Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

“You can’t be good in life without acknowledging the part of life that isn’t good.”

 

star-wars-force-awakens-official-poster

 

Star Wars The Force Awakens adalah film yang paling ditunggu-tunggu di tahun 2015. Semua orang penasaran sama babak baru dongeng luar angkasa ini. Semua orang ingin tahu apa yang terjadi pada tokoh-tokoh yang kita kenal dalam jangka waktu cerita 30 tahun dari Return of the Jedi itu. Aku menonton ulang dan ngereview lagi ke enam film Star Wars, posted them on Path, demi menyambut ‘pendaratan’  episode teranyar di bioskop. Trilogi prekuel duluan, baru trilogy original. Dan ternyata, episode yang selama ini paling aku sukai, Episode 1: The Phantom Menace, turned out to be one of the worst in the series! Sepertinya aku terpengaruh hype, or simply aku terlalu baper sama ke-fanboy-an. It is easy to like something dan lantas kita pikir yang kita sukai itu bagus. Tapi gapapa, aku masih suka Episode 1, I think it is fun, duel dengan Darth Maul is still the best final battle, hanya sekarang aku ‘mau sadar’ kalo secara overall filmnya adalah film yang jelek parah. Sebenarnya fanboy bukanlah menyukai sesuatu dan membelanya mati-matian. Fanboy adalah kita mengidolakan namun tetap berani mengakui setiap cela dari apa yang kita suka.
Realizing that, aku nonton Star Wars episode ke tujuh ini dengan membuka mata lebar-lebar. Kalo dipikir-pikir, memang, “Jangan nyari-nyari kesalahan, nikmatin aja filmnya” adalah saran terburuk yang bisa kita terima jika kita benar-benar peduli kepada film. Tidak bakal lahir film hebat kalo para penonton enggak kritis dan menolak jujur terhadap produk yang mereka saksikan.

Dan untuk kasus The Force Awakens, menonton dengan tangan siap mengetik komen di note hape – refusing to shut my brain off, dalam kesempatan ini aku mau bilang bahwa film ini adalah….. BUKAN HANYA FILM STAR WARS YANG HEBAT, MELAINKAN SEKALIGUS ADALAH A GREAT MOVIE IN GENERAL!!! Berkaca dari A New Hope dan The Empire Strikes Back, film ini berhasil melompati jauh banget, far far away, dari original prekuelnya. The Force Awakens is a top-notch film making. Ada struktur cerita, ada karakterisasi tokoh-tokoh dan pengembangan plotnya, enggak berat di eksposisi, pokoknya semua ditulis dengan superb. Dialognya kocak, khas Disney universe. Enggak ada conversations yang berasa ftv kayak di Attack of the Clones. Dikasih rating PG-13 sama seperti Revenge of the Sith membuat film ini jadi bisa punya momen-momen yang intensitasnya keluar sempurna. Duel lightsabernya story-driven dan gak over coreographed. Yang berasa kurang nendang adalah adegan pesawat-pesawatnya, StarKiller Base kurang terasa mengancam. I failed to see the threat di balik ancaman ‘ledakan besar’ karena cerita yang seperti itu udah udah overused dalam film-film. They will never happen! The CGI was jawdropping, namun tetep aja practical efek wins everytime! I picked kostum dan properti makhluk alien over Snoke hologram anyday. Menjaga story berkesan realistis, aku suka sebagian besar set nya yg bener-bener memakai alam – enggak semata green-screen.

Oke, cukup buat review yang tanpa-spoiler. Berhenti baca kalo kalian gak mau kena bocoran. Langsung skip aja ke paling bawah untuk melihat score. Karena setelah paragraph ini, aku harus bilang, tidak akan ada remnya. I AM a Fanboy so I want to discuss dan berprediksi (of course!) more about plot points, peran tokoh-tokohnya, the twist, apa yang aku suka dan yang kurang kusuka, so yea starting this point The Force Awakens akan dibahas lebih dalam.

you have been warned, young padawan!

You have been warned, young padawan!

 

 

Film ini bakal mengawali munculnya generasi baru dari penggemar Star Wars sementara masih bisa memberikan penghargaan yang cukup buat para penggemar lama. Casts film petualangan di luar angkasa ini udah kayak penghargaan Festival Film Indonesia; pemain lama dan baru bercampur padu. Cerdik (cenderung curang malah) gimana film ini nyampurin mereka. They came out fresh karena film ini enggak gitu aja ngerehash A New Hope, mereka PLAY IT-OFF GOOD WITH THE NOSTALGIA. Misalnya, para Stormtrooper yang masih tetap bego, nembak gak kena-kena – padahal sendirinya gampang banget ditembakin. Ataupun para tokoh-tokoh yang sepintas mirip alternate version dari tokoh kisah pertama, tapi sebenarnya enggak. Poe si pilot handal, yang dimainkan dengan confident dan penuh charisma oleh Oscar Isaac, enggak exactly the new Luke atau the new siapapun. Begitu juga dengan dua yang lain. Aku punya perasaan kalo ketiga protagonist utama sengaja digambarkan dari suku bangsa manusia yang berbeda sebagai isyarat bahwa enggak ada lagi “si anu ternyata adik si itu.”

 

The Force Awakens bercerita tentang First Order dan juga pasukan Resistance yang mencari-cari keberadaan Luke Skywalker, sang Jedi terakhir.

Aku suka bagaimana film ini mengambil sudut pandang baru dengan menjadikan seorang Stormtrooper sebagai salah satu tokoh utamanya. Si Stormtrooper kabur dari First Order karena enggak setuju dengan langkah yang diambil oleh pasukan Empire tersebut. Matanya terbuka, dia enggak lagi mau membela pasukannya. Boyega mainin Finn keren banget. Bahkan saat dia memakai helm, kita bisa turut merasakan dilema moral dan emosi yang dia alami.
Yang berhasil nyuri the entire show jelas adalah si Rey! Cewek scavenger ini sukses jadi tokoh utama yang enggak bego, actually cheerable, dan punya misteri pada dirinya. GREAT JOB DAISY RIDLEY! Sepintas dari penampakan, cewek ini agak-agak mirip Mark Hamill yaa.. apakah mungkin disengaja karena sebenarnya Rey punya hubungan darah dengan Luke? Hmmm…

Bagi kita orang indonesia, selain Luke, ada satu keberadaan lagi yg dipertanyakan. Yes, Luke dan tim The Raid (Yayan Ruhiyan, Iko Uwais, dan Cecep Rahman) beneran ada dalam episode ini. Namun meski sama-sama muncul singkat, kehadiran Luke dan Tim The Raid jelas berbeda dari segi peran di dalam cerita. Mad Dog dkk yang jadi klan Kanjiklub dalam film seperti ngikutin jejak legacy Boba dan Jango Fett -__-

Aku mau ngomongin sedikit tentang Kylo Ren, salah satu petinggi pasukan First Order. Dia pake hitam. Dia pake topeng yang ngerubah suaranya. Dia pake modified Lightsaber yang bercabang tiga pada ujung pegangannya. He is an awesome main villain! Kita tahu dia jahat tapi kita mengerti dan otomatis ngejustified of what he did. Kylo enggak bisa dibilang copyan Darth Vader, karena kalo kita ingat-ingat lagi we hardly knew siapa Vader saat kemunculannya di film pertama. Sedangkan Kylo sedari awal trilogi baru ini, kita sudah tahu konflik yang melatarbelakangi transisinya dari light force ke dark force. Bagaimana dia terbebani oleh bayang-bayang Darth Vader, sosok yang ia jadikan role model. Mungkin Kylo inilah murid yang ‘failed’ digembleng oleh Luke, yang menjadi penyebab Luke mengasingkan diri in the first place, seperti yang diceritakan oleh Han Solo kepada Rey dan Finn. Kita bahkan sudah melihat rupa tampang di balik topengnya. Adam Driver offered some hot-cold reactions in this role, tapi reaksi pertamaku waktu dia mengekspos wajahnya adalah; “Snape!” lol. Mungkin penilaian ku agak terpengaruhi oleh Ren dan Emperor Snoke yang persis Snape dan Voldemort. And the whole thing about baca pikiran pake kekuatan force terlihat mirip dengan Snape dan Occlumensi nya. I just keep thinking akan seperti Ben Solo lah Severus Snape jika dia tidak pernah kenal sama Lily Evans.

Tokoh-tokoh dalam film ini jauh lebih impactful dibanding apapun yang kita lihat dalam trilogy prekuel. The Force Awakens menyuguhkan banyak aksi udara namun lebih kerasa grounded karena they did the right thing dalam pengembangan karakter tokoh-tokoh yang ‘nginjek tanah’. Aku suka Rey dan Finn bekerja sama tanpa mereka sadari di awal-awal pertemuan mereka. Adegan mereka menerbangkan Millenium Falcon benar-benar di luar dugaan dan build-up nya sangat efektif meskipun singkat. Menjelang babak ketiga, jelas bagi kita bahwa Rey lah yang ‘mewarisi’ the force of Jedi. This elevates her character even more. Semua encounter nya dengan Kylo Ren terlihat sangat intriguing. Karena mereka berdua sebenarnya sama-sama belum mencapai puncak kemampuan mereka. Rey dibuat enggak serta merta langsung jadi kuat begitu dia tahu bisa mengendalikan force. She’s not automatically menjadi Xena Warrior Princess. Kita bisa merasakan gimana takutnya Rey, gimana dia selalu defensif, bahkan cenderung memilih untuk lari daripada bertempur. Sepanjang film, kita actually melihat proses Rey ‘belajar’. Landasan dari tokoh-tokoh sentral film ini sebenarnya sama dengan kita para fanboy; it is about acknowledge something that we might did not see before and learn to accept it.

 BB-8 juga punya momennya tersendiri. Android ini sukses enggak tampil annoying kayak Jar Jar Binks.

BB-8 juga punya momennya tersendiri. Android bulet trendi ini sukses enggak tampil annoying kayak Jar Jar Binks.

 

Dan betapapun kocak atau keren atau sedihnya, aku suka pada apa yang mereka lakukan terhadap Han Solo. Admit it, we somewhat know apa yang bakal terjadi kepada tokoh yang dimainkan oleh Harrison Ford ini. It was a text-book move dalam sebuah storytelling, tapi memang cara itulah yang diperlukan. Dalam film ini karakter Han Solo punya sisi yang dibahas lebih dalam dibanding film-filmnya terdahulu. Interaksinya dengan Chewy adalah salah satu best moments dalam The Force Awakens. Saat dia pertama kali regroup dengan Leia, aku berkelakar soal dia pasti akan bilang “Ma, anak kita, ma. Anak kita!” and it turned out Han memang semacam bilang begitu but the vibe was very intimate. Sama sekali enggak konyol.

Being a fanboy kadang juga membuat kita nge-judge terlalu cepat kalo sudah berhubungan dengan old vs new. Banyak adegan di dalam film ini yang bikin fanboy bilang “oohhh, itu kayak yg di…” dan kemudian dengan mata menyipit sinis ngedumel “J.J. Abrams maen ngambil doang..!” Aku pribadi sebenarnya ngeri kalau-kalau Luke akan kebagian berperan layaknya Yoda dalam trilogi yang pertama. Semacam, Luke jadi ngelatih Rey di Episode 8 (mirroring Yoda ngelatih Luke di Episode 5) dan menemui ajal di Episode 9 nanti. It was a long shot, but it is not unlikely. Cerita formulaic seperti ini sesungguhnya bisa terobati, atau katakanlah bisa termaafkan mengingat, yeaaa the last time Star Wars keluar dari pakem ceritanya, kita disuguhi oleh crap yang disebut dengan trilogi prekuel. Mungkin memang J.J. Abrams mengulang pola yang sama yang diterapkan di original karena that’s just how this epic galaxy adventures works. Mungkin memang Star Wars The Force Awakens ENGGAK SEINOVATIF YANG KITA HARAPKAN, tapi paling enggak ini adalah langkah mereka untuk kembali ke ‘jalur terbang’ yang benar. Dan mereka melakukannya dengan great, film ini memiliki value apa-apa yang membuat film bisa dikatakan sebuah film yang hebat.

 

In the end, kita akan merasa kurang, kecewa, pengen bilang “tambuah ciek!”. Film ini diakhiri dengan cliffhanger yang bikin bengong dan penasaran. Star Wars adalah master dalam membuat penonton hooked dan wanting more. Kekuatan dari original trilogy adalah setiap film menjawab pertanyaan sama besarnya dengan memberikan another questions. The Force Awakens juga begitu. Kita dan anak-anak jaman sekarang bakal bisa ngerasain bagaimana ‘penderitaan’ orang di tahun 1977 menunggu episode yang berikutnya keluar. Mungkin tidak bisa disebut sebagai film terkreatif tahun ini, but still, the storytelling sangat worthy untuk kita jalani, meskipun kalian bukan penggemar Star Wars. APALAGI jika kalian adalah penggemar Star Wars. The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for Star Wars The Force Awakens.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 
We be the judge.

Advertisements