Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“Brave isn’t about not being afraid. It’s about being scared to death and still not giving in.”

 

The_Good_Dinosaur_Official_International_Poster_b_JPosters

 

Reptil-reptil raksasa masih akan terus mendominasi planet Bumi. Peradaban dan teknologi tidak akan pernah ada. Manusia didorong ke belakang menjauh dari status sebagai spesies nomor satu. Pixar bersama Disney berhasil menceritakan angan-angan – yang cukup mengerikan – tersebut dengan sangat bersahabat. Lucu, malah.

Ratusan juta tahun setelah meteor besar terbang melewati planet ini, alih-alih menabrak, satu keluarga Apatosaurus petani dikaruniai tiga ekor anak. Buck yang kuat, Libby yang cerdas, dan Arlo yang paling kecil. Dan memang, tidak seperti saudara-saudaranya, Arlo lacks of everything. Dilahirkan dengan kaki-kaki yang lemah, untuk berjalan aja dia susah. Suatu kejadian kemudian menyebabkan Arlo terpisah dari keluarga dan rumahnya di kaki gunung berpuncak tiga. Bersama bocah manusia yang dia beri nama Spot, dinosaurus leher panjang ini mendapat banyak pelajaran hidup dalam perjalanan pulang yang penuh petualangan. Raymond Ochoa dan Jack Bright berhasil menghidupkan tegarnya Arlo dan geraman-lolongan Spot to the point relationship kedua karakter ini dengan gampang relatable buat semua orang.

The Good Dinosaur mecahin dua ‘rekor’.
Pertama, film ini adalah kali pertama Pixar ngeluarin dua film dalam kurun waktu setahun. Dan ‘prestasi’ uniknya yang kedua adalah pihak Disney actually ngeluarin versi bahasa Indonesia dari film ini, diberi judul DINO YANG BAIK. Aku sempet bingung juga mau nonton yang mana, akhirnya milih yang bahasa original sih, tapi aku masih penasaran pengen liat yang udah disulih suara. Aktor cilik Indonesia, Adam Farrel, adalah yang terpilih untuk menyuarakan Arlo dalam versi dubbing. Rasa-rasanya kita baru denger yah ada film luar yang merhatiin pasar dalam negeri seperti ini. Menurutku ini pertanda bagus, semoga nantinya mereka juga lanjut merhatiin usaha beberapa film produksi dalam negeri yang tried their best to get noticed dengan masukin subtitle inggris dalam karya mereka.

best for bussiness

best for bussiness

 

Suguhan visual yang indahnya sama besar dengan the heart of it’s story adalah keunggulan film-film keluaran Pixar. Mereka sangat terarah dalam nentuin target pasar, they really know what they’re doing. Ada film ringan yang cocok buat anak-anak seperti Cars, Monsters Unversity. Enggak sedikit juga film yang sampai ke tingkatan dapat dinikmati oleh orang dewasa, seperti Toy’s Story dan Inside Out, yang akan berikan pengalaman menonton berbeda seiring bertambahnya usia yang nonton.

Jadi termasuk golongan film Pixar yang manakah The Good Dinosaur?

Lelucon-leluconnya passable lah buat selera adek-adek kita; tingkah Spot yang liar namun gemesin, pembawaan Arlo yang mirip Nobita di kartun Doraemon, easy dan kocak. Enggak sampai di situ, film ini juga penuh oleh emosi. Kaya dengan momen-momen intense yang benar-benar ngena di balik keindahan gambarnya. Aku sendiri terhenyak pas adegan Arlo dan Spot ‘ngobrol’ di tepi sungai, mereka kind of nyeritain apa yang terjadi pada keluarga mereka masing-masing. Scene yang powerful, yang mungkin anak-anak tidak bisa langsung mengerti begitu saja. The Good Dinosaur DIMAKSUDKAN SEBAGAI FILM KELUARGA, AS IN PARA ORANGTUA HARUS IKUTAN DUDUK MANIS DI SEBELAH ANAK MEREKA. Menjelaskan apa yang terjadi pada Arlo. Seperti ibu yang duduk di sebelah ku pas di bioskop, beliau nonton bersama dua orang anaknya. Ibu tersebut dengan sabar menceritakan si Arlo lagi ngapain, relationship nya dengan Spot yang lebih primitif (gak bisa ngomong and such), memperkenalkan dinosaurus lain – yang lucunya ditulis berlawanan dari pakem bintang film Jurassic Park, membacakan ulang dialog yang tidak dimengerti, menghibur anaknya yang sedih saat Arlo harus kehilangan seorang yang dicintai. Memberi pelajaran tentang persahabatan yang menjadi dasar evolusi karakter Arlo. Aku bisa mendengar anak ibu itu bertanya, “Mami, kok mereka temenan, kan tadi dikejar-kejar?” yang jawabannya langsung dituturkan oleh sang ibu. Anak-anak juga akan belajar tentang keberanian sepanjang film berlangsung. Berani bukan berarti sama sekali tidak takut. Semua orang pasti merasa takut. Berani adalah kita ketakutan setengah mati namun kita tetap tidak menyerah.

Ya, film ini menuntut keaktifan orangtua. Menurutku cukup lucu film ini memancing interaksi di mana anak-anak yang nonton menjadi seperti Spot; mereka berani mempertanyakan, dan orangtuanya jadi kayak Arlo; yang takut-takut ngejelasin tema yang merenyuh hati. Jadi semacam tantangan juga buat parents karena The Good Dinosaur enggak nahan-nahan, film ini DENGAN GAMBLANG MEMPERLIHATKAN KERASNYA DUNIA BINATANG, ngeliatin hukum makan-memakan alam liar. There are some pretty (but) gross scenes. Aku aja sampai terkikik geli they really did that, sementara si ibu di sebelah sibuk nenangin anak-anaknya hihi. Kalau kalian bawa adek yang masih kecil nonton ini, you might need to prepared them saat adegan yang ada serangga gede atau ada kawanan Pterodactyl. Beberapa anak ada yang terlalu sensitif terutama kalo liat makhluk imut terluka apalagi sampai menemui ajal.

'sokay, it is just a circle of life, after all!

‘sokay, it is just a circle of life, after all!

 

Technically speaking, The Good Dinosaur memang mampu bikin yang nonton takjub. Mata kita dijamin berbinar-binar memandang LATAR BELAKANG DUNIA YANG JERNIH DAN TERLIHAT NYATA BAGAIKAN SEBUAH FOTO PEMANDANGAN. Semua itu terlihat KONTRAS DENGAN MODEL TOKOH-TOKOHNYA yang digambarkan sangat cartoon-ish. Pernah nonton film kartun The Land Before Time (1988) yang tokohnya juga anak-anak dinosaurus? Masih ingat sama film animasi Dinosaur yang dikeluarin Disney tahun 2000? Nah, Arlo dan semua dino dalam The Good Dinosaur tidak tampil se’nyata’ itu. Malah mereka cenderung terlihat enggak blend dengan gambar latar tersebut. Tapi sepertinya benturan animasi tersebut disengaja untuk nunjukin kesan begitulah anak-anak memandang dunia. Dan aku yakin sekali, saat menonton film ini, enggak ada satupun anak kecil yang protes kenapa bentuk dinosaurusnya kayak permen gummy bear. Aku pribadi cukup heboh sendiri lantaran film ini berani memunculkan Velociraptor yang berbeda dengan film lain; di sini Raptornya berbulu, seperti yang ditulis dalam buku-buku IPA di sekolah.

Proses produksi film ini sebenarnya jauh lebih ‘berliku’ daripada perjalanan si Arlo. Jadwal tayangnya sudah mundur jauuuuhhhh dari jadwal tayang sebelumnya, which was before Frozen (2013). Film ini juga sudah mengalami pergantian produser dan sutradara. Karakternya dirombak. Serta merta plotnya pun dikabarkan mengalami banyak penulisan ulang.
Mungkin itu sebabnya The Good Dinosaur terasa lemah sekali dari segi cerita. Di bawah standar Pixar yang biasa. Apalagi film ini keluar tidak sampai setahun dari Inside Out yang luar biasa itu, jadi penurunannya kerasa banget. The Good Dinosaur penuh dengan TAMBALAN CERITA-CERITA LAMA. Struktur cerita utamanya kerasa paling mirip dengan The Lion King (1994); hubungan dan circumstances antara Alro dengan ayahnya bikin kita sontak teringat kepada Simba dan Mufasa. Para Raptor are practically the hyenas. Terus, trio T-Rex redneck nya seperti karbon kopi dari predator dalam Finding Nemo (2003). Bukan cuma itu, premis hewan purba berkelana dengan bocah manusia sudah pernah kita saksikan lewat Ice Age (2002). Yang pergi nonton ini dengan ekspektasi tinggi tak ayal akan merasa kecewa terhadap hal tersebut.

 

Dinosaurus yang baik. Alam yang juga baik walaupun ganas (“The storm provides!” lol I like that preach). Yang bad mungkin adalah kita yang tidak bisa lagi menilai sesuatu dari mata anak kecil. Tidak adil rasanya bilang ini adalah film yang jelek. Graphic nya outstanding. Film ini masih punya hati dan clearly sangat appealing bagi anak-anak. Namun juga tidak bisa dibilang terlalu jinak; beberapa adegan might be too violent for kids. Tapi toh tidak bisa dipungkiri, selain ‘keberaniannya’, tidak ada impact signifikan yang dihasilkan oleh animasi yang satu ini. Perjalanannya terlalu ‘diatur’ ditambah adegan-adegan yang constantly reminds us of another successful movies. Meski berakhir bahagia, the story terasa never really hits ‘home’.
Mungkin memang sebaiknya meteor itu menghantam saja.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for The Good Dinosaur.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements