Tags

, , , , , , , , , , ,

“Thank God this is the end.”

 

ParaNormalActivityTheGhostDimension-Poster

 

In case you are wondering, iya, aku selalu memulai sebuah review film dengan kata-kata kutipan dari source yang random –entah itu dari orang terkenal, pepatah, another movie’s line, lirik lagu, buku, ataupun dari koran bungkus cabe- yang menurutku mewakili inti yang hendak kubahas dari film tersebut. Dalam kata lain, sebagai judul review-an.
Nah, khusus film ini, untuk pertama kali aku pake kutipan dari mulut semua orang yang masih waras yang sudah menyaksikannya sendiri; “terima kasih sudah mengakhiri seri film ini”. Titik. Please no more.

Paranormal Activity yang original was actually creepy karena atmosfer ‘something happening while you asleep’ nya masih kuat. Faktor the unknown nya kental dalam penceritaan. Kita belum tahu apa yang terjadi. Dan certainly, kita enggak tahu apa atau siapa yang akan kita hadapi. “Mana hantunya?”, kita bertanya dengan mata antara melotot dengan menyipit. Nah lo, gimana tuh? hihi.. Aku masih ingat nonton di dvd, setiap adegannya ganti jadi kamera ngerekam ruang kosong, aku siap-siap memencet tombol ‘pause’, takut kalo-kalo ada hantu yang nongol dan aku melewatkannya. Sekuelnya yang kedua dan ketiga worth watching karena mereka mencoba untuk develop more stories behind the event. Cerita asal muasal tersebut lumayan bisa diikuti. Film yang ketiga bahkan, menurutku, adalah Paranormal Activity yang paling seram karena it has some effective scares on it. Tapi kemudian, it all went downhill from there. Aku enggak tau kenapa sejak taun kemaren mereka menghilangkan angka dari judulnya. Mungkin karena lupa. Atau karena malu –“gile, mau bikin ampe berapa, lu?”– Atau mungkin karena mereka berniat untuk bikin terus sambungan film ini -oh jangan sampe, produser Jason Blum, please save yourself by really, truly stop making Paranormal Activity movies! Serius. Karena Paranormal Activity sudah jadi REPETITIF, MEMBOSANKAN, DAN UDAH JADI ENGGAK ADA SERAM-SERAMNYA.

Paranormal Activity The Ghost Dimension lagi-lagi tentang sebuah keluarga, lagi-lagi anaknya berteman dengan hantu (pada berani ya, anak-anak barat), lagi-lagi ngerekam aktivitas di rumahnya, lagi-lagi berakhir dengan kematian sementara kameranya masih nyala. Long live the cam! Dasar hantu narsis, mungkin sejak film pertama, hantu nya jadi enjoy direkam.
Mike (nice ‘stache, Dan Gill) menemukan kamera unik di dalam sebuah kardus di rumah keluarga abangnya, Ryan (Chris J. Murray mainkan karakter suami yang otaknya kayak anak-anak di buku Goosebumps). Dapat mainan baru, Ryan lantas melihat sesuatu material, sesuatu entity, di rumah mereka melalui –dan hanya bisa dilihat oleh- kamera tersebut. Dia jadi mulai merasa sumtingwong saat anaknya, Leila (Ivi George, masih di dalam garis tokoh anak annoying), berinteraks..ehm, lebih tepatnya akrab dengan si partikel misterius. Apalagi setelah dia menonton video-video yang mereka temukan di dalam kardus bersama dengan kamera itu. Kaset-kaset video itu actually adalah rekaman Katie dan Kristy (dua tokoh sentral Paranormal Activity) saat mereka di’gembleng’ oleh sebuah cult. Cukup nyeremin sih, saat rekaman video tahun 80an itu menyebutkan keadaan Ryan dan keluarga dengan sangat tepat padahal mereka nontonnya di tahun 2014!

“Kita hashtag nontonception banget ya, Pa.”

“Kita hashtag nontonception banget ya, Pa.”

 

Nol karakter development. Nol plot. EN-NOL! Tokoh-tokoh tersebut enggak ada ‘journey’, enggak ada pertumbuhan sama sekali. Tindakan mereka semua bego. Tidak ada yang bisa kita sukai dari mereka. Kesinambungan film ini dengan keseluruhan seri, mengingat film ini katanya seri terakhir, terlihat sangaaaat maksain. Konsep time travelnya terasa sebagai langkah desperate untuk mengakhiri semua. Satu-satunya problem yang ada di dalam cerita, yang membuat film ini berjalan cuma Ryan yg entah kenapa enggak mau nunjukin video rekaman misterius itu kepada istrinya, Emily, yang gak percayaan (Brit Shaw lumayan tapi tokohnya kelewat datar). Padahal kalo Ryan ngeliatkan bukti-bukti itu sedari awal maka, well, filmnya hanya akan jadi setengah jam kurang. Tamat.

Film ini TAK LEBIH DARI LOUD JUMP SCARE-FEST DAN PARADE CGI ALAY. Aku enggak ngerti kenapa film dengan budget yang tergolong relatif rendah suka nekat memakai teknologi tinggi. Tidakkah mereka sadar kalo 3D tidak pernah jadi standar sebuah film bagus atau enggak? Tidakkah mereka sadar kalo hantu yang keliatan palsu itu bukannya menyeramkan malah terlihat konyol? Mereka salah besar ngeliatin wujud Toby pake efek komputer. Karena seperti yang kubilang tadi, Paranormal Activity pertama letak seramnya karena kita gak tahu itu makhluk apa, wujudnya kita bayangin sendiri. The whole purpose of  the found-footage horor adalah kita melihat tapi tidak bisa melihat. The Blair Witch Project tidak terkenal karena punya monster animasi komputer. Film itu disebut sebagai pinnacle dari found-footage horror karena udah sukses nyuguhin experience ketakutan yang nyata dari sudut pandang pertama. Paranormal Activity: The Ghost Dimension melupakan inti tersebut dan instead, malah ngandelin suara-suara keras sebagai faktor horor. Blegh! Suara yang seram setahuku cuma suara ketawa KanalitnuK dan suara kentut yang ngalahin petir. In fact, the only time sebuah suara bisa menjadi sangat menakutkan adalah jika suara tersebut actually absen, liat aja ruangan kedap suara yang bisa bikin orang jadi gila itu.

 

Gak tau lagi deh. Mungkin kita yang bego rela duduk satu setengah jam demi mendapat satu momen yang bisa bikin kita teriak. Mungkin yang bikin film makin males mikirin cara membangun suasana horor yang bener. Atau mungkin memang penonton sekarang perlu dikasih suara-suara keras, jadi mereka bisa tahu kapan harus berhenti main hape saat nonton. The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for Paranormal Activity: The Ghost Dimension. Mamam tuh 3D!

 

 

 

That’s all we have for now

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements