Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“A lonely, heartbroken spirit. The ghost of everything that could’ve been and never was.”

 

CrimsonPeak-Poster2

 

“Ghosts are real.” Begitu kata Edith, membuka dongeng ini.

Kenapa aku bilang dongeng? Karena memang film-film Guillermo del Toro lebih mirip cerita klasik. Pan’s Labyrinth (aku hampir nangis nonton film ini!) dan The Devil’s Backbone, contohnya. Terasa seperti Hantu Natal nya Edgar Allan Poe. Crimson Peak juga seperti begitu. Nilai jualnya bukan di the horror itself, tapi di tokoh-tokohnya. Each of them punya hati. Bahkan hantu-hantunya.

Hantu-hantu tersebut mendatangi Edith (selalu suka ngeliat Mia Wasikowska pake dress-dress antik nan ngembang, cantik anet!). Apalagi begitu cewek yang berprofesi sebagai writer itu pindah ke rumah-bekas tambang tanah liat-suaminya. So pasti cewek itu stres dong. Dia mendadak sakit, batuk-batuk darah. Persis seperti para hantu. Suami yang baru saja dinikahinya itu, Thomas Sharpe (chemistry Tom Hiddleston dengan Mia is captivating), khawatir namun malah mengajak Edith jalan-jalan ke kantor pos, alih-alih ke rumah sakit atau balik ke Amerika. Kakak iparnya, Lucille (Jessica Chastain is legit serem meranin orang ini), juga- dia sampai membuatkan teh dan bubur dan segala macam demi kesehatan Edith. Ada misteri apa sebenarnya di mansion reyot bernoda tanah liat semerah darah yang disebut penduduk sekitar dengan Crimson Peak – Puncak Merah- itu?

“Ikut abang ke kantor pos, yuk”

“Ikut abang ke kantor pos, yuk”

 

VISUAL FILM INI BAHKAN JAUH LEBIH INDAH dari pada ceritanya, while both are also unsettling and dark. Aku suka dengan set nya yang bikin kita mundur ke jaman Victoria. Kostum-kostumnya menawan. The whole environment, entah itu pesta dansa yang semarak, lorong-lorong rumah -ehm lebih tepat disebut istana tua- yang hanya diterangi lilin di malam hari, aula besar dengan tangga menjulang, lantai kayu yang jika diinjekk merembeskan tanah liat yang seperti darah, atau tambang dengan dinding-dinding merah dan lift seperti kandang itu, permainan tone warna di semua tempat-tempat tersebut sangat magical! Apalagi di final scene; perpaduan warna merah dan warna putih terlihat begitu misterius, membantu adegannya menjadi really breathtaking. Oh yes, act ke tiga sampai ke ending adalah the best part!

Film ini memang banyak darahnya. Agak sedikit gory, tapi seru. In fact, DARAH ADALAH SUBTANCE PENTING DI DALAM CERITANYA. Bioskop sepertinya menyensor bagian ‘last hit’ nya kok, jadi jangan khawatir kalo kalian kebetulan takut sama film-film yang ada adegan sadis.

Karakter yang dimainkan Tom Hiddleston lah yang punya saga paling kompleks dalam film ini. Kita bisa melihat pergolakan di dalam benaknya. Tokoh ini mengalami transisi -dari babak pertama yang sepenuhnya didedikasikan untuk cerita romansa sampai ke babak akhir yang menegangkan – yang intriguing untuk kita ikuti. Namun demikian, penampilan dari Jessica Chastain tak bisa dipungkiri udah mencuri perhatian kita. Ekspresi nya dingin dan tak berbelas kasih, kita lebih merinding melihat dia ketimbang melihat hantu. Dari segi penulisan, Lady Lucille Sharpe ini juga cukup menarik, the way dia kinda berusaha ‘save’ Edith di awal-awal. Dia actually mengajak untuk berpikir dua kali. Dia juga melakukan hal yang bisa dibilang semacam ngasih kode ke Edith. Semua metafora ngengat dan kupu-kupu itu; kupu-kupu butuh cahaya dan panas sedangkan ngengat hidup di tempat gelap dan dingin… Edith nya aja yang enggak ngeh.

“iih, apaan tuh yang merah-mer---OMG IT’S MOVING!!!”

“iih, apaan tuh yang merah-mer—OMG IT’S MOVING!!!”

 

Ghosts might be real, bagaikan warna bagi orang yang buta warna. Tapi kejahatan yang harus kita waspadai seringkali bukan berasal dari mereka. Manusia lah setan yang sesungguhnya. Dendam, dengki, nafsu, cinta… manusia yang terlalu memperturutkan hal-hal tersebut, mereka jadi terikat kepada dunia. Seperti hantu yang bergentayangan karena masih punya ‘urusan’ yang mengikatnya pada suatu tempat tertentu. Tetapi tidak seperti hantu, manusia can actually hurt you. Lagi lagi sabda Del Toro dalam film horor terbarunya ini. Crimson Peak memang TIDAK NYUGUHIN SESUATU YANG BENAR-BENAR BARU. Kita sudah pernah melihat cerita seperti ini sebelumnya. Crimson Peak kayak ngebuat ulang elemen-elemen yang sudah sering diolah oleh sang master-horror-cinematography tersebut. Hantu nya aja masih mirip sama hantu di film Mama, tengkorak berkain gitu, hanya aja sekarang warnanya merah. Twist ceritanya standar dan predictable. Film ini ada jump scares nya, ngagetin penonton dengan musik keras yang instantly give away kengeriannya, tapi enggak fake. Musik yang bikin kita jantungan memang hadir karena keberadaan para makhluk gaib CGI.

Aku dapat kesan fokus Del Toro udah berpindah menjadi “bikin film yang indah aja, cukup kali yee”. Karena as far as the storytelling goes, enggak banyak yang terjadi. Crimson Peak TERLALU NYUAPIN ALIH-ALIH MEMBIARKAN PENONTON MENEBAK apa yang terjadi dengan bantuan visual yang indah itu.

Tepatnya bukan cerita hantu, lebih seperti cerita yang ada hantunya.

Edith beneran ngomong kayak gitu di dalam film, saat tulisan nya ditolak pemred. Meski dia sebenarnya lagi ngomongin cerita karangannya, tapi kalimat tersebut benar-benar mencerminkan dengan gamblang seluruh kejadian di film ini. Film ini tidak perlu tampil dengan eksposisi seperti itu. Mereka seharusnya membiarkan penonton terbius dan menarik kesimpulan sendiri. Seperti kita-kita yang nonton, Edith yang tokoh utama juga hanya diserahkan cerita tanpa dikasih kesempatan untuk berkembang sendiri. Tengah malam dia bangun, berjalan ke sekeliling rumah, dan, hey, ada surat. The next night dia bangun dan, literally, ada hantu yang nunjukin harus ke mana. Mereka bikin tokoh yang satu ini seperti enggak bisa apa-apa, semua yang dibutuhkannya diberikan kepadanya. A total plot-driven. Di awal dan di akhir, she’s pretty much the same person. Yah mungkin dia jadi rada trauma begitu film selesai, but you’d get my point if you watch this.

 

It’s a dark, potentially disturbing, and beautiful trick-AND-treat buat mata kita. But they should have more candies on the characters arc. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for Crimson Peak.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements