Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“You can hope for a miracle in your life, or you can realize that your life is the miracle.”

 

CVL4MppUsAEwKU6.jpg large

 

Di tengah maraknya film Indonesia yang mengusung genre religi, Miracle: Jatuh Dari Surga berani tampil dengan kata Surga pada judul sembari tetap mempertahankan ‘iman’nya sebagai drama keluarga. Meski memang berlatar sebuah keluarga dengan agama dan perayaan tertentu, bukan berarti film ini bukan untuk semua orang. Sebenarnya kalo dipikir-pikir, religi dalam film Indonesia itu batasannya apa sih, apakah memang sebuah genre sendiri atau gimmick belaka?
Namun itu lain soal, sebab judul film ini malahan lebih nyeleneh daripada itu. As tanda titik dua suggests us, bagaimana mungkin jatuh dari Surga dianggap sebagai suatu miracle – sebagai suatu keajaiban?

 

Bagaimana bisa Krista menganggap punya adek baru adalah mukjizat karena menjelang kehadiran bayi tersebut aja rasa cinta dan perhatian ayah dan ibu kepadanya semakin berkurang, menjadikan keluarga kecil mereka semakin tidak harmonis?

Menonton Miracle: Jatuh Dari Surga, kita diajak untuk MENGUPAS TENTANG PENGERTIAN DARI KEAJAIBAN. Kita akan belajar bahwa KEAJAIBAN ADALAH SEBUAH KEKUATAN saat kita menyaksikan Krista yang memiliki kemampuan penyembuh. Dia bisa menyembuhkan orang yang sakit dengan sentuhan, membuat sehat orang cacat, bahkan menghidupkan merpati yang telah mati. Ini adalah salah satu poin penting cerita, yang memberikan layer terhadap karakter-karakter yang ada, terutama tentu saja kepada si Krista sendiri.

Sesungguhnya kekuatan tersebut pasti ada draw back. Selalu ada efek samping. KEAJAIBAN ADALAH PENGORBANAN. Kemampuan khusus Krista berdampak negatif buat tubuh anak ini. Kinda like Timothy di film The Odd Life of Timothy Green (2012) yang sehelai daun pada kakinya gugur begitu dia mewujudkan harapan kedua orangtuanya, kesehatan Krista menurun setiap kali dia selesai mengobati orang-orang.

"maksudnya reverse psychology ya, pa?" / "....."

“maksudnya reverse psychology ya, pa?” / “…”

 

Kalo KEAJAIBAN ITU ADALAH PERCAYA, maka keputusan Andalan Sinema untuk mempercayakan lead role kepada Naomi Ivo adalah keajaiban besar buat film ini. Aktris cilik ini bermain natural mengimbangi aktor kawakan semacam Darius Sinathrya yang jadi Andri, ayahnya. Ataupun Ivo tidak terbata saat bertukar kata-kata dengan Indra Birowo – yang jadi teman sang ayah, Ramadhanwith whom she interacted the most here. While Andri punya character arc yang paling kompleks , Naomi dengan Krista nya carried sebagian besar durasi film. Membuat kita sejenak menerawang kembali ke masa-masa saat orangtua sibuk mengurusi kelahiran adik kita. Kita juga ngambekan, suka nyari-nyari perhatian, in one way karakter Krista mudah untuk kita relasikan kepada diri sendiri.

Ada satu karakter lagi yang menarik perhatian dalam Miracle: Jatuh Dari Surga. Bukaan, bukan Ramadhan, meski memang karakter Indra Birowo ini bakal ngajarin kita banyak hal tentang betapa AJAIBNYA KEIKHLASAN. Bukan juga tokoh sang ibu, Eli yang diperankan Anneke Jodi (aku seriously lega film ini menjawab kenapa tidak ada chemistry antara Eli dan Andri) Satu karakter yang berhasil di-build up dengan baik tersebut adalah kota Solo. Tidak hanya berhasil menangkap panorama seluk beluk Solo dan adat-adatnya, dari kincir yang awalnya berputar kencang menjadi sama sekali berhenti, Miracle: Jatuh Dari Surga juga memberikan jiwa kepada latar tempat ini sehingga seolah jadi suatu sosok tersendiri.

 

Sejurus dengannya, hal tersebut berbalik menjadi semacam bumerang saat film ini terasa begitu artifisial. Tidak lagi natural, setiap hal berkesan terlalu diatur. Seolah ada template pada script, kayak Ramadhan yang jadi hampir selalu tampil bersama dengan kehadiran makanan atau minuman; lagi makan siang, lagi ngopi.. Tanggal ke rumah sakit yang selalu bentrok dengan jalan-jalan and ultimately dengan birthday, mestinya bisa di’mainin’ sedikit sehingga gak langsung resorted ke “aahh, hari ini gak bisaa”. Kita butuh lebih banyak interaksi ‘dicuekin’ antara Krista dengan orangtuanya.

Film ini menyuguhkan penampilan cameo dari grup musik remaja, The Overtunes. Permainan musik yang hanya beberapa menit tersebut menurutku out of nowhere. Bukan masalah sih kalo bagian dari cerita seperti adegan Krista, Ramadhan, dan Annisa nyanyi Bintang Kecil bersama. Tapi adegan nyanyi lagu soundtrack ini seolah disisipin begitu saja kayak iklan. No importance dari adegan tersebut. Filler yang kalo kelewat pun enggak apa-apa. Waktu yang tepat buat yang lagi kebelet atau mau nambah popcorn untuk meninggalkan kursi mereka!

Naskah yang kurang fleksibel juga membuat si gadis cilik, Krista, terlihat annoying; dia yang angkat setiap telepon, dia yang rekam-rekam, segala pengen dia yang urusin. Anak yang baik, tapi gedenya pasti anak ini control freak haha. Kita enggak pernah liat continuity efek samping dari ability Krista mempengaruhi sehari-harinya, physically. Dia cumak terlihat sakit kalo naskah butuh dia untuk sakit. We rarely see Krista confronts konflik batinnya. Saat dia beneran stand up to her parents, dia malah terlihat lebih seperti anak manja ketimbang anak yang dewasa. Krista was just there when the script wants her. Setiap ganti adegan, karakter Krista bagai ter-reset ke posisi awal. Penulisannya tidak mencapai klimaks. Film ini melewatkan banyak kesempatan menambah kedalaman seorang anak bernama Krista. Adegan abis pergi sendirian, misalnya. Setelah ditemukan, Krista kayak melupakan alasan dia pergi. Padahal itu seharusnya adalah momen penyadaran buat Krista. Bayangkan jika Krista dibuat ‘ngegas’, dan disambung dengan scene terbaik di film ini – saat dia minta pulang, it would made much powerful sense.

Standar pemeran anak-anak terbaik tahun ini sudah diset terlalu tinggi oleh Oona Laurence lewat penampilannya yang jadi anak keluarga petinju bermasalah di film Southpaw (2015), jadi ya aku harap Naomi Ivo bukanlah sebuah keajaiban. Sebab KEAJAIBAN HANYA TERJADI SATU KALI. Sedangkan kita semua harap gadis cilik ini punya banyak kesempatan ke depannya untuk membuktikan diri memang bukan one-hit-wonder.

scene “aku mau pulang” ini really hits the home!

scene “aku mau pulang” ini really hits the home!

 

Punya dua cerita utama yang saling bersilangan dengan padu. Namun demikian, akhir dari film sudah bisa kita lihat dari jauh. Sejak mereka mengetahui kekuatan spesial Krista tidak datang dengan cuma-cuma, arah cerita menjadi jelas. Sekali lagi, seperti sudah ada template; ‘Drama keluarga yang memancing air mata harus berakhir dengan kematian.’ Jalan aman? Ya enggak masalah sih, soalnya memang terbukti efektif. But I think it would be better kalo di akhir itu Krista menawarkan diri langsung kepada ayahnya, sebagai jawaban atas ketakutan Andri untuk sekali lagi melakukan kesalahan yang sama. Terus Andri melarang Krista, despite the fact dirinya lah yang bilang kalo menggunakan kekuatan adalah pilihan Krista sendiri. Then they would go on talking about that in some kind of intense dialogue. Krista butuh momen kuat untuk menjelaskan sendiri bahwa “harus percaya terhadap keajaiban” kepada ayahnya. Only with that way Krista bisa mendapat closure terhadap arc karakternya.
Sementara dari sisi Andri, bukankah dia butuh sesuatu yang bisa membuatnya percaya kepada ‘keajaiban’, membuatnya menyadari apa yang dia punya? Kehilangan mungkin membuatnya sadar, tapi ‘keajaiban’ still not working in his favor. Sekali lagi (okay, I said that a lot), bagaimana bisa keluar dari ‘Surga’ – keluar dari ‘tempat nyaman’ nya – membuat Andri merasa disentuh oleh keajaiban? Tanpa kematian, menurutku tema pengorbanan masih bisa tersampaikan dengan plot para tokoh juga bisa tertutup dengan full-circle. But then again, as I wrote this, I realized – seperti halnya Andri sadar – keajaiban tidak ada hubungannya dengan semua itu. Mau kekurangan kek, mau kelebihan kek. Keajaiban itu bukan dicari-cari. Keajaiban hanya perlu disadari. Dan jika hanya death yang bisa membuka mata seseorang untuk itu, then so be it. Film ini dengan sukses made me contradicted myself. Ajaib!

Bukan hanya membuka mata kita, Miracle: Jatuh Dari Surga membuat setiap keluarga menyadari apa itu keajaiban dalam kehidupan yang sesungguhnya.

 

Sajian yang berharga untuk disaksikan bersama keluarga. Pace yang steady, tidak ada bad humor, gambar yang apik, film ini bersahabat dan punya banyak isi. Mengajarkan kita untuk percaya dan selalu ikhlas mensyukuri apa yang kita punya. The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars to Miracle: Jatuh Dari Surga.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements