Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“We make our own monsters, then fear them for what they show us about ourselves.”

 

Goosebumps-Poster

 

Waktu SD aku suka bikin cerita-cerita dari judul buku Goosebumps, aku masih ingat ngubah Pantai Hantu menjadi misteri detektif dengan pelakunya …. well, seorang hantu. Hahaha that was my first-story ever. Mengenalkan pada cerita horor monster universal dan membuat aku menulis, ya aku rasa Goosebumps memegang peran cukup penting in my life.

Sepertinya bukan cuma aku. Ngehits banget di 90an akhir, semua pada tuker pinjem -ada yang dibalikin, ada yang enggak-, rela bolak balik taman bacaan, Goosebumps sudah membawa banyak anak-anak berpetualang ke dalam berbagai skenario horor. Kita udah pernah disekap dalam cermin, temenan ama putri duyung, tidur di kamar perubah nasib, bantu nyariin kepala hantu, difoto pake kamera pembawa sial. Aneh-aneh memang buah pikiran R.L. Stine ini. Meski begitu, kurasa buku ini adalah bacaan yang cukup bagus untuk anak kecil. Mengajarkan mereka untuk menghadapi ketakutan terbesar, and in turn overcome it. Dalam salah satu bukunya –yang juga di’quote’ dalam film ini, R.L. Stine bilang monster-monster itu diciptakan supaya kita bisa menyadari bahwa dunia nyata tidaklah seseram apa yang terjadi di buku. Dalam film ini, dia membuat karakter monster tersebut sebagai pelampiasan atas apa yang terjadi kepadanya di dalam kehidupan. Monster-monster itu adalah cerminan dari apa yang kita takuti. Dan jika dalam buku mereka bisa dikalahkan, maka kita juga pasti bisa mengatasi masalah apapun yang kita hadapi di luar sana.

 

Namun, bayangin kalo semua makhluk horor ciptaan nya itu menjadi nyata dan gentayangan di dunia….Hiiii!! And that’s that, anak-anak. Literally, itulah premis film Goosebumps ini, nah lo! Mereka enggak pilih-pilih buku, nanti dapat kutu. Mereka menggodok semua yang seram-seram dari enampuluhduaan buku original plus seri-seri Goosebumps yang lain, IT IS AN ULTIMATE MONSTERS MASH UP! Bukan hanya ngambil tokoh monsternya, film ini juga ngambil beberapa elemen plot dari buku (salah satunya adalah buku favoritku!). Aku gak akan bilang buku yang mana mana aja, soalnya dari judulnya pasti langsung ketahuan. Tebak sendiri aja, lebih asyik begitu. Yang pernah baca pasti bakalan instan ngeh saat nonton.

Oke serius, kalo kalian belum pernah baca salah satu dari ini, masa kecilnya kalian pasti enggak…. pernah makan mie mentah.

Oke serius, kalo kalian belum pernah baca salah satu dari ini, masa kecilnya kalian pasti enggak…. pernah makan mie mentah.

 

Momen terbaiknya tentu saja saat makhluk-makhluk tersebut terlepas. Oh I was having fun neriakin nama monster plus asalnya dari buku yang mana. Manusia Salju dari Pasadena!”, “ooohh itu kurcaci di Pembalasan Kurcaci Ajaib, “Belalang Shock street!!”, “Manusia Serigala Rawa Demam haha, that’s an easy one!” “Itu kau, King Jelly Jam?”.. maaf berisik buat yang kebetulan nonton satu studio denganku. Yelling at something familiar on screen is kinda my thing. Dang, I’m such a geek…. Anyway, daaan tentu saja, mereka harus membuat Slappy dari Boneka Hidup Beraksi sebagai bos besar. Memang harus seperti itu! Slappy itu licik, jahil, kejam, pokoknya yang paling jahat deh di antara semua. Baca saja bukunya-dia dapat paling banyak judul, Slappy bahkan lebih seram dari Chucky. Malah kemaren aku ketemu Annabelle lagi nangis mau bunuh diri karena cintanya ditolak Slappy hehe. Aku suka bagaimana film ini membahas tentang hubungan Slappy dengan pengarangnya. That was so cool liat momen-momen yang terjadi antara Stine dan Slappy.

Jack Black jadi R.L. Stine, cukup kocak ngeliat dia dikejar-kejar makhluk karangannya sendiri. Orang ini berhasil mengubah karakter grumpy menjadi funny. Ya you read that right, R.L. Stine himself jadi karakter dalam film ini. Jadi, Zach Cooper (Dylan Minnette meranin tokoh utama khas tokoh-tokoh di buku) dan ibunya baru pindah rumah– vintage Goosebumps! Rumah mereka bersebelahan sama rumah Hannah (mau dong tetanggaan ama Odeya Rush) dan ayahnya yang tertutup, pemarah, tipikal keluarga yang aneh. Karena penasaran dan menduga ada yang gak beres -tetangga masa gitu?-, Zach nekat menyelinap masuk. Di dalam rumah Hanna itulah, Zach dan temennya Champ (Ryan Lee, menang banyak nih orang) nemuin satu rak penuh buku-buku yang dikunci, “hey, those are Goosebumps books!”. As meta as Goosebumps gets, benar saja ayah Hanna tak lain tak bukan adalah R.L. Stine.

"My name is Dewey Finn. And no, I’m not a licensed teacher."

“My name is Dewey Finn. And no, I’m not a licensed teacher.”

 

Seri buku Goosebumps selalu TENTANG PERSAHABATAN, MISTERI, TWIST, DAN WEIRD CLIFF-HANGER ENDING yang selalu worth untuk kita tunggu. Goosebumps terlihat tampil sesuai standar tersebut. Punya momen-momen dalem yang menyentuh kita, relationships antara karakter-karakternya cukup baik. Sayang aja mereka enggak masukin karakter ‘saudara kandung nyebelin’ ke dalam film ini, padahal tokoh begitu kan salah satu cap dagangnya Goosebumps.

Aku harus memperingatkan kalian, film ini lumayan banyak false jump scares. Pendapatku agak campur aduk akan hal ini. Di satu sisi, aku enggak suka film yang nakutin nya pake taktik ngagetin dengan suara keras, apalagi kalo ternyata yang ngagetin itu bukan setan. Tapi di sisi lain, sebagai anak yang nyelipin buku Goosebumps di dalam LKS IPA, aku rasa aku bisa memaafkan hal tersebut karena; Pertama, mereka enggak terlihat ngebuild-up adegan-adegan jump scare palsu itu sebagai sebuah ancaman buat tokohnya, enggak ada real suspense. Seolah film ini gak berniat untuk bikin adegan tersebut jadi seram karena–Kedua, kalo kamu pernah baca satu aja bukunya, kamu pasti sadar kalo nyaris semua bab cerita Goosebumps diakhiri kayak gini

Diambil dari Serangan Setan Kuburan bab 7-8

Diambil dari Serangan Setan Kuburan bab 7-8

FAKE JUMP SCARES ADALAH GIMMICK BUAT GOOSEBUMPS, seperti juga weird hanged ending. Mereka ini udah semacam harus ada kalo kalian mau bikin sesuatu dengan embel-embel Goosebumps nya. Aspek-aspek itulah yang membuat Goosebumps, Goosebumps.

Yang aku enggak sreg adalah tokoh utama yang lebih gede dari “Usiaku 12 tahun.” Kerasa beda aja, it’s like film ini gak yakin mau dipersembahkan untuk siapa. Film Goosebumps terasa seperti bukunya, sebuah WAHANA HOROR RINGAN UNTUK ANAK-ANAK YANG BARU PERTAMA KALI NYICIPIN GENRE INI. Tapi tokoh-tokoh protagonis itu secara fisik lebih cocok sebagai tokoh Fear Street. Makanya tingkah laku mereka -dan juga para grown ups– susah untuk dijustifikasi. Humor nya juga lumayan childish. Aku ga yakin generasi sekarang bisa tertarik baca Goosebumps setelah nonton film ini. REFERENSI HOROR-HOROR KLASIK di sepanjang film (which is pretty awesome, aku nemuin Carrie, Rear Window, The Blob, dan of course, The Shining) juga kayaknya enggak ketangkep sama mereka.

Dan meski ada tokoh sang pengarang, jangan kira film ini punya self awareness yg tinggi. Ceritanya memang seolah di dunia nyata, but not really. Dari aspek horor, film ini bahkan jauh dari standar ‘seram-seram-aneh’ Goosebumps yang biasa. Fokus film ini ya KEJAR-KEJARAN MONSTER doang. Kalau kalian bertanya gimana cara mereka memperkenalkan begitu banyak monster sekaligus, jawabannya: they don’t. Hanya sebagian kecil monster yang diperlihatkan maksimal, sementara yang lainnya sekelebat saja. Aku maklum sih, jelas karena durasi, but still Darah Monster disebut doang-masa????!!

 

Film yang fun buat ‘ghostalgia’, I’ve invented that word, by the way, I’ve looked it up. Tapi whether film ini bagus atau jelek is still debatable. Gampangnya gini; kalo kamu mau nonton Goosebumps- maka ini film bagus sekali. Tapi kalo kamu mau nonton film horor- Yaah The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for Goosebumps.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

 

Advertisements