Tags

, , , , , , , , , ,

“Telling the truth is the thing we have to learn.”

 

DarkPlaces-Poster

 

Semua orang berbohong. You lied. I lied. They lied. Udah kodratnya kalo manusia itu mahkluk tukang bo’ong. Makanya sedari kecil kita diajarkan untuk berkata yang sebenarnya. Kita belajar untuk jujur.

Sayangnya enggak ada yang ngajarin Libby Day akan hal itu. Ibu dan dua kakak Libby tewas dibunuh secara misterius, somehow dirinya yang saat itu baru delapan tahun berhasil melarikan diri. Her dad was a nut job, gak bisa diarep. Sementara abang Libby mendekam di penjara setelah ditetapkan sebagai tersangka utama pembunuhan tersebut. Libby sebatang kara. Dia harus berbohong untuk bisa survive. Dia tumbuh gede dengan bermanis-manis ria agar orang tetap simpatik dan terus menyumbang untuknya. Apalagi sekarang, Libby tumbuh jadi cewek jalanan yang tangguh. Manisnya ilang, Libby gede mulai kere. Dia lantas menerima tawaran buat bercerita tentang peristiwa pembunuhan itu kepada sekelompok pecinta misteri yang tertarik untuk mengungkap kenyataan di balik tragedi masa kecilnya tersebut. Libby Day terpaksa mengarungi dan mengunjungi kembali tempat-tempat tergelap di dalam kenangannya, di mana di situlah dia akhirnya belajar about this world of lies and truth.

See, plotnya sendiri udah sukses bikin kita bergidik tak nyaman. Manusia bisa mengalami begitu banyak, it changes their life upside down, dan masih harus terus berjuang – baik atau buruk – untuk a better life. Dark Places adalah THRILLER SURAM YANG MEMUKAU. It was beautifully directed. I like how the story unfolds. Adegan-adegan flashback nya ngalir alami, gak terasa rushed – gak bikin bingung.

Ada unsur pemuja setannya segala, dan events around that issue bikin film ini awalnya mirip-mirip kasus di True Detective season satu. Revealing di akhirnya pun gak pake twist yang over the top. Jadinya SATISFYING DAN TERASA REAL. Karakter-karakternya, meski sedikit, tapi hidup banget thanks buat casts yg memang keren punya. Si Charlize Theron is so flawless mainin Libby Day, the most suffered person di dalam cerita ini. Dan yeaa, Chloe Grace Moretz sekali lagi done a decent job, salut buat kemampuannya mainin different kind of characters everytime we saw her on movies.

no, it’s not about they are searching for Mad Max

no, they are not searching for Mad Max

 

Banyak yang membandingkan Dark Places dengan Gone Girl, sebagai sesama adaptasi dari novel karangan Gillian Flynn. Sama-sama psikologikal. Sama-sama tentang human telling lies. Film Gone Girl lebih menekankan kepada unsur misteri apa yang sebenarnya terjadi, dengan major twists di tengah. Dalam Dark Places juga ada misteri begini. Bersama Libby kita diajak untuk silih berganti mencurigai karakter lain, namun kita merasa udah tahu harus ngacungin telunjuk kepada siapa. Atau bahkan kita tidak mempedulikan ‘siapa’ di dalam film ini, and yet ceritanya akan tetap menyeret kita ke dalam kegelapan. Bukan twist yang ditonjolkan dalam film Dark Places. IT IS CAPTURING PREJUDICE AND DESPAIR REALLY WELL, dan delivered tema tersebut langsung ke penonton.

Struktur film terasa lebih kuat, tapi somewhat itu membuatnya kehilangan appeal. Penonton cenderung menunggu the big-reveal, menyangka ini misteri pembunuhan hebat, mereka mengharapkan paling enggak mendapat treatment yang sama dengan saat nonton Gone Girl, tapi enggak. Aura suram dan misterius film ini tidak dimaksudkan untuk bikin kita bilang “wah, ternyata dia.” Dark Places terlihat lebih beban untuk ditonton dibandingkan Gone Girl. But I don’t think itu jadi weakness buat drama thriller ini, tergantung yang nonton aja.

Jadi, apakah film ini berbohong?
Apakah yang nonton benar ngerasa film ini di luar perkiraan mereka pada akhirnya? Seperti saat kita beli barang namun yang diiklankan jauh lebih bagus?
Apakah yang nonton merasa ditipu udah memilih-milih tapi ternyata jawabannya disuguhin belakangan di dalam options?

Well, beberapa yang sudah membaca bukunya bilang dari segi karakter, Charlize Theron bukan Libby Day banget. Deskripsi fisik mereka berbeda jauh. For once, rambutnya enggak merah. They did say bahwa film ini lebih STAY TRUE KEPADA BUKUNYA dibandingkan dengan Gone Girl, tho. Aku enggak tahu, aku belum pernah baca bukunya. But if you’d ask me, aku lebih suka Dark Places karena misterinya terasa lebih nyata, lebih dekat. Enggak ada murder scheme yang sempurna di dalam ceritanya.

 

Bukan cerita detektif. Bukan pula cerita hantu. Dark Places adalah misteri tentang betapa mengerikannya stature of human nature. Innocent or guilty, bedanya cuma setipis kertas. Film yang mungkin depressing buat beberapa orang, tapi semua akan terbayar di akhir. The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 to brighten up the Dark Places.

 

 

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements