Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The apple does not fall far from the tree.”

 

1447915523902

 

Dalam menonton film, aku berprinsip “semakin sedikit tahu semakin baik.” Aku suka datang ke bioskop dengan berbekal minim pengetahuan tentang film yang hendak aku tonton. Aku enggak suka nonton trailer sebelum nonton film utuhnya. Aku baru buka youtube, mencari trailer sesudah filmya selesai kusaksikan. Karena tak jarang, trailer bisa sangat menyesatkan. Tidak really menangkap the heart of a movie. The Babadook (2014), contohnya. Trailernya menyugestikan hal yang sama sekali berbeda dengan cerita keseluruhan. Gak bisa disalahin sebab trailer dibuat murni untuk kepentingan menjual film secara komersil, dan aku simply just not see film dari sisi menjual atau enggaknya. We don’t judge a movie by it’s trailer at the Palace of Wisdom.

 

Nay itu panggilan seorang aktris garismiring maybe a model yang bernama lengkap Nayla Kinar. Film ini semuanya adalah tentang wanita ini. Hanya ada Nay, mobilnya, dan telefon. Kita diajak untuk ikut mendengarkan problematika kehidupan Nay, yang baru tahu bahwa dirinya hamil. Yup, itulah keseluruhan film ini. Lokasinya cuma di dalam mobil, dengan terkadang ‘mampir’ melihat keadaan jalanan kota Jakarta di malam hari. Dishot dengan teramat baik, di adegan pembuka kita disuguhin lampu-lampu, juga terdengar scoring, yang somewhat bikin perasaan jadi uneasy.

Tapi film Nay JAUH DARI KATA MEMBOSANKAN. Kita akan dibuat hooked dengan apa yang terjadi di dalam mobil tersebut, di dalam karakternya. Kita akan belajar tentang Nay dari percakapan wanita itu dengan orang-orang terdekatnya di telefon. Akting Sha Ine Febriyanti pantas mendapat acungan jempol. Dia ‘mengemudikan’ film ini, sendirian. Kita bisa melihat perubahan karakter yang dimainkannya. Dari yang tadinya nice dan berusaha tabah menjadi chaotic. Breakdown sang tokoh mengalir natural. Adegan Nay ‘ngobrol’ dengan ibunya was very well-played. Aku suka dengan konfliknya yang dikaitkan dengan lagu klasik, Que Sera Sera. Pertama Nayla kepikiran tentang masa kecilnya – her relationship dengan ibu dan keluarga angkatnya , lalu tentang dia dan pacarnya, dan terakhir tentang anak yang kini tengah dikandungnya.

“que sera sera, what ever will be, will be… filmku kayak Tom Hardy~~”

“que sera sera, what ever will be, will be… filmku kayak Tom Hardy~”

 

 

Kali ini ketidaksukaan nonton trailer jadi bumerang buatku. As in, kalo saja aku liat video trailernya lebih dahulu, aku enggak akan menonton film Nay. Karena, jika ada yang lebih aku tidak suka dari trailer film, maka itu adalah film yang tidak original. Sungguh ironis, baru kemaren aku nulis tentang originalitas film Indonesia, dan sekarang…. BAM! Kita ditabrak sama Nay.

Kalian gak bisa bayangin gimana cengok nya aku saat Nayla nyalain mobil, lalu bicara sendiri, I was like, “looooh kok mirip…?” dan adegan-adegan berikutnya sama sekali tidak memberikan comfort terhadap dugaanku, like, “they did not just do that..!”

 

FILM NAY ADALAH KOPIAN DARI FILM LOCKE (2014). Period. Aku tidak bisa menemukan pembelaan lain. Completely kayak versi cewek dari thriller yang dibintangi dengan gemilang oleh Tom Hardy itu. VERSI YANG LEBIH FEMINIM. Semuanya sama, treatment satu lokasi-satu tokoh, judul yang diambil dari nama tokoh, dialog dari percakapan telefon, bahkan sampai sosok ibu yang sebenarnya tidak ada di sana – Nay mengambil apa-apa yang sudah bikin Locke begitu awesome. Yea, I will not hold any spoilers regarding plot-point here. Nay deserved to get spoiled, hey, udah pada nonton Locke dong pasti, udah setahun ini!

Dalam Locke, Ivan menghamili seorang wanita dan dia ingin berada di sana saat proses kelahiran. Ivan Locke rela mengorbankan segalanya; pekerjaan, keluarga, practically he’s willing to throw his life away untuk bertanggungjawab. Ivan tidak mau menjadi seperti ayahnya. Yang membuang dirinya saat masih kecil. Ivan ingin melakukan hal-yang-benar, hal yang tidak dilakukan oleh ayahnya. Dan kita sebagai penonton dibuat kebingungan sendiri, sebenarnya yang mana sih hal yang benar itu? Betul-betul penulisan dan penampilan yang brilian! Ini adalah film tentang pilihan dan perjuangan yang harus dilakukan manusia terhadap hal yang menurutnya benar.

Nay garapan Djenar Maesa Ayu, dengan tema kekerasan terhadap wanita sebagai pemanis dalam usahanya untuk terlihat berbeda, MENGGUNAKAN DASAR PEMIKIRAN YANG SAMA dengan Locke. Mengangkat permasalahan yang serupa, yang itu juga dengan sudut pandang dari pihak yang lain. Nayla hamil, dia minta pertanggungjawaban kepada Ben; pacarnya. Nay siap untuk mengorbankan pekerjaan (dia baru saja mendapat job di luar negeri) dan persahabatannya (Adjeng sahabat Nay sangat menganjurkan untuk sebaiknya aborsi saja). Nay berkeras pokoknya agar anak di dalam kandungannya tidak mengalami hal yang sama seperti yang dulu ia alami bersama ibunya. Nay tidak mau menjadi seperti ibunya. Nay ingin melakukan hal-yang-benar, ia ingin buktikan dia tidak sepengecut dan semunafik sang ibu. Dan kita sebagai penonton dibuat kebingungan sendiri, kenapa melahirkan anak menjadi sebuah pertimbangan begitu beratnya bagi orang ini in the first place?

Tidak seperti Locke yang karakter studinya kompleks namun mudah untuk direlated to, Nay terasa lebih simpel dan blak-blakan dan, mungkin karena aku cowok, I found her hard to relate to. “Tidak ada kebenaran yang mutlak,” kata Nayla. Namun konflik Nay justru jadi kayak sinetron banget. Menurutku cukup lucu, Nayla resorted ke curse words lebih cepat daripada Ivan haha. Yea, film ini memang KUAT GENDER SOCIAL ISSUE nya. Tapi kedua film ini memiliki titik tujuan yang sama, bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kita bisa lihat pada akhirnya Nay (ataupun Locke) mengambil langkah yang sejalan dengan orangtuanya. Di dalam film Nay kita lebih mudah untuk melihat pesan tersebut. Dan kurasa itu membuat drama Nay jadi less-interesting, juga fakta bahwa film ini seakan nyontek tak bisa dilupakan gitu aja.

Sekarang aku tantang orang yang berani bilang bahwa gaya bercerita film Nay artsy, unik, kualitas tinggi, dan lain dari yang lain.
Aku sampai nunggu kredit filmnya abis loh, demi nyari kali aja memang film ini beli lisensi atau semacam official remake gitu, tapi aku tidak nemuin info apapun atau seenggaknya tulisan pengakuan bahwa film ini memang niru film Locke. Film Nay tergolong bagus, sayang statusnya hanya akan jadi ‘sloppy-second’ dari film yang disutradarai oleh Steven Knight. Unbeliveable yang bikin Nay enggak riset-riset dulu. Dengan ini, sekali lagi film Indonesia proclaimed dirinya sebagai bawahan dari Hollywood; masih ngekor, ugh!

 

 

Yay or Nay? Kecewa sekali memang film sepintar dan sethought-provoking gini adalah mirip jiplakan. Just can’t take this movie seriously. Kayak kita punya anak yang pintar terus belakangan kita tahu ternyata dia hanya nyalin pekerjaan temannya. Well, kalo nol adalah ambang batas originalitas, maka The Palace of Wisdom gives (-)4 of (-)10 gold stars for Nay.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements