Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Fear of clowns is no laughing matter.”

 

Badoet-Poster2

 

Meski punya beragam folklore atau cerita rakyat atau mitos yang seram-seram dan sudah banyak diadaptasi ke ratusan judul film horor, Indonesia belum betul-betul memiliki tokoh cerita film horor yang ikonik. Untuk alasan tertentu, film horor Indonesia tidak pernah membahas makhluk horor tersebut lebih dalam. Mereka hanya terasa seperti atribut padahal nama mereka terpampang sebagai judul. Kita tidak merasa ‘kenal’ dengan kuntilanak sedekat kita kenal Sadako. Tidak banyak yang ingat dengan Turah, tapi hapal dengan jargon boneka Jigsaw. Tuyul masih kalah pamor sama Annabelle. Peran tokoh horor pada film Indonesia kebanyakan masih terbatas sebagai tukang bikin takut. Beberapa dari mereka bahkan diberi plot yang tidak bisa dianggap serius. Padahal salah satu maestro pembuat film horor, Wes Craven, bilang, “..don’t create fear, release it.” Ketakutan tidak diciptakan, melainkan dikeluarkan. Dari segi penampilan – ah tepatnya, dari segi penampakan – tokoh horor Indonesia jauh lebih seram, jadi mengapa tidak menggali nilai unggul tersebut dari sudut yang lain?

 

Dan datanglah Badoet. “Pot! Pot! *bunyi suara hidung dipencet*

 

Rumah susun yang ditempati Donald (tokoh Daniel Topan ini kerasa paling under developed) gempar. Anak-anak penghuninya mendadak seolah ikutan sekte bunuh diri, satu per satu mereka tewas mengenaskan. Bersama sepupu yang juga teman sekamar, Farel (cowok sembrono ini diperankan oleh Christoffer Nelwan) dan teman kuliahnya, Kayla (Aurelie Moeremans cukup banyak kebagian teriak di sini), Donald menyelidiki kasus tersebut. Donald yakin semuanya berhubungan dengan kotak musik antik yang dibawa pulang oleh anak Raisa, tantenya (peran tokoh Ratu Felisha actually lebih besar dari kelihatannya). Mereka harus menyatukan petunjuk-petunjuk yang semuanya mengarah kepada badut misterius dan bertindak segera sebelum jatuh korban keempat!

Sosok horor yang menjadi tema film ini jelas berbeda dari tipikal tokoh horor – malahan dari keseluruhan – film Indonesia. Tampaknya, menurut sutradara Awi Suryadi, ini adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan Indonesia kepada tokoh yang dalam berbagai literatur dunia sudah dianggap sebagai penggambaran sempurna sifat munafik manusia. Di luar, wajahnya tersenyum penuh riasan, namun dalamnya siapa yang tahu. Heck, dalam kehidupan nyata banyak pembunuh yang menyaru sebagai sosok jenaka tersebut. Badut juga pernah dipake sebagai gimmick antagonis di WWE, ingat gimana musik entrancenya Doink the Clown aja udah mampu bikin penonton anak-anak merengket ke orangtua masing-masing?
Sejak jaman kerajaan-kerajaan di Eropa, BADUT DIASOSIASIKAN DENGAN KEMATIAN DAN RASA KETAKUTAN. Di abad pertengahan, badut adalah penghibur untuk raja. Jika badut gagal membuat sang raja tertawa, maka hukuman sudah menunggu.
Peran badut berubah seiring dengan berjalannya waktu. Sedikit kredit mungkin harus kita berikan kepada Ronald McDonald, hence the name of the protagonist in this movie, maybe. Badut jadi lebih ceria, kostumnya semarak, balonnya warna-warni, hidungnya bulet bisa bunyi, menghibur anak-anak dengan tingkah polos dan lelucon dan trik-trik yang di luar perkiraan. Karena ‘fitrah’nya yang mendorong logika kita sampai ke breaking point itulah, banyak orang yang takut kepada badut.

"Ho..ho…hoooo it’s magic you knoowww, never believe the fatsooo!”"

“Ho..ho…hoooo it’s magic, you knoowww, never believe the fatsooo!”

 

Waktu kecil aku pernah nangis ngeliat badut di karnaval, so yea, personally aku emang biasanya ngeper duluan sama makhluk ini. Film Badoet sendiri adalah horor yang rasa-rasanya bisa membuat para Coulrophobia sembuh, jika mereka sanggup menguatkan diri untuk nonton sampai habis.

Badoet menepati janji dengan tidak memakai trik malas yang sudah lumrah dilakukan film horor jaman sekarang. Badoet tidak tampil dengan musik keras ngagetin yang berlebihan. Semua ADEGAN-ADEGAN SERAMNYA DILAKUKAN DENGAN EFEKTIF. Permen karetku nyaris tertelan saat adegan Kayla melihat balon yang berjalan sendiri. Adegan Vino kesurupan yang dibacakan ayat Kursi terlihat genuinely menyeramkan, seperti homage buat adegan pengusiran setan di The Exorcist (1973). Film ini memang MENGGUNAKAN GAYA BERCERITA YANG BERAGAM; pemecahan misteri ala detektif, cerita hantu, juga menyerempet garis slasher karena adegan-adegan kematiannya cukup graphic, sadis. Anak-anak jelas akan mimpi buruk jika nekat nonton film Badoet. On the other hand, penggemar horor akan susah untuk tidak tepuk tangan melihat adegan kematian seorang anak yang jatuh dari lantai paling atas rumah susun. Dan, oh ngomong-ngomong, nama anak itu Anakin, jadi penggemar Star Wars juga bisa tepuk tangan. Perpaduan antara kerja kamera dan editingnya berhasil membangun suasana yang bikin bulu kuduk merinding. Bagunan rumah susun itu terlihat creepy di malam hari. Lorong-lorong gelapnya. Sudut-sudut lokasinya. Kengerian suasana pasar malam yang sepi juga sukses dihadirkan dengan baik. Kapten Cilukba, nama hantu badutnya, tampil dengan porsi yang pas. Dia bisa muncul di mana saja dan tetap terasa tidak berlebihan. Suara ketawanya itu loh, yang paling menakutkan.

Setelah menyaksikan sendiri, aku sekarang bisa melihat kenapa film ini mendapat banyak sambutan positif. Tapi juga tak sedikit yang meragukan. Salah satu masalahnya adalah Kapten Cilukba terlihat familiar. Secara fisik, memang badut yang diperankan dengan Ronny P. Tjandra ini perawakannya mirip dengan badut jahat di film TV buatan Stephen King, It (1990). Tapi, cerita sebenarnya Kapten Cilukba dan Pennywise jauh berbeda. Bayangkan alien dan manusia, nah segitulah jaraknya, literally. Persamaan mereka sebatas badut yang membunuh anak-anak.

Seperti yang sudah disebutkan; hal baru dalam film Indonesia, namun tokoh badut sudah laris jadi antagonis dalam cerita-cerita barat. Yang paling recent, adalah Twisty dalam American Horror Story: FreakShow (2014). Mari kita lihat perbedaan mereka berdua.

Twisty adalah badut sirkus, manusia yang tadinya baik namun difitnah, bibirnya hancur, turned into serial killer, dan akhirnya menjadi hantu.
Kapten Cilukba adalah badut pasar malam, manusia tersangka pembunuhan tapi tidak ada bukti, bibirnya robek, turned into a murdering spree setelah akhirnya menjadi hantu.

Kapten Cilukba yang hadir dengan kisah menyerupai – walau sudah digabung dengan tambahan origin seperti Freddy Kueger – masih belum bisa mengalahkan Twisty yang ‘kuat’ dari segi penokohan. Kita belum bisa peduli kepada Kapten Cilukba. Selain rasa takut, we don’t feel anything for him. Ataupun kepada karakter-karakter yang lain.

cangkul itu adalah the most damaging thing that happen to them, serius.

Sekop itu adalah the most damaging thing that happened to them boys, serius!

 

Tokoh-tokoh dalam film Badoet tidak mengalami perkembangan yang signifikan, mereka tidak punya plot. Saat akhir film, kebanyakan mereka pretty much the same person dengan saat film ini dimulai. Bukan jenis karakter yang bisa kita dukung. Bahkan karakter cewek tomboy cenayang, Nikki yang diperankan oleh Tiara Westlake, sepertinya lebih baik jika tidak ada. Semua adegan flashback yang menjelaskan mengapa, di mana, dan siapa itu masih bisa dilakukan tanpa harus ada Nikki di sana. Keberadaan Nikki yang punya indera keenam hanya membuat film ini terasa mengambil langkah-yang-mudah untuk pengungkapan ceritanya. Membuat segala misteri menjadi eksposisi. Padahal di babak awal, film ini menarik, saat ketiga tokoh utama berusaha menyelidiki apa yang terjadi. They should’ve kept it that way. Dan lagi, segala dialog tentang sepakbola gak jelas itu bisa diganti menjadi percakapan yang lebih witty jika Nikki ditiadakan. TIDAK ADA PEMIKIRAN ATAU IDEA YANG MEMBUAT BADOET LEBIH DARI SEKADAR WAHANA MENGERIKAN. Tapi, I admit, film ini dengan cerdik menutup cerita dengan shot ending, yang bisa dibilang intriguing dan strong, meninggalkan penonton menebak-nebak seperti apa jadinya.

 

Dengan segala trik-trik menyeramkan nya, Badoet surely akan mendapatkan tempat tersendiri di tengah-tengah arena sirkus film Indonesia. Sebagai horor yang benar menampilkan horor. The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for Badoet performance.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements