Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Age is just a number.”

 

TheLittlePrince-Poster

 

Pernah liat ranting kayu tergeletak di jalan? Sering kan ya, paling banter kalo lagi cukup baik hati, kita akan menyingkirkannya. Tapi ingatkah sewaktu kecil, ranting bukanlah ranting bagi kita? Itu adalah pedang kesatria yg hilang.
Itu tongkat sihir mak lampir.
Itu pistol berpeluru api!

 

The Little Prince membawa kita untuk mengingat kembali seperti apa kita memandang dunia dulu. Prioritas kita sudah berubah. As an adult, kita sekarang more driven, berpikir realistis, tapi kita juga dull dan berpikiran sempit dan selfish dan boring. Kita tidak lagi bisa melihat dunia as we think it should be; sebagai sebuah tempat penuh rahasia. Bukan sebagai arena balap lari.

Film ini adalah SENTILAN BUAT ORANG DEWASA. Apakah kita yakin mau merampas imajinasi dari anak-anak, dari adek-adek kita? Tidak memberi mereka kesempatan untuk ‘tumbuh’ properly? Seperti Ibu si Gadis Kecil yang membesarkannya dengan penuh disiplin. Jam segini makan, jam segitu belajar, sekolah di sana, mainnya besok aja. Beruntung si Gadis Kecil tetanggaan sama Pak Tua eksentrik yg mantan seorang penerbang, The Aviator. Rumah Pak Tua ini kontras sekali dengan rumah-rumah di kompleks si Gadis Kecil tinggal. Terlihat berantakan, dibangun sekenanya, dengan rumput yang tumbuh tinggi menandakan si Aviator enggak pernah berniat untuk memangkasnya. Segala perbedaan Pak Tua dengan orang lain menggelitik rasa penasaran Gadis Kecil yang selama ini hanya melihat keseragaman. Apalagi saat Pak Tua membagikan dongeng nya kepada si Gadis Kecil. Kisah tentang dirinya yang terdampar di Gurun Sahara dan bertemu dengan seorang Pangeran Cilik. Pangeran yang bisa melihat domba di dalam gambar sebuah kotak. Pangeran yang datang dari rumahnya di sebuah asteroid kecil. Pangeran yang selalu bertanya. Pangeran yang mengajarkan kita semua betapa pentingnya melihat dengan hati.

yang bilang ini gambar topi ngacuuuunggg!

yang bilang ini gambar topi ngacuuuunggg!

 

Everything about the story is heartwarming.
Aku suka gimana mereka membedakan penampilan universe di film dengan universe cerita si Pak Tua. ANIMASI MAINSTREAM BERPADU MULUS DENGAN ANIMASI STOP-MOTION yang terlihat lebih imajinatif. Sekali lagi pointed out mana yang ngebosenin, mana yang murni dan enggak superficial.
Pengisi suara nya juga keren-keren. Ada Rachel McAdams yang jadi Ibu, Mackenzie Foy nyuarain Gadis Kecil, Jeff Bridges nyuarain Pak Tua The Aviator, James Franco yang jadi si Rubah (aku enggak tahu kenapa di teks bioskop yang aku tonton, binatang ini dipanggil Serigala instead), Marion Cotillard jadi si Mawar, dan Benicio Del Toro jadi satu-satunya karakter yang absolute dalam cerita kehidupan penuh misteri ini, si Ular.

Haru aja nonton film yg ngingatkan untuk selalu ‘berpetualang’ EKSPLORASI dunia, juga mengeksplorasi diri -simpelnya, INTROSPEKSI-, dan THE NATURE OF TRUE LOVE. Pangeran Cilik sangat menyayangi bunga mawar yang ia siram dan pelihara setiap hari. Mawar itulah alasan utama Pangeran pergi meninggalkan rumahnya, dan Mawar itu jualah alasan Pangeran ingin kembali. Pangeran juga bertemu dengan Rubah yang mengajarkan tentang konsep ‘tame’ dan apa itu unik. Relationship mengajarkan kita untuk bertanggungjawab. Dan di jaman kala interaksi antarmanusia semakin terbatas, ya aku bilang seperti sekarang- right in this very moment!, film ini benar-benar terasa seperti bintang terang buat kita.

Segala simbol-simbol dan percakapan dalam cerita pangeran itu mungkin terlalu berat dipahami oleh anak-anak. Ingat film Inside Out yang ‘kena’ nya bisa berbeda buat setiap lapisan umur? Nah, The Little Prince ini, it is really hard to get past the surface cerita tentang masa anak-anak yg terlupa. Mungkin itu sebabnya anak yang nonton bareng ibunya di barisan depanku, gelisah. Kids should enjoy their childhood, their innocence, seperti pesan cerita ini. Dalam buku aslinya, Le Petit Prince, Antoine de Saint-Exupéry memposisikan sudut pandang dari si Aviator sebagai orang pertama. So I guess, sedari awal The Little Prince lebih tepat ditujukan untuk para orangtua. Namun filmnya sendiri dibuat dengan penceritaan yang merupakan ekspansi dari cerita aslinya. Ada penambahan tokoh Gadis Kecil dan Ibu. Jika di cerita asli, Pangeran Cilik adalah representasi dari sifat anak-anak yang datang kembali ‘menyapa’ Aviator yang mewakili orang dewasa, maka Gadis Kecil pada film ini dibuat sebagai refleksi dari anak-anak keluarga modern. Dan sepertinya setelah nonton ini, anak-anak tersebut justru takut jadi dewasa haha.

Question everything, kids!

Question everything, kids!

 

The Little Prince sepertinya AGAK TERJEBAK AGAR DISUKAI ANAK-ANAK, dalam usaha mereka membuat cerita yang diangkat dari buku Perancis ini terlihat Hollywood. Sekuens petualangan mencari Pangeran, menurutku terlalu preachy, as in kenapa dia harus dicari – seolah after all this time, menemukan kebahagian memang adalah hal yang utama? Rasanya rada enggak klop sama tone originalnya, deh. Mungkin akan lebih tepat sasaran jika Gadis Kecil berpetualang bersama Pangeran Cilik mencari dan membawa Pak Tua pulang kembali.

Karena sesungguhnya memang umur itu hanya sebuah angka. Tapi orang dewasa cenderung menilai sesuatu dengan ukuran angka, mereka baru peduli kalo ada ‘takaran bobot’nya. Anak akan bercerita tentang teman mereka yang pintar; pandai menggambar binatang, orangtua akan bertanya “rangking berapa dia?”. Anak bercerita tentang sebuah mobil bagus, yang warnanya merah punya sayap di ekor, orang dewasa enggak akan excited sebelum mereka mendengar harganya di atas atau di bawah 500 juta. Over sama angka ini bahkan juga turun ke movies. Film-film bagus akan dilihat dari jumlah pencapaian penonton di box offices. Orang kebanyakan malas nonton film yang reputasi jumlah penontonnya sedikit. Anak-anak tidak akan pernah peduli sama jumlah kalo mau nonton film, bagi mereka nonton ya mereka pergi ke dunia khayalan. Dalam review film aja, butuh banget buat bikin kesimpulan penilaian film dalam bentuk ‘dapat bintang berapa’.

Balik ke soal umur yang hanya angka, kita tidak boleh takut tumbuh menjadi dewasa. Dewasa bukan berarti kita totally berubah, kehilangan siapa diri kita yang sebenarnya. Seperti juga yang disebutkan Pak Tua di dalam film, bukan umur yang bikin kita lupa, tapi kita sendiri yang memutuskan untuk lupa.

Yes, we all do need to grow up. Paling enggak, biarkan anak-anak memilih sendiri mau jadi apa mereka nanti. Kadang-kadang, it is nice loh kalo ada yang nanya kita maunya apa. Belum tentu mereka bahagia menjadi orang yang dipuja, jadi penguasa, atau menjadi orang kaya. Anak bukan robot. Bukan pula tempat nanam saham. Tanyai mereka sukanya apa. Biarkan mereka yang memutuskan. Dengan belajar dari pengalaman yang mereka alami sendiri.

 

Film spesial yang sangat menawan. Really strikes us dengan pertanyaan “Apa sih sebenarnya hal yang ‘penting’ di dalam hidup ini?” The Palace of Wisdom, just to makes us adults happy, gives solid 7.5 gold stars out of 10 for The Little Prince.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements