Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“All beings who exist in this world tend to acknowledge only those ‘facts’ that are convenient to them, and take them to be the ‘truth’.”

 

Film3-Poster

 

Kalo ada yang lebih jarang daripada film psikologikal thriller di Indonesia, maka itu adalah film Indonesia yang bersetting di masa depan. Kenapa ya? Begitu suram nya kah masa depan Indonesia sehingga kita males untuk sekadar berangan-angan seperti apa negara ini ke depannya? Film 3 (ini judulnya bener dibaca ‘Tiga’ kan ya? Apa ‘Tri’, apa ‘Telu’?) bukan hanya berani memimpikan kondisi Indonesia 20 tahun dari sekarang, film drama-action ini juga enggak ragu untuk mengangkat masalah yang termasuk kategori ‘tabu-tabu tapi mau’- senggolan antara negara dengan agama.

Kita diberikan penjelasan singkat tentang kondisi dystopia Indonesia melalui montage saat film dimulai. It was straight, THIS WHOLE STORY DEPICTS APLIKASI LIBERALISME YANG SEKARANG MASIH MENJADI PERTANYAAN BESAR. Memberikan kebebasan kepada satu golongan, di lain pihak kelompok lain masih dipandang sebelah mata dalam menjalankan apa yang menjadi pilihannya. Media hanya berpihak kepada yang di atas angin, posisi nya enggak lebih dari sekadar alat buat ‘berantem’, seperti yang disebut dengan gamblang oleh bos nya Lam. Aside dari teknologi nya yang sudah maju- cool mobile phone, spying pake lensa kontak, keren idenya!- film ini menceritakan situasi yang enggak jauh-jauh amat dari keadaan sekarang. Media disetir pihak-pihak berkuasa. Film 3 memberikan gambaran negeri yang cukup mengerikan. Semua butuh kebenaran, namun yang mau diterima oleh manusia adalah hanya yang mendukung prinsip golongan mereka, ‘fakta’ itulah yang mereka sah kan sebagai ‘truth’. Kenapa? Karena manusia udah enggak mau terbuka, mereka hanya tahu gaya hidup yang mereka jalani. Toleransi turun derajat menjadi “kalo kalian enggak memperlakukan kami sesuai yang kami mau, itu termasuk kasar dan tidak menghormati”. HAM hanya alasan. Masalah dalam film ini bukan tidak mungkin jadi kenyataan. Power and influences, that’s the name of today’s game. DENGAN KEBERANIANNYA MENGANGKAT HAL YANG GAMPANG NYULUT KONTROVERSI GITU, FILM 3 MEMBERI KITA BANYAK POIN UNTUK DIRENUNGKAN, entah itu kritikan atau sebuah pembuka mata. Menarik lah untuk jadi bahan diskusi. I love it when a movie can push us to think deep.

“kenapa kita bertiga jarang satu frame bareng, ya, Lif?”

“kenapa kita bertiga jarang satu frame bareng, ya, Lif?”

Selalu ada dua sisi dalam setiap masalah. Untuk kasus film ini, sisinya ada tiga. Kita akan dibawa untuk melihat sudut pandang dari ketiga tokoh utama, tiga orang sahabat dari kecil dengan keyakinan sama namun memilih langkah berjuang yang berbeda. Ini adalah kisah perjuangan mereka. Alif (Cornelio Sunny memainkan seorang yang berapi-api) bergabung dengan pasukan militer untuk menegakkan kebenaran. Herlam (Abimana Aryasatya brings this character’s wit alive) bertekad untuk mengekspos segala kejahatan dan speaks only the truth melalui tulisan-tulisannya. Mimbo (Agus Kuncoro bermain dingin sebagai kontras dari ‘panasnya’ Alif) siap untuk khusnul khotimah, jadi guru di pondokan mendampingi Kyai. Yup, Alif Lam Mim, pemilihan nama yang sangat menarik. Begitu juga dengan dinamik antara ketiga orang ini. Film ini dengan teliti menjalin hubungan mereka. In fact, ini adalah salah satu dari film yang benar-benar memperhatikan runtutan adegan. Apa yang terjadi di awal, ada konsekuensi nya di akhir. Film ini did a decent job menguak tabir konspirasi itu sedikit demi sedikit. Ada yang pulling the strings of our protagonists. Penulisan para karakter tersebut juga cukup berkembang. Kita mengerti apa yang mendasari pemikiran ketiga saudara seperguruan tersebut. Kita paham bahwa they will cross path again eventually. Yang paling aku suka adalah arc nya si Lam, yang melibatkan keluarganya. Chemistry on-screen Tika Bravani dengan Abimana adalah salah satu yang terbaik dalam film ini.

 

HOWEVER,

Being an action drama, 3 sepertinya terlihat BERUSAHA KERAS UNTUK TAMPIL PINTAR, DAN FLASHY, DAN KEREN. Memang sepertinya film ini mengandalkan efek untuk bercerita. Enggak kece-kece amat, but still holds on. Pengambilan gambar pun sepertinya diperhatikan, buktinya mereka pake adegan kelahi di bawah curahan hujan sampe dua kali! Yea, it was awesome ngeliat Alif dan Mim berlaga di tengah derasnya hujan becek. Tapi gak perlu diulang lagi juga, do not overdone it. Udah jadi gak dramatis lagi kalo penonton melihat hal yang serupa untuk kedua kalinya dalam film yang sama. Jadinya malah monoton. Or mungkin mereka pada suka aja main basah-basahan.

things get creative when they get wet.

things get creative when they get wet.

Pace nya cepet sekali. Film ini done a good job kalo memang tujuannya bikin film yang chaos. ADEGAN KELAHINYA SAMA SEKALI ENGGAK MEMORABLE. Heck, opening scene film ini bisa dinobatkan sebagai adegan berantem paling membosankan. Telunjuk mengacu kepada musik latarnya yang itu-itu melulu. TERASA ALA FILM BUATAN MICHAEL BAY. Alih-alih memakai psikologi dalam bercerita saat bertarung, 3 malah keasyikan pake teknik kamera slo-mo, tinju melayang, ada suara menggema “tuuuummm…”, dan lalu tinjunya kena, musik pun lantas goes “DAAAAANGGGGG!!”. Kenceng. Dan bukan hanya saat fighting loh. Saat adegan-adegan yang padahal enggak pentingpenting amat juga -kayak orang jalan terus belok di pojokan- pasti ledakan ngebass “TEEEEENGGGG!!!” itu terdengar lagi. Annoying gak sih? It only takes us away from the story. Long shot dengan kamera yang dinamis itu jadi sia-sia.

Tadi aku bilang yang paling aku suka adalah ceritanya Lam. On the other hand, yang paling aku gak suka adalah bagiannya Alif. Begitu klise. Mereka membuat Alif over perkasa. Sebagai tokoh action, adalah hal yang buruk untuk karakter dibuat invulnerable dan terlalu kuat seperti itu. Diracun aja dia masih tangguh, masa! Prisia Nasution meranin Laras jago silat misterius yang jadi pendukung arc Alif juga terlalu ngikutin pakem film luar, karakter yang dimainkan cewek ini tempelan banget.

brain, beauty, and BUSTED!

brain, beauty, and BUSTED!

Di dalam ceritanya, 3 membahas pengaruh budaya barat. Well, film ini enggak berhasil memberikan impresi yang maksimal karena justru TERLALU NGIKUTIN APA-APA YANG MEMBUAT BEBERAPA FILM HOLLYWOOD PAYAH. Salah memilah budaya, kalo mau dikaitkan, mereka malah ngambil yang jeleknya. TWIST YANG SALAH KAPRAH, misalnya. Twist yang bagus bukan semata untuk menyesatkan penonton. Twist harus punya build-up sebagai satu-satunya resolusi dari plot yang ada, writing nya harus mengarahkan penonton ke arah sebaliknya tanpa disadari. Gilang ternyata yang nge-hack server ayahnya, nah itu baru twist! Bukan ‘hey, let’s put a hat on this guy so he can open it and reveal he’s a higher up late in the end.’

Film yang bagus bisa dinilai dari penjahat utamanya. Alif, Lam, dan Mim menghadapi musuh besar mereka masing-masing. Terminator: Genisys punya 4 musuh, Pixels ada tiga boss game, dan kedua film itu flop. UNDEVELOPED VILLAIN, masalah yang juga terjadi di 3. Musuh-musuh itu enggak dapat jatah tampil yang cukup buat kita peduli sama mereka. Tau gak alasan kenapa Marvel bikin film superhero satuan dulu sebelum bikin film gabungan mereka? They want to introduce the villains as well. Loki butuh ruang untuk menjadi tricky, formidable, dan enggak bisa dipercaya. Yeah, here’s a secret about building a great villain; spent time to develop them! Bukan gaya nya yang bikin Heath Ledger’s Joker begitu keren. Motifnya. Kita diberi kesempatan sedari awal untuk mengenal karakter badut itu. Within 15 menit nyaksiin Mad Max: Fury Road, kita diajak kenalan sama the gank lord penjahatnya. Kita sudah mengerti Ultron dan motivasi si robot menjelang akhir act pertama Avengers 2. Bahkan film misteri kayak Scream ngasih lihat ke kita siapa yang berada di balik topeng dari bagian awal. Enggak semata-mata memunculkan tokoh yang tadinya pendiem trus tiba-tiba jadi cerewet. Namun 3 justru sengaja enggak memperkenalkan antagonisnya -yang banyak- demi so-called twist.

Mungkin semua itu disengaja karena Anggy Umbara mengincar sebuah sekuel. Penjahat utama film 3 bisa jadi kayak Dr Doom-yang dijanjikan akan menggila dari awal film kedua…. Nah, di sinilah akar masalahnya. Pembuat film jaman sekarang harus berhenti memperlakukan film mereka sebagai act pertama dari sebuah cerita panjang tiga babak. Memang gasalah untuk berpikir ke depan, tapi merencanakan sequels sehingga sengaja bikin film pertamanya ‘empty’ sampe terliat bego itu sama aja kayak bangun rumah terus membakarnya dan bilang pemadam apinya bakal ada nanti di lantai dua. Ambil contoh film Marvel lagi. Untuk nge-tease their next installment, Marvel using post-credit scenes, dengan cara gitu mereka enggak merusak esensi film nya sendiri. Para filmmaker HARUSNYA TETAP MEMANDANG FILM SEBAGAI CERITA YANG UTUH, a work of passion, karena begitulah storytelling supposed to work. Bukan sebagai rangkaian pertama dari sebuah produk yang hendak dijual.

Itulah kenapa aku enggak puas sama film 3. I’m not impressed with the overall presentation. Dari segi-segi tersebut kalo mau dibandingin, film keluaran rumah produksi Arie Untung ini masih sodaraan ama film…..

“3, 4, our sequels are to watch for”……. Or not.

“3, 4, our sequels are to watch for”……. Or not.

 

Berani mengangkat tema yang sensitif, memberikan banyak hal untuk kita ambil dan pikirkan dari petualangan tiga tokoh tersebut. Whose act justifies your view of justice more?
Namun selain mereka, ada angka tiga besar yang lagi membayangi film laga ini. Mereka adalah overdid the music, overdid the drama, and overdid the twist. The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars buat 3.

 

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements