Mungkin mereka masih pemanasan buat musim berikutnya. Semoga.

 

 

That’s all we have for now.

 

 

Truly a winner in this world of winners and losers.

 

Thank you for the screams and the nightmare

Rest in Peace, Horror Maestro.

 

 

Wes Craven (1939-2015)

 

 

Advertisements