Tags

, , , , , , , , , , ,

“Like a lost flower, growing with mad wind.”

 

LilyBungaTerakhirku-Poster

 

Kata orang, menanam kebaikan maka yang tumbuh adalah kebaikan juga. Namun apa yang tumbuh kalo yang ditanam adalah bunga di tanah kuburan ibu terus dipupuki pake jasad penjahat-penjahat?

Psstt jangan dibaca keras-keras, nanti rahasia toko bunga Tura (Baim Wong plays a anti-hero perfectly) ketauaaan. Not that he would even care, tho. Ibu Tura diperkosa dan dibunuh oleh dua orang pria saat Tura masih kecil, di depan matanya. Pemandangan seperti itu mampu mengguncang mental siapapun yg melihat. Anak ini tumbuh dengan dendam dan rasa bersalah. Hidup sendiri, Tura tampak normal ngurusin bunga yang dijualnya ke rumah bordil. Bunga-bunga indah itu jualah yang mengantarkan dirinya kepada Lily (Salvita Decorte mirip Spencer yang di Pretty Little Liars yaaa), hooker anak-emas Bunda (karakter Wulan Guritno ini actually yang paling manusiawi here). Lily tertarik kepara Tura, dan Tura, well, teringat akan ibunya, Tura banting setir; dari randomly membunuh pemerkosa jalanan, jadi pembunuh ‘tamu-tamu’ Lily yang kalangan jet set. Pake apa dia membunuh orang-orang itu? Tentu saja, dengan bunga. Flower Power!!!

"not you, guys! take a hike, sana!!" *peace*

“make love not war, bro!!”

 

Aku benerbener gak nyangka loh cerita kelam seperti ini ternyata buah pikiran seorang komedian. Film pertama Indra Birowo ini bukan hanya enggak lucu- and that’s compliment!– tapi juga really unsettling. Lily: Bunga Terakhirku bukanlah drama cinta dengan gimmick suspense biar hits. THIS MOVIE IS ACTUALLY A DARK STORY ABOUT A MAN WHO IS SO OPPRESSED BY HIS GUILT, satu-satunya cara dia merasa lega adalah dengan membunuh orang-orang yang melakukan hal yang sama dengan yangg dilakukan pembunuh ibunya. Aku suka thriller yang tokohnya semacam antagonis kayak gini. Seorang anti-hero. Dia ngelakuin hal yang kita tahu amoral, tapi kita bersimpati pada yang dilakukannya. Tura sukses bikin kita bingung harus nge-cheer atau enggak saat dia membunuhi anak pejabat itu.

Banyak metafora dan trivia tentang bunga yang disebar, yang sukses bikin kita makin asyik ngikutin cerita. Penggunaan bunga tertentu sebagai ‘jurus pamungkas’ yang selalu dipakek Tura adalah langkah yang keren. Mood ceritanya seimbang dan berganti dengan mulus. Meski enggak begitu berdarah-darah, THERE ARE HIGH LEVEL OF VIOLENCE dalam film ini. The ongoing theme of rape, kekerasan terhadap wanita, berpotensi disturbing buat beberapa viewers. Film ini memang sangat dewasa di dalam penceritaannya. Adegan-adegannya intense dan well-shot. Pemain-pemainnya pun bisa dibilang ga tanggung-tanggung meranin karakter mereka yang penuh cela sebagai seorang manusia.

film-lily-bunga-terakhirku-cara-kelam-untuk-mencintai

“the beautiful people, the beautiful people, hooo~~~”

 

I like to see how crazy mind works. Tura di sini bikin aku teringat sama Frank yang di remake film Maniac (diperanin Elijah Wood). Mereka sama-sama terperangkap dalam subjektifitas mereka sendiri. Frank dengan manekin, Tura menyalurkannya dengan khusyuk kepada bunga. Dia tau segala hal; mulai dari merawat sampai dengan makna setiap bunga tersebut. That was his only purpose in life; ngurusin bunga yang ditumbuhkannya dari makam sang ibu. Kematian memberi jalan buat kehidupan, in his mind, tindak kriminal yang dilakukannya terhadap para pria idung belang bukan hanya sekadar balas dendam. Dia merasa begitu bertanggungjawab, sehingga somehow dia yakin itu adalah cara dia menyelamatkan hidup orang. Turning them into something more useful. Akan tetapi, tidak seperti Frank yang motifnya berkembang menjadi lebih manusiawi, Tura enggak diberi kesempatan untuk evolve. Barely psychological. Bahkan lama-lama aku gayakin dia ini seorang psikopat atau apa. Ada satu momen Tura terlihat total crazy, which is one of my favorite scene on this movie

Lily nanya “kamu apain dia, Tura?” and he was like, "well duh!" lol

Lily nanya “kamu apain dia, Tura?” and he was like, “well duh!” lol

Namun makin ke sini, Tura justru jadi terlihat obsesif, killing anyone near Lily like that. Bukan jenis ‘gila’ yang bisa dimaklumi. Dan itu bikin aku susah untuk feel for him. Simpati beralih ke Lily, the one who suffer the most, physically. Ini karakternya juga aneh, kinda cool the way dia was okay terhadap ‘kerjaan’ Tura, tapi belakangan Lily menjadi one-dimensonal annoying. Terutama di adegan-adegan sama Bunda. Bunda sendiri memang selfish, but she is so good being at it. But I guess rooting buat Bunda juga pointless, so pada akhirnya aku berhenti peduli. I just want this whole story to end.

Dan saat itulah semuanya mulai bagus lagi. Lily: Bunga Terakhirku REALLY GOT ME AT THE ENDING. Aku gamau spoil akhirannya, kamu-kamu harus nonton sendiri- endingnya was soo good, tapi untuk simpelnya aku literally gini pas adegan final itu “Oh, ya ya udah ketebak pasti dia bakal gitu….. eh, tunggu, dia tau…. EH EH EH EH! Dia go through with that!!?!” Aku gatau, out of love atau apa, mungkin agak nge-rush, tapi momen sudden acceptance itu worked for me. It was a nice send-off buat para penonton.

 

Enggak jelek untuk sebuah persembahan pertama. Lily: Bunga Terakhirku tersandung masalah kecil kayak kronologi cerita yang agak kabur- gajelas urutannya dan agak rancu secara timeline, unnecessary CGI- it looked fake!, karakter yang mandeg (mungkin nulisnya lelah), dan pemeran Tura cilik yang annoying-ya suaranya, ya aktingnya. Tapi sebagai penggemar cerita thriller, aku bilang film ini memuaskan.. dan liar, kayak bunga ketiup angin. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars dan seikat kembang for Lily: Bunga Terakhirku.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 
We be the judge.

Advertisements