Tags

, , , , , , , , , , ,

“A choice becomes a sacrifice.”

 

AirMataSurga-Poster

 

Buatku, pertimbangan nonton film itu ada tiga; film yang cukup tahu, film yang ingin ditonton, karena pemain, atau pembuatnya, dan film yang ingin ditonton karena genre nya.
Air Mata Surga termasuk kategori yang nomor dua.
It is not my cup of tea, but there I was. Duduk di tempat ku yang biasa, di deretan paling atas-di kursi pinggir dekat jalan, sementara studionya diisi oleh ibu-ibu.
Tapi film adalah film, kan?
Kubrick aja bilang apapun yang bisa ditulis, atau terpikirkan, bisa dijadikan film. Aku gak bisa menghina apa yang tidak biasa atau tidak suka aku tonton. Paling enggak untuk bisa tahu suka-atau-enggak nya aku harus nonton dulu.

 

Seperti yang sudah di’harap’kan, film ini adalah RELATIONSHIP STORY YANG MELLOWDRAMA SEKALI. Serius, dari judulnya aja udah keliatan. Tentang Fikri (Richard Kevin mewujudkan sosok idaman wanita) yang jatuh cinta kepada mahasiswi S2 bimbingannya, Fisha (interesting transisi mood dimainkan oleh Dewi Sandra). Mereka akhirnya menikah. Namun mereka enggak bisa punya anak padahal agama sangat menganjurkan untuk punya keturunan. Jadi Fisha memikirkan suatu solusi, yang berujung dia melakukan suatu pengorbanan besar.

MENGGUNAKAN WARNA ISLAM SEBAGAI PEREKAT, film ini ngecover a lot of thing. Yang bisa dibilang sebagai fans service buat target pasarnya. Soundtrack yang moving. ‘Atasan’ yang ganteng, mertua kaya yang galak. Juga ada unsur cinta segitiga, a friendzone; Fisha actually punya sahabat dari kecil, Hamzah (diperankan singkat padat oleh Morgan Oey), yang tentu saja jatuh cinta kepadanya. Karena apparently dunia ini mempakemkan dua orang enggak bisa just be friends tanpa ada salah satu pihak yang jatuh cinta. Kalimat-kalimat romantis. Dan tentu saja, air mata. Babak pertama film ini membahas tentang pertemuan Fisha-Fikri, membangun hubungan cinta mereka.

Aku jadi punya perasaan menyeramkan kalo cewek-cewek ‘suka’ ngeliat cowok menangis…

Aku jadi punya perasaan menyeramkan kalo cewek-cewek ‘suka’ ngeliat cowok menangis…

 

Aku mulai bisa menikmati cerita begitu masuk ke babak dua. Saat tokoh-tokohnya mulai expanded, enggak hanya fokus ke Fisha dan Fikri. Aku lebih suka karakter ibu Fikri (terakhir kali aku liat Roweina Umboh di mana ya?- I dunno, Dono Kasino Indro?) Karena sesuai kata-katanya, “Realistis aja”, tokoh ini benar membawa sense of reality yang sangaaaaat dibutuhkan ke dalam cerita. Kita memang lebih mudah nyantol kepada tokoh heel/antagonis, but really, aku benar-bener melek begitu ibu ini muncul di layar, so, thank you, Bu!

Ada tiga alumni Gadis Sampul bermain di film ini. Siti Anisa yang jadi perawat. Adithya Putri yang jadi Wenni, sahabat Fisha. Andania Suri juga ada, sebagai Dian-adik Fikri. Yea I know it is a minor character. Cewek kece ini hanya duduk di sana, look concerned, dan kita turut ngerasain apa yang dia rasakan. Dan ada adegan nangis, yang dilakukannya dengan decent. Suri sudah main di tiga film, dan ada dua lagi yang on the way; dia selalu mainin adegan nangis. She’s really good at it, but I really want to see her dalam aksi yang lebih beragam.

Air Mata Surga tahu betul siapa pasar mereka. Dan itu adalah suatu hal yang bagus. Jadi arah filmnya lebih fokus. They really know what they did.

They’ve tried really, really hard.

they’ve tried really, really hard.

Tapi sekali lagi, film adalah film.

Ada sekuens, ada struktur, layers yang perlu dipakai untuk nge-build cerita supaya film enggak jadi total cry-fest. Air Mata Surga melompati bagian-bagian storytelling nya sehingga filmnya terasa sedih gitu aja, tanpa ada yang bisa dinikmati. For once, the five-stages-of-grief. Cerita film ini bisa lebih berisi, dan berasa, jika karakter utama nya melewati lima tahap kesedihan itu. Fikri tidak terlihat mengalami ini saat dia akhirnya mengetahui semua. Kita melihat Fisha in denial saat dia mencoba hamil untuk kedua kalinya, gagal lagi. Lalu dia kind of marah. Sampai di sini, alur drama nya masih enak. Tapi kemudian lompat gitu aja ke acceptance di mana dia mencari solusi terbaik.

Dan ngomong-ngomong soal solusi, dalam film biasanya ada bagian yang disebut false resolution. Itu adalah saat tokoh utama ngelakuin hal yang dia percaya sebagai jalan keluar dari masalah, tapi ternyata tidak. Di Inside Out, Joy meninggalkan Sadness di luar agar Riley bisa bahagia. Dalam Filosopi Kopi, Ben memilih pulang dan berpisah jalan dengan Jody. Aku menunggu, tapi momen seperti itu tak kunjung datang dalam film Air Mata Surga. Mereka seharusnya bisa memperdalam solusi yang ditawarkan Fisha dengan memakai sekuens resolusi palsu tersebut. Karena, ‘meminta bantuan teman’ enggak terasa berkorban-berkorban amat kan? I mean, malah kerasa temannya itu yang berkorban lebih besar daripada Fisha.

Babak ketiga sebagian besar diisi dengan flashback. Well, gak masalah tapi ada satu rangkaian kilas-balik yang menjelaskan ‘kenapa’, yang sebenarnya tidak perlu. Karena penonton sudah bisa menyimpulkan sendiri, meski sambil sesenggukan. Dan lagi, adegan tersebut ‘membunuh’ karakter beberapa tokoh yang terlibat di dalamnya. Si ibu Fikri, misalnya. Karakternya mendadak jadi mengecil setelah adegan flashback tersebut menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Seharusnya mereka membiarkannya terbuka, sesuai interpretasi masing-masing penonton aja. Untuk kasus Hamzah, dia dibiarkan terbuka lebar, as in mereka lupa menutup arc tokoh yang satu ini. Dia terlupakan begitu saja. Tak pernah dibahas lagi.

"I still got paid, right?"

“remember me?”

Metafora ranting yang disebutkan oleh Fikri, yang jadi pesan utama film, juga didn’t work for me. ‘Aku memilih ranting terindah’ kedengarannya lebih ke selfish ketimbang noble, kayak, I have the best thing for me, so I will hold on into it. Metafora tersebut menjadi motivasi para tokoh utama, sehingga mengantarkan kepada pengorbanan yang tidak perlu seandainya mereka berprinsip kepada ‘melakukan yang terbaik dari apa yang kita punya.’ Seluruh kejadian di akhir film tidak perlu terjadi, karena sebenarnya masih banyak cara lain. Apalagi mereka main aman dengan plot kematian itu. Tapi ya, film ini adalah tentang manusia yang berpegang teguh kepada pilihannya dan rela melakukan apa saja untuk hal itu. Ironisnya, Air Mata Surga TERLALU SEMPIT DAN DANGKAL sehingga kita, dan juga para tokohnya, tidak bisa melihat pilihan yang lain. Dan ironis satu lagi adalah aku yang bersikeras nonton ini sampai habis meski hati udah teriak-teriak “what did I do to myself?!!”

Tadi sudah sempat kusinggung masalah TIDAK ADA SENSE OF REALITY dalam film ini. Dialognya, leluconnya, camera work nya, rangkaian peristiwa nya yang bergantung kepada kebetulan, semuanya terasa over. Semuanya terasa terlalu diatur supaya penonton bisa bilang “aaaaaah co cweeeett!”. Tidak kelihatan real sama sekali.

 

Tapi mungkin mellodrama kisah cinta seperti ini semakin lebay, maka semakin baguslah dia di mata penggemar. I honestly don’t know.

Tapi… ya, sekali lagi, film adalah film. The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for Air Mata Surga.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements