Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

”Nothing works and nothing sustains except your true self.”

 

Peanuts-movie-poster

 

Dunia anak-anak adalah dunia yang sederhana. Segalanya terlihat menyenangkan. Masa yang innocent dan ceria. Kala di mana masalah-masalah hanya milik orang dewasa, milik dunia mereka yang sama sekali berbeda dengan milik anak-anak yang cerah senantiasa disinari matahari. Begitu juga dunia dalam Peanuts, nama komik strip yang memperkenalkan Charlie Brown dan anjing kesayangannya kepada dunia. It was October 1950, Charlie M. Schulz mulai menggambar kisah sehari-hari kepolosan anak di koran. Aku sendiri dulu suka nonton kartun Peanuts di tv, gak begitu ngefans sih, cuma dulu sering berujung debat dengan teman tentang lucuan mana Snoopy atau Droopy (tokoh kartun lain di Cartoon Network) hahaha.
Ya, dari empat strip komik, sampai ke tv-show tahun 90an, Charlie Brown dan Linus, Lucy, Peppermint Patty, Marcie, Sally, Pig-pen, Schoeder, dan banyak lagi sudah jadi teman main anak-anak dari berbagai generasi. We all love the Peanuts!
Ah, apa jadinya masa kanak-kanak kita tanpa Charlie Brown dan Snoopy?

Dan sekarang, nongol di layar lebar, Charlie Brown (disuarakan dengan well done oleh Noah Schnapp) masih si bocah gundul gundul pacul berwajah bundar yang sial melulu. Dia payah dalam setiap kegiatan yang dia lakukan. Charlie selalu mengacaukan sesuatu di sekitar dirinya. Teman-teman selalu menasehati tapi itu bikin dia berpikir tidak ada yang menyukainya. Bahkan anjing piaraannya, Snoopy, tak jarang harus turun tangan membantu Charlie. And then, seorang anak baru pindah ke sekolah Charlie. Jadi tetangga seberang rumah, malah. Seorang anak cewek, rambutnya merah, Charlie has found his first-real crush! Film ini — seperti kisah aslinya — adalah tentang Charlie yang ingin memberikan kesan terbaik kepada anak baru yang kece tersebut. Juga diselingi dengan petualangan imajinasi Snoopy The Flight Ace dan Woodstock si burung kecil melawan the infamous Red Baron. Metafora dari apa yang dirasakan oleh Charlie Brown.

The Blockhead is baaack~~

cieee The Blockhead is baaack~~

 

Yang paling aku suka dari this movie, lebih daripada animasinya yang charming dan playful dengan tampilan 3D, adalah The Peanuts Movie TIDAK MERASA PERLU UNTUK IKUT-IKUTAN TREN. Film ini enggak pusing-pusing mikirin bagaimana membuat sebuah kisah klasik cocok untuk this current time. Para tokoh-tokoh film, mereka sama sekali tidak berubah. Satu kebiasaan mereka yang sudah jarang kita temui sekarang: Mereka tetap bermain di luar rumah. Mereka main hockey, main ice skating bersama, berlarian main layang-layang. Mereka berkumpul selayaknya anak kecil jaman dulu. Mereka berinteraksi langsung, in person. Actual face-to-face kontak. Dan ini adalah pesan yang bagus buat anak kecil yang nonton. Pergilah keluar, bermain, berkawan. Tertawalah dengan mulut, bukan dengan stiker. Emosi, not emoticons.

Di saat film yang diadaptasi dari jaman dulu sibuk berusaha terlihat remaja, ngikutin perkembangan jaman, The Peanuts STAYS TRUE WHERE ITS HEART BELONGS. Tidak perlu sok pintar mengubah latar waktu. Tidak usah pusing-pusing buang tenaga dan pikiran menciptakan ulang background story yang hanya akan bikin filmnya kehilangan jati diri. Charlie Brown dan teman-temannya enggak main smartphone. Enggak main komputer. Tidak sedikitpun menyinggung gadgets. Heck, bukan tablet yang dipungut oleh Snoopy dalam film ini. Anjing lucu ini menemukan mesin tik! Dan ngomong-ngomong soal Snoopy, selain diisi oleh talenta voice-casts cilik, demi mempertahankan aura nostalgia nya film ini tidak menggunakan dubber baru untuk mengisi suara Snoopy dan Woodstock. Instead, mempertahankan suara ikonik Bill Melendez, pengisi suara original mereka. Director Steve Martino memakai rekaman dari episode-episode tv untuk menghidupkan kembali suara kedua peran legendaris tersebut.

Dengan begitu, film ini tidak hanya menghormati dunia anak-anak. The Peanuts Movie juga respect abis sama para penggemarnya dulu – yang sekarang sudah gede-gede, sebagian besar fanboy seri ini sekarang nonton bersama anak mereka. Dan hey, Bryan Schulz dan Craig Schulz ikut menulis film ini, so yeah jadinya benar-benar sebuah persembahan buat ayah mereka, Charlie M. Schulz!

“mwuak mwuaaak muwakowak kwakwok (baca: tidak ada kata terlalu tua dalam nonton Peanuts)”

“mwuak mwuaaak muwakowak kwakwok (baca: tidak ada kata terlalu tua dalam nonton Peanuts)”

 

Menggemaskan, film animasi ini penuh dengan karakter dengan personality yang berbeda-beda. Not just a plain stereotypical, namun semuanya tetap lugu dan punya peran masing-masing. Hal ini membuat para penonton anak-anak lebih mudah merasa lekat dengan semua tokoh-tokohnya. PESAN MORAL TENTANG PERGAULAN DAN PRESENTING DIRI SENDIRI membuat The Peanuts Movie layak tonton. Mengajarkan kepada anak-anak tentang self improvement dalam bersosialisasi. Meski memang kita harus jadi orang yang tidak gampang menyerah, terkadang kita juga suka salah. Seperti yang gagal disadari oleh Charlie Brown; winner atau loser, bukan masalah on seberapa sering kita screwed things up. Charlie berusaha menonjolkan sisi terbaiknya di depan si cewek baru berambut merah. Dia bakalan malu-dua-kali kalo sampai failed di depan cewek itu. Namun si Rambut Merah justru tak peduli, dia malah tertarik oleh kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan oleh Charlie. Bukan masalah seberapa keras kita berusaha untuk menampilkan yang terbaik, kualitas dari dalam diri kita lah yang akan mendapat perhatian dari orang-orang di sekeliling kita. Tanpa kita sadari, our true inner self yang akan speak louder. Yang akan betul-betul jadi pertimbangan orang lain. Seperti film ini sendiri yang enggak mutusin untuk jadi sesuatu yang bukan dirinya; Improving is a yes, but it is not necessarily to change our true self.

Buat yang bukan penggemar Charlie Brown dan Snoopy, film ini mungkin tidak berdampak terlalu “wah”. Tapi jelas juga bukan sekadar “meh”. Ini adalah film yang tidak ambisius. Film ini tidak perlu untuk berinovasi dengan plot dan formulanya, dan tetap bisa comes off as entertaining. Humornya enggak childish dan tetap sukses bikin penonton sestudio ngakak, tua maupun muda. Aku justru senang dan lega banget film ini enggak jatoh jadi kayak film daur ulang yang lain, yang masukin unsur baru hanya karena takut terlihat ketinggalan jaman. Sukur alhamdulillah film ini tidak seperti Bangun Lagi Dong Lupus keluaran tahun 2013 lalu yang gagal total karena terlalu ingin nampil berbeda dari aslinya. Here’s a tip: just don’t tamper with a legacy. Dengan segala kepolosannya, there’s so much adorable moments! The Peanuts Movie akan membuat kita betah mengikuti cerita nya bahkan sampai kredit selesai bergulir.

 

Hadir kembali untuk mengingatkan kita bahwa semua orang bisa menjadi pemenang. Sangat mendidik. Tetap setia dengan warna lama, kayak Charlie yang setia ama kaos kuning-bergaris-item nya, dan dengan visual yang gemesh dan colorful, film ini dipersembahkan untuk semua orang yang (pernah atau sedang) menikmati masa kecil. The Palace of Wisdom gives an 7.5 gold stars out of 10 for Snoopy and Charlie Brown: The Peanuts Movie.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Remember, in real life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements