Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Can you practice what you preach? Or would you turn the other cheek?”

 

mockingjay-poster-final

 

Oh wow film seri adaptasi novel remaja ini udah penghabisan aja. Rasanya baru kemaren aku nulis The Hunger Games yang pertama di daftar My Dirt Sheet Top 8 Movies of 2012. Time really flies dibawa Mockingjay.

Sejak dari film perdananya, The Hunger Games ditujukan sebagai cerita seputar perang, terutama dampaknya terhadap anak-anak. Selalu anak-anak. Itulah yang membuatnya berbeda dari franchise young adult lain. Membahas perlawanan yang dilakukan dalam sebuah corrupted society. Film ini enggak lagi bisa kita sindir sebagai Battle Royale (2000) wannabe, as kita dibeberkan fakta bahwa there is no black-and-white melalui apa yang dialami oleh Katniss Everdeen. Ini bukan lagi sekadar cerita bertahan hidup. The odds will never be in favor. Moral semakin dipertanyakan. Sebagai orang yg ditunjuk mengibar panji peperangan, di dalam Mockingjay – Part 2, Katniss benar-benar ngerasain beban dilema moral tersebut. Langsung menyambung adegan terakhir Part 1, film ini adalah puncak dari segalanya. Para distrik di Panem akhirnya bersatu di bawah kharisma Katniss. Film ini dibuat dengan Katniss di tengah-tengahnya. Mereka semua bersiap untuk memulai open-war dengan Capitol, for oppressing yang sudah dilakukan nyaris satu abad.

JENNIFER LAWRENCE, WHICH IS ONE OF THE BEST ASPECT dari The Hunger Games, nyuguhin permainan peran yang amat believeable. Kita terbawa galau. Kita ikut merasa risau. Kita turut jolt along ngeliat dia menerima segala konsekuensi tindakannya. JenLaw mainnya konsisten banget loh. Dia stay true kepada image Katniss yang calm dan kadang terkunci rapat. Katniss enggak serta merta meledak-ledak dibawakan oleh aktris yang kalo diliat-liat mirip BCL ini. Jennifer Lawrence sukses meranin cewek muda (diceritanya Katniss 17 tahunan, bayangkan remaja mikul beban segede gaban) yang memberontak dari penguasa yang tiran, sementara dirinya sendiri tidak yakin dengan kebenaran putusan — secara kemanusiaan —  pihak yang dia bela.

Aku juga suka dengan Presiden Snow yang dimainkan Donald Sutherland. Kakek ini jahat, memang, tapi dia fair. Atau at least sepertinya terlihat begitu menurutku. Snow, in a way, mirip Visser One, antagonis utama di Animorphs, buku favoritku sedari kecil, yang juga tentang perang. Kejam, selfish bagi dirinya sendiri dan golongan, but somewhat masih ada sisi manusiawi. Tatapannya kepada Katniss di adegan eksekusi adalah momen favoritku di film ini. Karakter Sutherland ini harus menemui akhir di tangan ‘orang kecil’, yang membuatku teringat sama ending film horornya waktu dia masih muda, Don’t Look Now (1973).

Everything happening on that iconic scene was amazing!

Everything happening on that iconic scene was amazing!

 

RELEVANSI THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY – PART 2 TERHADAP KEADAAN DUNIA SEKARANG; itu yg paling mencengangkan. Selama nonton film ini aku terngiang-ngiang lirik lagu Where’s the Love nya Black Eyed Peas sambil terus terbayang berita tentang Syria, Paris, dan bahkan di Indonesia.

Are we at war?
Cara kerja mengerikan dari sebuah propaganda. Media yang dijadikan alat untuk membuat pihak lain terlihat buruk. A war is going on, but the reason’s undercover. The truth is kept secret, it’s swept under the rug. Nah kan, aku jadi keterusan nyanyi. Tapi beneran, hal-hal mengerikan tersebut, they are happening right now. Dan film Mockingjay – Part 2 did excellent job at telling that. Sampai ke titik kita menjadi seperti Peeta yang enggak tau lagi mana yang nyata, mana yang enggak. Namun seolah menyadarkan kita, Katniss berdiri tegak menantang semua keraguan tersebut. Dia sudah memastikan siapa musuhnya. Katniss tidak lagi mau hanya berdiam, menjadi alat promosi untuk kepentingan satu pihak semata. Dia tidak mau lagi ada korban berjatuhan sementara dirinya dilindungi sebagai poster-girl perang itu sendiri. Dia tidak bisa lagi berpaling, taking back seat dari apa yang sudah disulutnya. Tak bisa hanya melihat dan menunggu pemimpin bobrok berikutnya bangkit menggantikan. Perangnya adalah personal. Dan cewek ini mengerti, bahwa dalam peperangan, hal terpenting yang harus selalu diingat adalah kita mengalahkan musuh tanpa turut menjadi seperti mereka. Tapi mungkin memang ‘percikan api’ seperti Katniss ini yang dunia butuhkan. Simbol Katniss adalah burung Mockingjay, tapi Katniss sendiri bisa jadi adalah simbol dari struggle seluruh umat. Manusia adalah makhluk yang serba kontradiktif.
Impulsif tapi penuh perhitungan.
Dermawan tapi egois.
Kita cinta damai tapi tak ragu untuk berbuat kekerasan yang diperlukan untuk mendapatkan perdamaian tersebut. Mockingjay Part 2 is build around that idea, KEMANUSIAAN ADALAH HATI CERITA INI.

We are at war. Real or not real?

We are at war. Real or not real?

 

The main problem adalah film ini memang TERASA AMAT LAMBAN. Aku masih kurang setuju ama keputusan mereka membagi buku terakhir menjadi dua. Kita udah saksikan betapa killing me slowly nya yang part pertama, tanpa ada klimaks. Part 2 ini untungnya ada aksi-aksi yang worth the wait di ujung adegan-adegan perenungan dan rekonsiliasian tersebut. The good thing is eksekusinya jadi terlihat lebih ‘serius’, gak asal dar-der-dor melulu ala hollywood biasa. Namun masih terasa terlalu jarang untuk bisa ninggalin jejak yang maksimal. Dan lagi adegan mutt di gorong-gorong, meski I admit adrenalin rush banget, agak out of place. Membuat overall pace nya kerasa uneven. Seperti adegan tersebut mencuri spotlight dari ancaman yang sebenarnya. Kita jadi tidak melihat mereka sesuai dengan apa yang diniatkan cerita aslinya. Kita jadi gak merasa takut-takut amat kepada Empire dan pasukan Peace-keepernya. Dan mereka memang enggak diset sekejam film-film sebelumnya. Stake yang dihadapi Katniss jadi kurang tinggi. Jadi, walaupun nanti jadinya panjang, aku masih merasa lebih baik mereka tidak membuat film ini jadi dua bagian in the first place.

Film ini lebih seperti thriller; gelap, suram, mencekam, dan sedih. Ya, Mocking Jay – Part 2 adalah saat di mana semua kejadian di film lagi sedih-sedihnya. Tapi sekali lagi, pembagian jadi dua film ini membuat build-up yang lambat itu jadi bikin kita agak terlepas dari karakter-karakter pendukung. TIDAK ADA KEMATIAN MEREKA YANG BENAR-BENAR MENOHOK. Padahal salah satu dari korban adalah orang yang begitu penting bagi Katniss. Kematian yang memuaskan sih ada, di endingnya hahaha. Ngomong-ngomong ending, film ini ngasih fans-service yang seingatku dihadirkan sebagai epilog di akhir buku.

 

Well, begitulah akhir petualangan The Girl on Fire. Part 2 dan Part 1 suffers karena dipisahkan, kayak Katniss dan Peeta. Kedua film tersebut kehilangan banyak momentum kritikal. It would work more effectively with the Part 1 combined. On a lighter note, Katniss dan Peeta di film ini kayak kata-kata nenek ku “nyo bacakak tarui tapi nak dakek2 juo” hahahaha. Para penggemar novelnya mungkin akan sangat terpuaskan, film ini lived it up to the expectation, if not more. Tapi waaaaa, kisah ini sudah kelaaar. Real or not real? The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars, real gold stars, out of 10 for The Hunger Games: Mockingjay – Part 2.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We be the judge.

 

Advertisements