Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The sea does not reward those who are too anxious, too greedy, or too impatient.”

 

in_the_heart_of_the_sea_ver2

 

Manusia penuh dengan rasa penasaran. Kebutuhan untuk memuaskan dahaga ingin-tahu adalah salah satu insting dasar bertahan hidup spesies kita. Dan sejak dahulu kala, lautan sudah jadi tempat paling misterius di dunia. Orang-orang ingin menjelajahnya. Geregetan untuk mengetahui apa yang berada di seberang dunia mereka. Bernafsu untuk menyelami rahasia apa yang berada di bawah sana. Banyak legenda tentang laut dapat kita temukan pada literatur-literatur kuno. Membahas mulai dari makhluk mengerikan sampai lokasi harta karun tersembunyi. Apalagi sejak mengetahui Bumi ini bundar, orang tidak lagi takut jatuh ke tepi dunia jika hilir mudik terlalu jauh. Bangsa Eropa mulai ngehits dengan pelayaran yang mereka lalukan. Ada Columbus yang (katanya) nemuin benua Amerika. Ada Vasco Da Gama yang meet-and-greet sama penduduk India. Ada Afonso de Albuquerque yang mendarat di kepulauan nusantara, yang sendirinya adalah bangsa maritim.
Hingga sekarang pun, orang gemar melaut.
Mencari makan atau untuk sekadar rekreasi. Sebagai sarana pemuas kebutuhan, kodrat laut tidak pernah berubah.

 

Tokoh dalam film In the Heart of the Sea punya misi sendiri melintasi lautan lepas. Bersetting di Nantucket, Amerika sebelum 1850an, kru kapal Essex di bawah pimpinan kapten George Pollard (interesting karakter dimainkan oleh Benjamin Walker) bermaksud melepas jangkar ke tengah samudra demi berburu paus untuk diambil lemaknya yang digunakan sebagai sumber penerangan di kota. Konflik film ini bukan hanya antara paus dan manusia as salah satu kru, Owen Chase (salut buat dedikasi Chris Hemsworth) yang lebih berkompeten sebagai kapten, harus puas mengalah sebagai kelasi kelas satu. Awak-awak yang lain bukannya tidak menyadari ‘perang dingin’ yang terjadi antara Pollard dan Chase. Seluruh cerita mengenai apa yang terjadi dalam ekspedisi kapal Essex tersebut diceritakan, dengan sedikit enggan, oleh Thomas Nickerson yang ikut berlayar sebagai anak buah (Tom Holland, si soon-to-be Spidey ini meranin versi remaja Thomas). Kenapa enggan? Karena apa yang telah dilaluinya sungguh meninggalkan malu dan trauma yang mendalam. Namun novelis kepada siapa dia bercerita sudah berjanji untuk enggak nge-judge, Herman Melville (yup, Ben Winshaw meranin yang ngarang Moby Dick, we’ll get to the connection later!) bahkan ngejamin tidak akan memasukkan ‘abomination’ tersebut ke dalam cerita fiksi yang akan dia tulis.

"nenek moyangku orang pelauuuttt~~"

“nenek moyangku orang pelauuuttt~~”

 

TRANSFORMASI YANG DILAKUKAN CHRIS HEMSWORTH buat perannya dalam film ini worth untuk mendapat anggukan. Memang kita sudah sering mendengar para aktor atau aktris yang rela ‘menyumbangkan’ berat badan mereka agar tampil sesuai tuntutan peran. Turun berat badan paling ekstrem yang bisa kita ingat adalah Christian Bale yang turun 63 pon di film The Machinist (2004), sebuah pyshological thriller tentang seorang penderita insomnia. Dalam In the Heart of the Sea yang dengan seksama MENGGAMBARKAN  KENGERIAN DARI ALAM, KHUSUSNYA LAUTAN, tokoh yang diperankan Chris Hemsworth diceritakan stranded di laut selama tiga bulanan. No food, no waterwell, no water yang bisa diminum – Owen Chase jelas jadi kurus. It was no computer effect. Dalam film ini kita bisa lihat tampang Chris yang jauh dari wujud Thor. Diet ketat, seperti Bale yang hanya makan apel dan sekaleng tuna sehari, Chris juga hanya dibolehin ngonsumsi 500 kalori per harinya. Dan bukan hanya Chris, seluruh pemain In the Heart of the Sea yang kebagian adegan bengong di laut lepas diwajibkan ikut pola makan begini selama lima minggu. “Biar bisa ngerasain kelelahan dan kelaparan secara nyata, aja.” Gile gak tuh komitmen mereka?

Oke, tadi sudah disebutkan tentang Moby Dick. Novel yang epik. Kebanggaan Amerika banget. Sudah banyak adaptasi filmnya. Membahas sifat serakah manusia dengan aspek kepercayaan di balik cerita berburu paus legendarisnya. Namun film yang sedang kita bahas ini bukanlah tentang Moby Dick. Tidak hanya paus, the entire Essex juga jadi pusat utama. Film ini adalah ADAPTASI DARI NOVEL LAIN, BERDASARKAN KISAH NYATA, YANG DISUSUN OLEH Nathaniel Philbrik. Dalam versi film In the Heart of the Sea, kita akan mengetahui bahwa kisah inilah yang dijadikan inspirasi penulisan kisah Kapten Ahab dan buruannya.

Intensitas film petualangan ini cukup terjaga berkat dual-konfliknya yang mengombang-ambing penonton. Tensi antara Chase dengan Pollard menguar dengan kuat. Kita bisa melihat jealousy campur kekaguman terhadap Chase dari dalam diri Pollard. Aku jadi teringat film Rush (2013) yang juga dibintangi Chris Hemsworth, di mana film itu juga fokus pada persaingan dua karakter utama, James Hunt dan Nikki Lauda. Eh, tunggu Chris meranin… Hunt… Chase… sama-sama kisah nyata…= MINDBLOWN!!

Adegan bersama paus-paus pun sangat bikin kita menggelinjang. Perburuan mereka terlihat jujur dan enggak dilebih-lebihkan. Penampakan paus sperma yang believable dan enggak terasa fake-fake amat. CGI NYA WORKED FOR MOST OF THE PART.  Apalagi saat si gede muncul, wuih majestic!!!! Penggambarannya detil sekali, sampai ke borok-borok yang mengindikasikan makhluk ini sudah berhasil selamat dari sejumlah perburuan.
Para tokoh manusia bermain dengan baik, membangun karakter si paus sehingga kita ikut merasakan gentar betapa kecilnya manusia di hadapan mamalia raksasa tersebut. Aku suka bagaimana para manusia perlahan menyadari bahwa musuh utama mereka bukanlah paus. Baik Chase maupun Pollard, meski dalam rate berbeda, menunjukkan perkembangan menjadi lebih ‘mature’ setelah pertemuan mereka dengan si paus. Mereka awalnya berlayar tidak sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, mereka ingin menaklukan laut. Bagi mereka si biru besar adalah sesuatu yang harus dikalahkan untuk pembuktian diri; Chase menganggap paus adalah musuhnya. Pollard menganggap Chase adalah musuhnya. IT IS A TRIANGLE FEUD. Yang berakhir dengan masing-masing mereka menemukan kemenangan. Namun bukan dengan cara mengalahkan yang lain.

or we could just hit the tongue with our keyblade!

or we could just hit the tongue with our keyblade!

 

Cerita film ini DIHADIRKAN DENGAN GAYA PENUTURAN FLASHBACK. Berselingan dengan Thomas tua menceritakan pengalamannya kepada Melville. Sepertinya langkah yang meta sekali, ya. Sudah banyak film-film yang ada hubungannya dengan laut diceritakan dengan alur bolak-balik begini. Titanic (1997), contohnya. Si Rose yang sudah jadi nenek mendongeng tentang kisah cintanya di kapal yang tenggelam kepada cucu-cucunya. Atau yang paling baru, Life of Pi (2012), yang juga tentang orang yang terdampar di tengah samudera. Big Fish (2003) nya Tim Burton juga pakai gaya cerita begitu, meski bukan tentang laut tapi cerita dan judulnya sedikit menyinggung ikan hehehe.. Apa ini sudah jadi semacam pakem sinema perairan? Ha, sinema perairan, emangnya ada?! Lol. Yang jelas cara seperti itu bukanlah hal yang unik, tidakpula tergolong inovatif lagi.

Fakta tersebut sungguh tidak banyak membantu buat performance In the Heart of the Sea. Film arahan Ron Howard ini jatohnya jadi generic dan tidak benar-benar menyuguhkan hal yang belum-pernah-kita-lihat. Ini bukan kisah paus satu-satunya yang pernah dibuat. Kisah tentang bertahan hidup di tengah laut selalu dilengkapi dengan unsur-unsur semacam trust issue, kanibalisme, badai, yang kesemuanya juga dilakukan oleh In the Heart of the Sea. Film ini jadi kehilangan momentumnya untuk bisa tumbuh menjadi sebesar makhluk yang tokoh-tokoh film ini hadapi. Tidak banyak adegan-tanpa-paus yang nyantol di kepala dan hati kita. Tema tentang keserakahan nya bahkan tidak bisa menyamai kedalaman Moby Dick yang filosofis. Mereka melewatkan kesempatan begitu saja dengan tidak membahas lebih dalam akar obsesi Chase terhadap paus. Ataupun seteru-dalam-keluarga yang juga disinggung pada permukaan saja. Membuat kita susah peduli.

 

Trying too hard buat jadi Oscar contender, film ini malah terasa berlayar ke arah yang berlawanan. Experience nya masih bisa kita nikmati, sih. Porsi aksi-aksi menegangkannya digarap dengan aduhai. Namun posisi film ini akan mudah hilang di tengah gemuruh ombak pada jantung lautan perfilman. The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for In the Heart of the Sea.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements