Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The world needs bad men to keep another bad men from the door.”

 

Sicario-Poster

 

Belakangan ini tayang film keren melulu yaa, such a good time to be a movie enthusiast.. Kita udah nyaksiin film terasik berjudul The Martian dan Southpaw yang merupakan salah satu film dengan penampilan akting terbaik. Sekarang giliran Sicario yang…. well, aku belum akan bilang Sicario ter-apa. Mau tau banget? kamu-kamu harus baca ulasan di bawah dulu dooongggg

 

Di awal film kita diberi informasi apa sih arti kata ‘Sicario’. Menurut bahasa Spanyol ternyata padanan katanya adalah ‘hitman’; Orang yang dibayar untuk membunuh. Kemudian adegan membuka, kita pun disuguhin adegan penyergapan yang sangat unsettling, sungguh. Aku enggak siap ngeliat mayat berbaris di balik dinding seperti itu. HERAN, NGERI, ITULAH TUJUAN FILM INI. Pihak mana kah-siapa yang dimaksud pembunuh bayaran di judul film ini; penjahat helpless yang mereka gerebek atau justru para polisi itu sendiri?

Sudut pandang kita akan disejajarkan dengan point of view Kate Macer (Emily Blunt meranin gadis idealis yang bingung sebagai representasi dari penonton), seorang FBI teladan yang melakukan semua sesuai prosedur. Cewek idealis ini lantas diajak ikutan pasukan black-ops gabungan yang dibawahi oleh Matt Graver (Josh Brolin memberikan sisi komedik yang dibutuhkan). Tim ini khusus dibentuk untuk membasmi sebuah sindikat narkoba di… ah, katanya sih di San Diego. Hanya saja Macer mencium ada hal yang aneh menyangkut misi mereka, yang ternyata berlokasi di Juarez, Mexico perbatasan. Macer cuma bisa bengong ngeliat bos dan rekan-rekan timnya, bahkan si Alejandro Gillick yang pendiem (aku bilang aja deh dari sekarang, catet penampilan Benicio Del Toro yang satu ini di buku mu!), melakukan hal yang jelas-jelas ilegal, dalam apa yang harusnya baru tahap pengintaian tersebut.

"sicario, aku dengar lagu kesayanganmu~"

“sicario, aku dengar lagu kesayanganmu~”

 

Kita dibuat sama ‘bego’nya dengan Kate Macer di sepanjang film, Sicario akan tetap membiarkan kita menebak-nebak. Oh, mereka membahas ‘apa’, ‘siapa’, ‘bagaimana’ nya kok. Tapi film ini enggak bakal ngasih tahu kita ‘kenapa’. Kita sendiri yang harus mikir dan menyimpulkan. Inilah yang bikin Sicario keren. Sebuah thriller action tentang kriminalitas YANG DIKEMAS KHUSUS UNTUK MEMBUAT YANG NONTON MERASAKAN KETEGANGAN YANG SESUNGGUHNYA, KERAGU-RAGUAN BATIN. Khas Denis Villeneuve, masih kerasa gimana dia sukses bikin kita ikut berjengit di akhir cerita psikologikal Enemy tahun lalu. He did it again di film Sicario ini. Film ini ujungnya bakal bikin kita menembakkan pertanyaan kepada hati sendiri:

kalo ada yang bisa memberantas narkoba sampai ke akar-akarnya, apakah kita akan oke saja mereka melakukannya dengan pembunuhan alih-alih mengirim gembong itu ke proses hukum? Apa memang orang jahat yang dibutuhkan dunia ini untuk menjauhkan kita dari orang-orang jahat yang lain? Dan lagi, yang mana sih yang jahat dan baik itu, apa batasannya- apakah membunuh demi keadilan itu lebih baik secara moral?

Sicario akan membawa kita melihat jauh ke dalam dampak perdagangan obat-obat terlarang terhadap kemanusiaan. Sehabis nonton film yang kelam ini kita dibuat tertegun sejenak mikirin moralitas. Kelam bukan warnanya loh. Atmosfernya. Kelam karena memang dalam film ini, enggak ada satu pun adegan yang bikin kita merasa ceria. Gak bakalan deh kita teriak “yes, berhasil!” saat nonton ini. Tone nya selalu antara bingung dan bikin hati mencelos. Itu semua bikin yang nonton makin masuk ke dalam cerita. Dari penyergapan di tol- which is my favorite scene!-, raiding di malam hari, sampai klimaks di meja makan yang bikin gigit kuku- enggak sekalipun aku merasa terlepas dari cerita film ini. Really nails the essence of a thriller, big time!

 

Meski serba rahasia dan misterius dari segi cerita, Sicario ENGGAK NAHAN-NAHAN DALAM SEGI PENCERITAANNYA. Cinematografi, juga adegan-adegan ‘kejam’ itu bakal bikin mata kita melotot namun tetap kita enggan untuk memalingkan wajah dari layar. Particularly, adegan night-vision yang unik itu. Memberikan sudut pandang baru dari style kamera yang udah spektakular sedari awal. Akting dari tiga tokoh sentral jelas gak perlu ditanyain. Emily Blunt perfectly menggambarkan konflik yang diderita orang yang sehari-hari berkubang di ranah kekerasan. Ada satu adegan yang paling aku suka, adegan mandinya. Hush, jangan ngeres! Maksudnya, adegan tersebut benar-benar influence us in a emotional way. Apa yang dirasakan Kate Macer saat itu genuinely humane, dia lega, dia bingung, ah batinnya sungguh tersiksa! Dia hanya ingin menyapu semua resah nya bersama air yang mengalir.

"Aku kotor, Ma! Aku kotor!!"

“Aku kotor, Ma! Aku kotor!!”

Karakter Matt yang diperankan Josh Brolin, cuek bebek pake sandal jepit ke ruangan meeting. Dia begitu santai dan sepertinya ditulis untuk memberi ruang kepada penonton untuk tertawa. Tapi seiring bergulirnya cerita, kesan komedi itu sirna, as karakternya berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Perpindahan karakternya ini (kalo di WWE istilahnya heel turn) pretty cool untuk disimak, karena juga dimainkan dengan gemilang.

Yang paling ngundang decak kagum jelas penampilan Benicio Del Toro. Tidak perlu banyak omong, dia bisa ‘bercerita’ banyak hanya dengan ada di sana. It’s all about the presence. Setiap kali dia muncul di layar, kita tau gitu aja untuk terus melihat apa yang dilakukannya. In fact, sekali liat, kita tau orang ini akan berpengaruh besar dalam cerita. It is a different level of acting, I tell ya. Level dewa. Kegelapan memancar dari sosoknya. Kegelapan yang kurang lebih sama dengan kegelapan yang kulihat pada tokoh Semaoen yang diperankan Tanta Ginting di film Guru Bangsa: Tjokroaminoto beberapa bulan yang lalu. Konflik internal Alejandro terasa kuat menguar dari dalam dialognya yang cuma sebaris, dua baris. Oh yeah, di akhir film karakternya juga bertumbuh. Tapi intensitasnya konstan. Motif dan misterinya masih bikin kita bertanya meski dia mulai lugas berbicara. I think that’s the beauty dari tokoh Alejandro ini.

 

Cerita action dan penumpasan kriminal yang sebenarnya lurus aja. Film ini enggak nyuguhi plot yang benar-benar berlapis kayak season 2 True Detective. Namun bukan berarti film ini lebih ringan dibandingkan serial tersebut. SICARIO IS NOT OUR EVERYDAY CRIME-ACTION FLICK. Dia lebih menekankan tema dan insight daripada aksi-aksi tembakan. Dia menginginkan yang nonton terbebani oleh suspense serta beauty yang sekaligus dihadirkan. BERAT, sepertinya begitulah film ini dijabarkan oleh sebagian besar audiens. Di dalam studio saat aku nonton ada seorang cewek yang tiga kali pindah posisi tempat duduk –dari deretan paling atas, turun ke tengahan dikit, selang beberapa menit kemudian dia ngelongsor ke barisan paling depan- sebelum akhirnya cewek itu keluar dari studio dan gak balik-balik lagi. Mungkin dia merasa enggak nyaman. Mungkin film ini begitu menekan baginya. “Apa sih, ini? Bosen!”. Mungkin kamu-kamu juga merasa demikian. There’s no right or wrong in watching movies. Cewek itu hanya merasakan apa yang film ini niatkan untuk dia rasakan. Dan kalo dia gak suka, atau kalian gak ngerti sama suatu film, then so be it. Everyone has their own cup of tea. You don’t have to like a movie hanya karena banyak yang bilang film itu bagus.

 

 

Oookee, untuk menyambung kalimat ku di paling atas tadi, film yang punya karakter manusiawi yang really moving, tema suram nan intens, penampakan memukau, dan membuat kita mempertanyakan moral ini adalah film teerrrrrrrrr—– *drum roll*—– terbaik action thriller tahun ini!! Oke, nama gelarnya maksa hihi. The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for Sicario.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in lfe, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements