Tags

, , , , , , , , , , ,

“We must let go of the life we have planned, so as to accept the one that is waiting for us.”

 

BidadariTerakhir-Poster

 

Minggu lalu ada Lily: Bunga Terakhirku, sekarang muncul lagi film yang protagonis nya seorang prostitute,- pake kata ‘terakhir’ juga di judulnya. Like, is it some kind of a gimmick? Aku harap ini gak jadi trend, lho.

Sesungguhnya kedua film tersebut penulisnya sama. Meski begitu, Bidadari Terakhir adalah penceritaan yang sama sekali berbeda dari kisah serial killer itu. Ini adalah sebuah drama tentang seorang anak SMA yang jatuh cinta kepada wanita PSK. And it also happen to be inspired by an actual story, walau aku gatau terinspirasinya sejauh apa. Rasya (cowok geeky yang dimainkan keren oleh Maxime Bouttier) adalah seorang pelajar pintar, tekun, nurut, kebanggaan bokapnya banget. Dia diajak ke sebuah lokalisasi, Paradiso, buat acara ultah temennya. Di sana Rasya yang nolak ditraktir ‘jajan’ malah ngobrol, atau lebih tepatnya diajak ngobrol oleh Eva (slutty, street-smart, mysterious, but somewhat vulnerable, Whulandary Herman did a decent job portraying this character). Takjub akan analisis ala Sherlock Holmesnya, seketika itu juga, semua yang ada pada diri Eva menarik bagi remaja yang hanya tahu dari buku tersebut. Eva pun sepertinya juga terpesona dengan kepolosan dan kebaikan Rasya. Dan dari yang awalnya pura-pura minta ditemani, Rasya dan Eva berlanjut menjadi lebih dari sekedar temanan.

 

Love story kayak gini ga bakal berhasil tanpa ada chemistry antara kedua tokoh utama, dan ANTARA RASYA DAN EVA; THE SPARKS ARE FLYING RED HOT! Dinamik antara mereka berdua terasa genuine. Rangkaian adegan interaksi mereka di separoh awal terasa begitu menarik. Kocak, lugu, Rasya awalnya malah nyentuh buat bangunin Eva aja rikuh, itu semua build up yang bagus buat cerita hubungan mereka ke depannya.

 “Udah pake baju belum?” lol

“Udah pake baju belum?” lol

Adegan Eva bacain pelajaran biologi could be better kalo reaksi Rasya digambarkan pake shot ala-ala filmnya Darren Aronofsky; close-up quick shot pake suara-suara lantang yang eerie. It will give aura surreal buat film ini. Namun memang untuk sebuah cerita dengan tema yang dewasa, Bidadari Terakhir sepertinya diarahkan tampil, surprisingly, ringan. Dialognya menarik, hanya kadang suara nya gak klop sama mulut. Diiringi musik-musik keren, ngingetin aku sama film-film indie luar kayak musik yang ngelatarin Before I Disappear. Juga NYUGUHIN PEMANDANGAN ALAM BALIKPAPAN YANG CIAMIK. Aku belum pernah ke sana dan jadi pengen ke sana! It was beautifully shot, aku suka adegan Rasya dan Eva lari di atas tanggul laut. We would talk about an iconic scene here kalo saja polisi yang ngejar mereka enggak lari males-malesan kayak gitu.

Yang paling bikin Bidadari Terakhir ini stand out buatku adalah kenyataan bahwa FILM INI BUKAN HANYA TIDAK MEMANDANG RENDAH PEKERJAAN WANITA PENGHIBUR, TAPI JUGA ACTUALLY NGEHORMATIN ANAK SMA SEBAGAI MANUSIA. Remaja-remaja itu enggak digambarin bego kayak di film-film anak sekolah yang lain. Teman Rasya enggak serta merta a total jerk. Adek kelas yang naksir Rasya enggak lantas mellowdrama. Yes, still sometimes they’re choices are questionable, but itu karena they’re just immature. Mereka digambarkan punya sisi humanis yang real. Bukan sekedar karakter template yang purpose utamanya jual tampang. Dalam film ini, kita bisa lihat mereka grow up. Terlebih karakter Rasya, his journey is -very much- an excellent writing.

 

Terlalu jauh memandang ke depan, sometimes we must stop and live for today. Kalian termasuk yang mana? ‘The Man/Woman with the Plan’ atau golongan ‘Live in the Moment’?

I am a sociopath, guys. I took the test.

I am a sociopath, guys. I took the test.

Subplot antara Rasya dengan keluarganya merupakan salah satu emotional core di dalam film ini. Antara Rasya dan ayahnya, dan juga dengan adeknya, adalah elemen penting yang diceritakan dengan cukup baik. Rasya sendiri diajar untuk hidup dengan perencanaan yang matang. Sekolah-juara kelas, kuliah di geologi, kerja, cadel, and yes kita masih ngomongin Rasya kok (on a personal note, film ini closer than I thought -,-). Hubungan diam-diamnya dengan Eva membuka mata Rasya akan pilihan yang satu lagi. Berbohong spontan demi bisa jalan bareng, or even dari cerita-cerita Eva sendiri. For the first time, Rasya merasa benarbenar hidup. It was the greatest moment in his life saat dia bisa bilang “nilai kuis itu ndak penting” kepada ayahnya. Hidup tidak adil, kecuali bagi orang yang mau mengubahnya. Dia sadar ini adalah hidupnya, bukan hidup sang ayah. That moment adalah saat yang tepat bagi Rasya untuk menyeimbangkan timbangan, for better or worse. Yang lebih penting; untuk kebahagiaan Rasya sendiri. Karena kalo dipikir-pikir, kenapa sih bahagia itu selalu diasosiasikan dengan masa depan? Apakah kita enggak bisa bahagia buat hari ini?

 

Ngomongin soal seimbang, Bidadari Terakhir SEDIKIT GOYAH DI BABAK KEDUA YANG DRAGGED TOO LONG. The roller coaster of emotion yang kita rasakan jadi kerasa stall. Naik-turunnya enggak lagi enjoyable. Antisipasi udah terlalu gede karena pemakaian major musik yang ampe dua kali. Pertama kali denger masih oke, “wah” malah! Tapi saat terdengar lagi, well gini- kita udah rasakan adegan yang very uplifting di akhir sekuen sebelumnya, terus film ini membawa kita ngulang lagi untuk ngerasain sensasi demikian, hanya saja kita kali ini udah siap karena musik itu sekarang udah jadi penanda, “ah musik asik yang tadi, berarti sekarang senang”, penonton enggak suka dieja what to feel kayak gitu.

The same goes for the ending. Penambahan adegan ‘lima tahun kemudian’ ruined the send-off for me. Wouldn’t it be better kalo closingnya diserahkan kepada imajinasi penonton? Mungkin kasih sedikit aja, kayak yang mereka lakukan ke adek Rasya, cewek itu bikin aku bertanya-tanya karena di penutup dia sama sekali enggak diliatin lagi. I want to feel penasaran like that way buat keseluruhan nasib pemain-pemainnya.

“Supppaaaaaaaa kiiick!!”

“Supppaaaaaaaa kiiick!!”

 

KISAH TENTANG PILIHAN DALAM MEMANDANG DAN MENJALANI HIDUP. Drama ini akan mengajarkan kita dalam menyingkapi banyak hal melalui sifat karakternya yang berlawanan. It will also memberikan banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan yang acap lewat di pikiran remaja biasa kayak Rasya. Mengapa orang enggak mau mendapat bantuan, misalnya. The Palace of Wisdom will give 7.5 out of 10 gold stars, kalo Bidadari Terakhir rangking satu di kelas …. kidding! You can take the stars now, Film Keren! 😀

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers

 
We be the judge.

Advertisements