Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“That’s what family is. People who hate you, but can’t kill you ‘cause they’are the first ones questioned.”

 

jEYZE9a

 

Seperti Batman yang butuh Joker, setiap hal di dunia ini perlu ada lawannya. Katakanlah, untuk keseimbangan. Demi keberadaan yang satu bisa memiliki arti hanya karena kehadiran yang lain. Goku enggak akan termotivasi jadi lebih kuat jika tidak berkompetisi dengan Vegeta. Semacam ada aksi, ada pula reaksi. Dalam dunia film, lawan dari hero gak necessarily disebut musuh, mereka bisa saja anti-hero. Orang yang punya kualitas yang berlawanan dengan protagonis utama. Seperti Draco Malfoy dibanding Harry Potter.
Sinterklas dalam mitologi Jerman pun begitu. Kerjaannya adalah membagikan kado kepada anak-anak yang bersikap baik. Semacam reward sudah bersikap manis selama setahun. Bagaimana dengan anak-anak yang nakal? Yang enggak mau disuruh belajar? Yang nyari alesan setiap disuruh ngerjain tugas di rumah? Siapa yang bakal ngasih mereka ‘kado’ kalo Sinterklas sibuk ngurusin anak-anak yang baik dan patuh? Well, orangtua di Jerman biasanya basically ngomong gini ke anak-anak mereka “Kalo nakal nanti dibawa Krampus looohhh!”

Film horor tentang natal banyak, tapi jarang sekali menghadirkan Krampus, atau yang dikenal sebagai The Christmas Devil sebagai tokohnya. Kebanyakan seputar monster lain atau tentang Santa yang jadi jahat, or simply serial killer dresses as Santa Claus. Padahal makhluk bertanduk besar, hitam, berbulu, setengah kambing setengah setan tersebut tercantum berdampingan sebagai anti-hero St. Nicholas dalam legenda original natal. Krampus pun disebut masih sodaraan sama Faun dan Satyr dalam mitologi.
Setiap malam tanggal 6 Desember, Krampus – membawa rantai, lonceng, dan ranting – akan berjalan di Bumi. Mencari anak-anak nakal untuk dikasih ‘hadiah’ berupa dicambuk dan dibawa ke sarangnya, or to hell for that matter. Di Jerman, Austria, Slovenia, dan negara-negara Eropa ada tradisi Malam Krampus (Krampusnatch) di mana orang dewasa berkostum ala Krampus dan berjalan sambil ngejar-ngejar orang di kota. Aku enggak begitu tau serba-serbi cerita Krampus di Indonesia gimana, tapi karena kita ngikut Belanda, di sini kita punya Pit Hitam yang ceritanya adalah tukang masukin anak nakal ke dalam karung.

 

Director Michael Dougherty (sebelumnya pernah sukses dengan film horor liburan lain di 2007, Trick ‘r Treat) menampilkan Krampus dalam ‘cuaca’ yang sedikit berbeda. Pertama, film ini adalah sebuah tontonan horor komedi. Penuh dengan SATIR KONDISI MASYARAKAT SOSIAL sekarang ini. Dari adegan pembuka saja kita sudah disuguhi ricuhnya Black Friday, tradisi diskon akhir tahun besar-besaran di Amerika. Orang-orang gelap mata berbelanja, saling rebutan, materialism at its worst. Natal, menurut film Krampus, udah tidak sesakral dulu lagi. Kita diajak melihat kesibukan menjelang malam natal di rumah keluarga Tom Engel (tumben Adam Scott enggak jadi tokoh bajingan haha). Saudara sepupu mereka yang gasrakgusruk, yang lifestyle nya sedikit berbeda, datang untuk merayakan natal bersama. Tidak bisa dibilang keluarga besar yang harmonis, makan malam tak lebih dari ajang pamer dan saling menyinggung, lucunya hal tersebut tidak mengganggu kita karena membuat kita teringat kepada keluarga besar kita di kampung. Film ini nails pretty hard tentang bagaimana kita bertingkah di rumah, of what we do to our family member.

Max dalam serial 2 Broke Girls bilang keluarga adalah orang yang membenci kita tapi tidak bisa membunuh kita, karena merekalah yang akan pertama kali ditanyai polisi. Max dalam film Krampus (Emjay Athony portrays a struggling kid – somewhat ringan tangan) awalnya tried to tolerate natal di rumahnya, lewat surat yang dia tulis untuk Santa dia ingin semuanya menjadi lebih baik buat setiap orang. Kelakukan sepupu yang menjadi-jadi membuat Max tak tahan. Dia merobek suratnya, melempar carikannya ke udara malam, Max tidak percaya lagi pada keajaiban natal. Perasaan Max sampai ke telinga Krampus, dan kayak bola kristal natal yang diaduk, segala kebahagian natal yang tersisa sirna dalam chaos as Krampus dan anak-anak buahnya turun tangan. Mengambil satu per satu keluarga Max.

Krampus tidak datang untuk memberi, dia datang untuk mengambil.

Krampus tidak datang untuk memberi, dia datang untuk mengambil.

 

Applause wajib kita berikan untuk penampilan Krampus. CGI minimalis, film ini MENGHADIRKAN SOSOK KRAMPUS DENGAN MOSTLY PRACTICAL EFFECT YANG MEMBUATNYA MENJADI LEBIH SERAM. Aku suka bgt adegan kemunculan pertama makhluk ini. Berlatar salju, sosok di antara deru salju di atas atap, musik yang bikin napas kita ikut ngap-ngapan. Did I yell again at the big-screen? Yes, maaf buat anak-anak SMA yang teriakannya kalah saing dengan “Laaarriiiiii!!!” ku dalam studio tadi. They built a great character dalam sosok Krampus. Menyeramkan, makhluk ini menikmati semua kekacauan yang ditimbulkannya dari mengabulkan permintaan.. well, sort of. Dia enggak pilih-pilih, mau baik atau jahat, mau anak kecil atau orang dewasa, Krampus akan mengejar mereka semua. Krampus dengan mudah bisa menjadi tokoh ikonik dalam jejeran karakter-karakter film horor.

Ada satu karakter lagi yang paling intriguing, dan itu adalah neneknya Max yang dipanggilnya Omi (Krista Sadler misterius banget tapi enggak comes off sebagai nyebelin). Kita bisa bersimpati kepadanya. Kepada masa lalunya, yang meski diterangkan cukup berat ke eksposisi, namun dihadirkan lewat animasi sejenis stop-motion yang fit perfectly dengan vibe film. Pengalamannya membuat nenek ini punya depth sendiri sebagai seorang tokoh cerita. Kemisteriusannya turut andil dalam membangun tokoh Krampus menjadi sesuatu yang legit kita takuti.

Porsi kocak dan mengerikannya enggak berlebihan, yang satu tidak mengenggelamkan yang lain. Tidak menggunakan banyak cipratan darah dan kata-kata sumpah serapah. Film Krampus adalah HOROR KOMEDI YANG EFEKTIF while maintaining statusnya sebagai tontonan untuk seluruh keluarga. Death scene nya run deep-in-the-feel dan sengaja dibikin eksplisit. Namun bagi hardcore horror fans, Krampus mungkin masih terhitung jinak. Minimnya darah membuat film ini seperti tidak berada dalam liga yang sama dengan Shaun of the Dead (2004) ataupun dengan Cooties nya Elijah Wood, tayangan horor komedi lain yang keluar tahun kemaren.

Atmosfer filmnya sangat gelap dan creepy. Fokusnya benar terletak pada the horror itself. Selintas menyaksikan Krampus membuat kita seperti sedang nonton film horor klasik jaman dulu. In fact, hal ini menjadi salah satu kelemahan. Film Krampus SEDIKIT TERLALU BANYAK MEMINJAM ATRIBUT-TRIBUT DARI FILM LAIN. Para Gingerbread Man sama sekali tidak impresif buatku; animasinya biasa dan adegan-adegan involving mereka jatohnya mirip sama adegan di Gremlin (1984), which is also a horror-comedy, a classic one. Tokoh Krampus memang keren, tapi adegan serangan beberapa minion nya terasa generik dan enggak banyak perbedaan dari jenis serangan monster-monster yang biasa. Adegan anak buah nya terlalu banyak, padahal yang kita butuhkan lebih banyak momen Krampus sendiri. Karena hanya Krampus dan the whole kostum nya lah yang sukses bikin excitement kita meninggi dalam film ini. Lagipula, the whole aspect of trapped di rumah karena di luar lingkungan sudah jadi pembawa kematian semua, membuat aku nyengir kuda sambil nyebut nama The Mist (2007). Film Krampus agak kurang bagus menenun bagian tersebut, sekuens mereka terperangkap terasa lebih monoton. Like, c’mon, do something with the snowmen!!!
Mungkin memang disengaja mirip karena temanya adalah sindiran buat keluarga masa kini yang merayakan natal, kedatangan Howard dan keluarganya (hayo lo, David Coechner, tanggung jawab udah bikin ngakak for the most part!) tak pelak bikin kita teringat kepada film komedi jadul Christmas Vacation (1989) yang tokoh utamanya juga kedatangan saudara yang tidak begitu dia sukai. Saudara yang menurut mereka annoying karena punya anak banyak dan berisik dan ngasal dan sok tahu dan suka seenaknya.

Yeah, there’s always a reason to hate your family.

Yeah, there’s always a reason to hate your family.

 

Dimulai dengan kuat, penuh pesan dan sindiran agaknya membebani cerita sehingga membuat film Krampus terseok menjelang akhir. Endingnya membingungkan. Like, apa mereka seriously go for A Nightmare on Elm Street (1984) setelah semua yang terjadi? Krampus memilih mengakhiri cerita dengan cara yang paling lemah padahal seharusnya mereka cukup tutup layar di poin Max sendirian di tengah salju.

Asik, dingin, dan menakutkan. This is a rather different approach dari sebuah mitos. Karena Krampus himself adalah bayangan dari Santa – semacam versi jahatnya — kita tidak akan menyaksikan Sinterklas melawan Krampus dalam film ini. You could watch A Christmas Horror Story (2015) kalo mau liat duel epik dua tokoh tersebut tho; kumpulan film pendek yang lumayan seram dan seru. Film Krampus sendiripun jauh dari kesan mainstream horor jaman sekarang. Mereka worked out the budget menjadi sebaik yang mereka bisa. But well, dang, kurasa ini adalah review film ku yang paling banyak nyebutin judul film lain. The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for Krampus.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements