Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“To see every day, every year, every idea as a true challenge – and then you are going to live your life on a tightrope.”

 

TheWalk-Poster

 

Semua orang punya mimpi. Semua punya passion. Passion itulah yang tak jarang jadi motor penggerak, jadi motivasi kita membuka mata di pagi hari. Menara kembar World Trade Center dibangun sebagai simbol passion manusia terhadap individual dignity sekaligus kerja sama. Yah, mimpi dan cita-cita ultimately adalah hal yang bisa mengantar kita kepada greatness, tapi gak cukup hanya dengan menggantung mereka setinggi langit.

Apakah kalian termasuk orang yang berani untuk ‘menjalani’ mimpi?

 

Philippe Petit, seorang linewalker (wassup wit dat France accent, Joseph Gordon-Levitt?) terpana begitu dia melihat gambar pembangunan gedung tertinggi Amerika. Di eksak momen itulah dia menemukan tujuan hidupnya. Phillippe lantas bikin riset, dia memberitahu pacarnya- Annie (Charlotte le Bon cantik classy bgt yaa, meski nama belakangnya sama kayak si Boim hihi). Philippe juga ngumpulin teman-teman kepercayaannya. Ya, cowok yang diusir dari rumah karena dianggap punya hobi tak berguna ini, mau terbang ke New York. Ke tempat World Trade Center berada. Dia ingin berjalan nyebrangin 140 kaki jarak di antara puncak dua menara gedung itu. Gila! Sinting!! Edan!!!

Kisah nyata orang Perancis yang pernah ditulis buku (oleh Philippe Petit yang asli!) dan dibikin dokumenternya, respectively berjudul To Reach the Clouds dan Man on Wire, ditampilkan sangat menakjubkan oleh director Robert Zemeckis. Buka mata lebar-lebar di paruh akhir! Urusan film, biasanya visual efek enggak begitu masalah buatku. Aku betah aja duduk nontonin dua botol kecap ngobrol, asalkan ceritanya menarik. Tapi, hey, film The Walk ini berhasil menyuguhkan PEMANDANGAN DAN EXPERIENCE YANG BEGITU NYATA! CGI nya works very very tres bien!. Kita enggak lagi duduk di kursi di dalam bioskop, kita berada di puncak gedung 110 lantai itu bareng Philippe! Serius, nonton adegan terakhir dia ngelakuin jalan di tali itu, aku sampai ngangkat kaki dan mencengkeram lengan kursi dengan telapak tanganku -yang udah dari sononya suka- keringetan. Perasaan gamangnya terasa banget. Aku sampai memohon-mohon “udahan dong!” and that’s a compliment haha. Kalo orang yang takut ketinggian diajak nonton film ini, apalagi nontonnya di studio IMAX 3D, mungkin fobia tuh orang bisa langsung sembuh.

atau mungkin malah pengsan

atau mungkin malah pengsan

 

Bukan hanya pemandangannya, aku suka gimana mereka memainkan cerita around gedung bersejarah tersebut. Penampilan Joseph Gordon-Levitt juga mempesona. Saat dia bersiap untuk berjalan di atas sana, dia memejamkan mata, dan seketika dunia hanya dia berdua dengan tali itu, kita turut merasakan apa yang dirasakan olehnya. Gairah, ketegangan. Philippe enggak tampil sebagai orang yang minta diperhatiin, dia bukan tukang pamer. Dia bahkan bilang kepada mentornya -Papa Rudy- (Ben Kingsley is a natural showman!), dia bukan badut sirkus, “aku ini seorang artist”. Philippe hanya fokus kepada passionnya. Yang jelas baginya adalah dia suka berjalan di atas tali dan dia ingin membuat orang-orang tersenyum while he’s at it. Philippe Petit melakukan yang ia lakukan bukan untuk dirinya sendiri. Dia gak peduli uang, ataupun ketenaran. Itulah beda antara idealis dengan egois. Egois pada dasarnya ingin menang sendiri, sedangkan bagi seorang idealis menang-kalah bukanlah persoalan sedari awal. Dia selalu menantang dirinya sendiri untuk satu tujuan mulia; mengubah dunia dengan menyuguhkan satu penampilan spektakular. Dia ingin menciptakan suatu event yang bisa diingat oleh semua orang, yang bisa bikin orang-orang enggak menyerahkan mimpi mereka begitu saja. Dan film ini bener-bener nunjukin upaya Philippe dengan segala keeksentrikannya itu.

Mungkin karena itulah, karakternya jadi agak kurang mudah dimaklumi buat sebagian besar penonton. Jalan pikiran Philippe enggak sepenuhnya bisa dimengerti. Nyatanya memang sedikit sekali orang-orang yang memandang dan mengerti passion sejalan dengan yang pandangan Philippe dalam film ini. Apalagi paruh pertama The Walk yang menceritakan asal muasal dia memilih jalan hidupnya itu diceritakan tidak semenghipnotis 30 menitan bagian terakhirnya. Babak pertamanya actually terasa seperti cerita love drama mainstream yang terlalu dilebih-lebihkan. Dialognya terdengar tidak natural, too hiperbolic. Hampir seperti cerita fantasi. Film ini TERLALU MENDRAMATISASI SISI IDEALISME, sehingga pesan tentang manusia mewujudkan mimpi terbesarnya itu jadi tidak lagi nyangkut di atas tali film ini.

Lalu ceritanya berubah jadi sekuens adegan yang kayak adegan dalam film-film heist semacam Ocean’s Eleven di act kedua. Philippe ngumpulin orang-orang yang menurutnya bisa dipercaya untuk membantunya melaksanakan pertunjukan gegap gempita tersebut. Memasang tali-tali, keamanan, dan sebagainya. Hanya saja mereka enggak merampok. Malahan mereka ini sebenarnya enggak ngelakuin hal yang salah sih, mereka cuma melanggar beberapa peraturan. Mereka menyabotase gedung yang masih dibangun itu untuk mencuri sebuah kesempatan sekali seumur hidup. Meski cukup fun, tapi dalam babak ini Philippe come off seperti seorang yang reckless. Segala peristiwa dalam babak ini terjadi untuk membangun adegan final nya, namun build-ups tersebut kurang tergali, dan gak ngefek-ngefek amat buat perkembangan karakter-karakternya, terutama buat si Philippe sendiri. Bagaimana dengan teman-teman Philippe, juga pacarnya? Mereka khawatir-tapi ya gitu aja. Padahal mereka juga bertanggung jawab sebagai pihak yang membiarkan, bahkan membantu. Kurasa film ini melewatkan kesempatan menggali cerita dari sudut pandang mereka, yang harusnya bisa bikin aksi Philippe ini jadi lebih menantang. Karena selain waktu yang mendesak, enggak ada hal-hal yang benar-benar jadi ancaman buat rencana tersebut. Berjalan di tali itu sepertinya terlalu gampang buat Philippe.

"kamu pasti kagum dengan kehebatanku berjalan di atas tali.." "oh jadi ada talinya to?, kirain enggak ada"

“kamu pasti kagum dengan kehebatanku berjalan di atas tali..”
“oh jadi ada talinya to?, kirain enggak ada” -__-

 

 

Film ini sepertinya memang suka berada di awang-awang karena babak-babaknya SEPERTI TERBENTUK DARI TIGA JENIS CERITA YANG BERBEDA. Namun begitu, The Walk tetaplah sebuah film yang gampang untuk disukai berkat visualnya yang memukau. Final act film ini adalah yang paling stand out, aku yakin tiap-tiap kita dapat pengalaman unik yang berbeda saat menyaksikan Petit mulai mengambil langkah pertamanya di atas ketinggian tersebut. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for The Walk.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements