Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Presents are made for the pleasure of who gives them, not the merits of who receives them.”

 

the-gift-movie-poster-1

 

Pernah ngasih kado? Atau hobi dikasih kado?

The Gift adalah kisah tentang pasangan suami istri Simon Callen dan Robyn Callen yang hidup mereka lagi sukses-suksesnya. Mereka menempati rumah yang keren dan tidak berapa lama lagi sebelum Simon (Jason Bateman gives his best performance) mendapat promosi – naik pangkat. Pindah ke dekat kampung halaman, mereka accidentaly bertemu dengan teman SMA Simon yang tidak pernah dilihatnya setelah sekian lama, sejak kelulusan malah. Gordon (Joel Edgerton sekaligus produser, menulis, dan menyutradai film ini) nama pria yang sangat simpatik itu. Dia baik banget. Suka berkunjung, suka ngirimin surat, suka ngirimin kado macem-macem, pokoknya peduli sekalilah orangnya. Dari yang awalnya welcome, lama-lama toh Simon merasa risih juga. Apalagi kejadian-kejadian aneh-menjurus-ke-seram mulai terjadi di rumah yang baru mereka tempati tersebut. Membuat Robyn merasa takut (bagai pelanduk, karakter Rebecca Hall ‘kejepit’ di tengah.. still I found her rather annoying tho). Dia merasa enggak nyaman, enggak aman. Terlebih jika sedang sendirian.

Enggak aneh memang, kalo orang-orang bisa berpikiran seperti apa yang dipikirkan oleh Simon. Kita hidup di jaman pencitraan. Di mana sudah lumrah meng-sugarcoat apapun demi kepentingan pribadi… See, that’s the paranoid-me talking!
Film ini justru mengajak kita untuk menyingkirkan prasangka. Untuk tidak hanya melihat dari satu sisi. Apakah sudah tidak mungkin lagi untuk seseorang memberi dengan tanpa embel-embel di belakangnya? Somewhat people ngarepin ada sebuah bom yang siap meledak di balik setiap niat baik yang dibungkus rapi. Atau apakah harga diri kita terlalu tinggi sehingga kita otomatis menolak hanya karena enggak mau dianggap ‘berhutang’?

To be frank, my first actual reaction saat nonton The Gift sebenarnya adalah “oh my god, apa aku si Weirdo Gordo?” Aku suka ngasih-ngasih kejutan kecil buat orang-orang. Karena waktu kecil aku suka nodong minta kado. Lucunya, baru dari view point film ini aku bisa melihat hal yang juga dilakukan oleh Gordo itu comes out as creepy. Namun aku sendiri masih bingung kenapa berpikir seperti Simon dianggap lebih baik daripada berpikir seperti Robyn. Mungkin hanya kelihatannya saja, tapinya lagi semakin menjelang akhir, film ini membuatku questioning myself evenmore, “apa iya niatku begitu?” Aaah ribet!

“It’s not you, really. You’re a nice person. It’s me.”

“It’s not you, really. You’re a nice person. It’s me.”

 

Kutekankan, film The Gift bukanlah horor bunuh-bunuhan. Bukan pula cerita home invasion gagal kayak Knock Knock (2015) nya Keanu Reeves. The Gift, in the essence, jauh lebih menakutkan. Kalo gak percaya, tanya aja Robyn. Suruh dia pilih bahayaan mana stranger-danger atau orang terdekat kita. Jawabannya; BOTH!
Karena ini adalah psikologikal thriller. Drama yang sangat bagus, kalo boleh kutambahkan. Suspense nya terbangun mantap. Karakter-karakternya kompleks.
Ini juga bukan cerita biasa tentang o-ternyata-dia-baik-yang-jahat-rupanya-si-anu. Film ini benar-benar MENGABURKAN GARIS ANTARA YANG BAIK DENGAN YANG JAHAT. Kita dibikin terpaku gigit jari, engga tahu pasti harus bersimpati kepada yang mana. Seorang selfish yang selalu bullied his way up atau seorang psycho with no sense of boundary. Sama-sama manipulatif dan berbahaya. Simon sendiri bilang kepada istrinya, “The ends justify the means.” Pembelaan yang bikin kita angkat alis mengingat kalimat tersebut sudah dikenal luas sebagai slogan para komunis. Lakukan apa yang harus dilakukan, yang penting adalah tujuannya.

Benarkah itu yang terbaik?

Nyatanya, Simon ataupun Gordo, mereka semua adalah wounded person. Dengan Robyn sebagai collateral damage. You think you know them, kita pikir kita tahu ini tentang apa, tapi percayalah, kita sama sekali have no idea. Film ini akan membuat kita tetap tertarik sambil membuka pelan-pelan ‘rahasia’ para tokohnya.

Surat dari Hogswart, Simon?

Surat dari Hogswart, Simon?

 

Mengerikan memang, bagaimana sebuah ide, terutama gagasan yang buruk- bisa berpengaruh besar dan luas bagai api yang membakar hutan belantara di Sumatera dan Kalimantan beberapa waktu yang lalu. Pesan The Gift lebih dari sekedar mulutmu harimaumu. Liat aja saat tetangga Robyn ngasih komentar-sambil-lalu tentang Gordon; gimana coba efek omongan tersebut ke semua orang yang ada di sana?
FILM INI NUNJUKIN SUGGESTION, SEKECIL APAPUN ITU, BETUL-BETUL BISA MENIMBULKAN KERAGUAN. Bukankah kita sering lihat contohnya dalam kehidupan sehari-hari; seorang istri yang minta rumahnya digedein hanya karena teman arisannya pointed out dengan heran, hebat anak-anaknya bisa betah di dalam rumah. Buruh yang demo naik gaji karena ada yang ’iseng’ nanyain kok bisa hidup dengan upah hanya segitu. Dalam film ini kita saksikan sendiri bagaimana sedikit saran bisa membuat keutuhan satu keluarga terancam. Sementara di real life tadi; Si buruh akhirnya dipecat, kehilangan penghasilan yang selama ini sesungguhnya tidak bikin dia susah; Si istri tidak lagi hidup tenang, terbelit hutang dalam usahanya memperbesar rumah yang sejatinya cukup untuk tempat tinggal seluruh keluarga. Sekilas seperti celetukan namun an idea, sebuah sugesti, terbukti bisa memutar balikkan hidup seseorang.

Film ini punya satu pesan lagi, yang senada dengan pesan dokumenter The Look of Silence (Senyap) tentang keluarga korban yang mewawancarai para pelaku pembantaian zaman PKI di Medan yang dibuat oleh Joshua Oppenheimer tahun 2014 lalu. Pesan bahwa BYGONES TIDAK AKAN PERNAH JADI BYGONES. The past tidak akan betah tetap di masa lalu, sori Queen Elsa, but we really can’t just let it go. Kata tag line filmnya, “The sins of the past will become our present.” Kita tidak bisa menolak ‘hadiah’ yang satu itu. Masa lalu akan selalu membebani kita. Namun sebenarnya yang kita inginkan – yang sangat dibutuhkan oleh manusia – adalah sebuah closure, penutupan. Itulah alasan kenapa kita senang memberi. Ya, kita ingin mendapat balasan, tapi berupa kebahagian dan kedamaian. Pleasure yang demikian hanya bisa didapatkan dari memberi. Yang diinginkan oleh Gordo-Gordo di seluruh dunia hanyalah sebuah closure.
Dan mungkin sepatah kata maaf.

 

Kuharap aku tidak bicara terlalu banyak karena film ini akan lebih baik jika disaksikan langsung. Dengan kita enggak tahu apa-apa tentangnya. Penulisannya yang pintar, juga penampilan para bintangnya yang nyaris tanpa cela, membuat menonton film ini terasa seperti membuka kado dengan banyak lapisan bungkus. Penasaran, sekaligus agak ngeri ngeliat isinya. Kita tidak mau terburu-buru, kita ingin menikmati setiap lapisan terbuka. The Palace of Wisdom wraps 8.5 out of 10 gold stars for The Gift.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there winners
and there are losers.

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements