Tags

, , , , , , , , , , , ,

“It is not the mountain we conquer, but ourselves.”

 

20150615093655787239

 

I chose this movie over The Scorch Trials karena ada Jake Gyllenhaal nya, but ternyata Jake nampil cuma sedikit, barely a supporting role

Tapi itu enggak bikin aku kecewa nonton film ini!

 

Everest mengangkat KISAH NYATA PENDAKIAN GUNUNG TERTINGGI DI DUNIA YANG BERAKHIR TRAGIS TAHUN 1996 itu. Dua kelompok yang mendaki, terjebak dalam badai hebat dan terpaksa turun di tengah-tengah amukan es. Kalo kamu pernah baca artikel fakta-fakta unik dunia yang banyak beredar di internet, pasti pernah baca dong tentang ratusan mayat beku di sekitar Puncak Everest. Nah, film ini menceritakan tentang kisah hidup dan pendakian beberapa orang tersebut.

Bukan semata kisah bencana alam, film ini adalah sebuah EPIK TENTANG PERJUANGAN BERTAHAN HIDUP. Everest membawa kita lebih dekat mengenal tokoh-tokohnya. Para aktor dan aktris itu, mereka meranin orang yang bener-bener ada. Jake Gyllenhaal, misalnya meranin Scott Fischer, a cool laid-back-attitude guy, salah satu pimpinan regu pendaki yang punya prinsip berbeda dengan Rob Hall, tokoh utama cerita ini. Rob Hall diperankan oleh Jason Clarke but menurutku karakternya agak boring, just a perfect hardworker family man. Keira Knightley meranin istri Rob yang enggak ikut ekspedisi karena lagi hamil, perannya bahkan lebih sedikit dari Jake, tapi Keira sangat menonjol dalam setiap kali dia nongol di layar. Karakter yang paling menarik justru datang dari yang awalnya kerasa sebagai peran minor saja. Beck dan Doug, diperankan masing-masing oleh Josh Brolin dan John Hawkes, punya character arc yang paling kompleks dalam film. Doug yang setelah dua kali gagal, kali ini pergi setelah mendapat dukungan moral dan materil dari anak-anak. Beck belajar paling banyak dari semua dalam perjalanan ini. Seharusnya fokus cerita pada mereka berdua aja. Keluarga, motivasi mendaki, personal issues they dealt with, semua itu jadi emotional core buat cerita Everest. Banyak memang, tapi drama ini berhasil menceritakan just enough sehingga kita bisa tersentuh oleh each dari pendaki tersebut.

“relax guys, it’s just Elsa on her period again..”

“be tough, guys, it’s Elsa on her period again..”

 

Manusia melawan gunung. Kalo ada yang kupelajari selama ospek geologi maka itu adalah saat di ujung tanduk, orang akan nujukin sifat asli mereka. Film ini juga menggambarkan hal tersebut. Kerja sama tim rusak karena satu orang mulai mengkhawatirkan dirinya tidak kebagian tabung oksigen. Scott, mesti mau mengesampingkan egonya dan bekerja sama dengan tim lain, tetap seorang yang pantang-tak-top dan haus untuk membuktikan “kalo orang lain bisa, gue harus lebih dari bisa.” Manusia itu egois. We always feel the need to compete with others. Everest sebenarnya nunjukin betapa pentingnya bagi manusia untuk berhasil mencapai tujuan. Apa pun itu. I know it sounds corny but, mountains are consistent. Kita enggak sekonstan itu. Humans do change. Tapi itulah yang bikin kita bisa naklukin gunung. Seberapa pun tingginya, gunung is just another goal. Kita tumbuh, kita belajar. Kita naik gunung untuk menaklukkan diri kita sendiri. Everest ngasih gambaran bahwa perjuangan manusia goes either way, kayak naik gunung. Bukan cuma cara ke atas yang perlu dipertimbangkan, cara turun kembali dengan selamat juga.

di atas sana gak ada burung raksasa yang bakal nerbangin kita loh..

di atas sana enggak ada burung raksasa yang bakal nerbangin kita loh..

 

Selain dengan emosi yang berhasil menyentuh penonton, Everest juga berhasil reach out melalui adegan-adegan yang dishot dengan sangat realistis. VISUALLY STUNNING, suara deru anginnya kayak beneran, kerasa banget capek para tokohnya; feeling stres dan lost nya dapet! Adegan yang nyebrang lembah pake tangga itu bikin kita ikut merasa gamang. Dan personally buat ku; aku bersukur banget nonton film ini saat lagi pilek dan kedinginan! Sensasinya bener-bener total, I mean, gak perlu IMAX atau bioskop 4D atau semacamnya  aku udah ikutan menggigil hahaha

 

Lucunya, momen-momen dalam film ini justru seolah mengkampanyekan naik gunung itu capek. Buat yang belum pernah, pasti jadi males naik gunung abis nonton. Enggak kayak 5 cm, yang sukses bikin anak gaul berbondong-bondong pengen ikutan manjat gunung. The overall tone film ini jatuhnya frustrating buat sebagian besar orang. Kalo diibaratkan mabim (aka ospek), babak pertama film ini terasa kayak bagian stressing. They cramped us with all the shouting supaya mindset kita bener- tapi justru bikin para maba bingung. Film ini juga gitu, kita bingung harus hold on buat karakter yang mana. Aku malah senang begitu bencana nya dimulai, kayak pas lagi ospek lari-larian udah mulai. No more thinking, kita cuma harus jeli ngeliat siapa nasibnya gimana, and let the emotions sink in. Karena saat adegan badai tersebut, sungguh sulit membedakan tokoh satu dengan yang lain. Buat sebuah film drama, it is not really good thing untuk membuat penonton sudah tahu harus sedih kepada semua orang sedari awal. Then again, they just had to do it karena tanpa overpushed stress-attribute tersebut, para karakter film ini  kinda susah untuk di-root for. Enggak ada yang peduli sama orang kaya yang mau liburan naik gunung, kan?

 

Kejam dan tak berbelas kasih. Sesuai tagline nya, film ini memang benar membawa kita dalam sebuah perjalanan menuju tempat paling berbahaya di muka bumi. Sekaligus jalan-jalan ke Puncak Himalaya. The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold, icy stars for Everest.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements