Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

CYMERA_20151231_153012

 

Setiap akhir tahun aku dengan senang hati akan duduk di depan komputer, mengetikkan delapan judul film pertama yang terlintas di dalam pikiran; film-film yang sudah kutonton dari Januari sampai setahun penuh, dan voila jadilah daftar My Dirt Sheet Top 8 Movies!
Namun di tahun 2015 ini, bikin daftar tersebut enggak segampang tahun-tahun sebelumnya. Banyak mikir ulang, menimbang-nimbang. Walaupun kandidat film tahun ini yang oke banget dan benar-benar nyantol di hati enggak banyak-banyak amat, tapi kompetisinya ketat sekali! Bagi penggemar film, 2015 adalah tahun yang paling dinantikan. Prospek sekuel dan remake ‘gede’ udah bikin kita menggelinjang dari jauh-jauh hari. Dan ternyata, most of them memang delivered! Box Offices sekarang bukan hanya ‘canggih’ tapi juga punya cerita yang kuat. Film-film indie pun makin memukau dengan karya out-of-the-box yang memancing our thoughts. Secara keseluruhan, rating film yang keluar tahun ini semakin meningkat. Meski begitu, grade sama sekali bukan keputusan final. Gold stars yang kuberikan di review, ataupun rating IMDB, mainly hanya poin buat film itu sendiri secara teknikal. Kita toh sah-sah aja menyukai sesuatu yang tidak bagus-bagus selama kita mengakui letak cacatnya di mana.
Memilih hanya delapan dari film-film yang aku sukai sama besarnya, sungguh merupakan sebuah tantangan. But I had so much fun just to remember and write about them.

 

HONORABLE MENTIONS:
Para Golden Globes (dan mungkin Oscar) Contenders yang keren gilak, sayangnya mereka enggak bisa kita tonton di bioskop sebelum 2016. I’ve watched some tho, dan di antaranya aku suka The Hateful Eight (Quentin Tarantino masih master dalam bikin dialog yang paling menarik sedunia), The Revenant (Adegan beruangnya bisa banget jadi best scene 2015!), Creed (jab right on the feels!)
The Little Prince (bikin terhenyak dengan ngingetin akan prioritas orang dewasa vs anak-anak. Eksplorasi, introspeksi, dan nature of the true love),
Inside Out (suka gimana mereka gambarin cara kerja otak manusia, might be the very best animation of 2015!)
Me and Earl and the Dying Girl (teen drama tentang cowok dan teman ceweknya yang kena kanker, actually respect dunia remaja yang penuh emosi)
Sicario (film ini punya definisi cantik sendiri: dark, gritty, disturbing)
The Final Girls (comedy slasher dengan ide yang sangat original)
Cloud of Sils Maria (eternal battle antara film laku lawan film art yang diceritakan dengan menakjubkan, ditambah apik dengan performa terbaik yang pernah ditampilkan oleh Kristen Stewart)
Bridge of Spies (get no wrong dengan combo Stephen Spielberg + Tom Hanks)
Anomalisa (amazing, unik film boneka tanah liat tentang pria yang bosan dengan hidup repetitifnya, dia merasa sendirian but semuanya berubah when he meets unexpected stranger)
Maggie (zombie dengan pendekatan paling emosional yang pernah diceritakan!)
Southpaw (Jake Gyllenhaal main total while Oona Laurence mencuri perhatian dengan  apa yang bisa aja jadi best kid performance of 2015!)
The Hunger Games: Mockingjay Part 2 (we stand up against propaganda and moral dilemma)
The Age of Adaline (Thoughtful, film ini ngajak kita untuk go on living past our fears sembari senantiasa memberikan meaning lebih ke dalam kehidupan masing-masing. I love Adaline dan selalu menarik melihat manusia dengan konsep keabadian)
Ex Machina (tak kan pernah habis mikirin hakikat manusia dan penciptanya)
It Follows (true horor yang benar menyerang psikologis horor itu sendiri. Film ini bakal masuk top 8 jika bukan karena finishing act nya yang sedikit goyah)
Unfriended (gimmick teen horor juga bisa serem dan enjoyable kok! Film ini di luar perkiraanku, efektif sekali!)
The Lobster (weird, strong story tentang distopia di mana yang jomblo akan digembleng pacaran selama 45 hari, jika gagal maka ia akan diubah menjadi binatang. Sentilan buat tuntutan dunia masa kini!)
Guru Bangsa Tjokroaminoto (konsisten dan amazing storytelling, ada di top 8 jika list ini adalah tentang film-film yang kutonton di bioskop saja!! I love it I watched it twice a day!)

 

 

 

 

 

8. WHEN MARNIE WAS THERE
635646905477164781-Marnie-Poster-72dpi
Director: Hiromasa Yonebayashi
Stars: Sara Takatsuki, Kasumi Arimura, Nanako Matsushima
MPAA: PG
IMDB Ratings: 7.8/10
“She loved seeing the marsh from her window”

When Marnie Was There denger-denger adalah film terakhir dari Studio Ghibli. Buat yang belum pernah denger, Studio Ghibli adalah nama PH di Jepang yang selama ini konsisten ngeluarin film animasi yang ceritanya berisi dan menghanyutkan, seperti Spirited Away, My Neighbor Totoro, The Tale of Princess Kaguya, Howl’s Moving Castle. Dan seperti film-film tersebut, When Marnie Was There adalah film indah yang sangat kuanjurkan untuk ditonton oleh anak-anak.
Kenapa?
Karena film ini bakal ngajarin banyak hal. Tentang persahabatan yang indah, this movie presents reality of life yang anak-anak perlu tahu. Ceritanya simpel; Anak cewek yang super introvert bernama Anna. Dia susah berteman, masa kecilnya pun cukup rough. Saat dia tinggal di kampung seorang teman tantenya, Anna menjadi sangat tertarik dengan rumah gede yang tampak kosong di tengah rawa-rawa. Setiap hari dia kembali ke sana untuk menghampiri atau menggambar rumah tersebut atau sekadar memandangi. Ultimately dia melihat gadis cilik di jendela rumah itu. Pertemanan mereka leads us into somekind of a beautiful mystery. Dalam usahanya mencari tahu siapa sebenarnya Marnie, Anna juga tanpa sadar telah menemukan dirinya sendiri.
swer - Copy (8) - Copy
Sungguh film yang stunning, pesan maupun penampakan. Depth dan relationship karakter-karakternya ditulis dengan sangat intens! Film ini penting karena merupakan salah satu dari sedikit sekali film untuk anak kecil yang berani mengeksplor emosi terdalam dan tergelap yang memang bisa dialami oleh anak-anak.

My Favorite Scene:
Revealing di babak akhir, aku takjub menyadari bahwa mereka semua dihubungkan oleh sosok Marnie. Benar-benar sebuah persembahan terakhir yang menawan dari Studio Ghibli.
Please make more movies…!

 

 

 

 

 

 

7. THE MARTIAN
martian2015
Director: Ridley Scott
Stars: Matt Damon, Jessica Chastain, Kristen Wiig
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.2/10
“I’m gonna have to science the shit out of this.”

Jangan kira terdampar sendirian di planet Mars yang enggak ada apa-apa membuat Mark Watney menjadi depresi, kesepian, dan kelaparan.
Film The Martian sudah menipu kita habis-habisan. Ini bukanlah cerita berat yang penuh keluh kesah. The Martian actually lebih lucu dari kebanyakan film komedi yang keluar pada tahun ini. Berpesan agar kita hendaknya bisa melihat segala sesuatu dari sisi positifnya, The Martian menceritakan bagaimana seorang ahli botani bertahan hidup dengan berpegang teguh kepada sikap optimis.
Apapun yang menimpanya, segala kesialan yang terjadi, Mark selalu bisa menemukan faedah di baliknya. Bukan hanya itu, dia juga berani menertawakan dirinya sendiri, he always find a humor in those terrible situations. Yea, terkadang tidaklah mengapa untuk ngetawain sebuah tragedi yang menimpa kita. Itu nunjukin kalo kita mampu melihat sesuatu dari pendekatan yang berbeda. Mungkin karena aku juga tergolong sial maka mudah bagiku untuk feel related to Mark, but really, terus berharap dan tetap semangat, itulah yang perlu kita tiru. Mark melihat masalah sebagai kesempatan dirinya untuk berbuat yang terbaik, itulah yang diniatkan Mark untuk bisa selamat.
Very clever writing dan splendid acting dari jejeran cast yang oke punya. Matt Damon, terutama, he’s really great dalam film ini. Dia sukses membuat kita merasakan exactly apa yang dirasakan oleh Mark. Komedi dan juga suspens, momen-momen saat segalanya membebani Mark. Kita bakal ngerasain juga horor nya terdampar sendirian, dengan begitu banyak halangan untuk bisa pulang.

My Favorite Scene:
martian_20thCenturyFox-582x313
Aku ngayal jadi astronot ngeliat adegan-adegan di dalam Hermes spaceship! Pasti seru tinggal di dalamnya. Ke mana-mana tinggal melayang.

 

 

 

 

 

 

6. WHAT WE DO IN THE SHADOWS
What_We_Do_in_the_Shadows_poster
Directors: Jemaine Clement, Taika Waititi
Stars: Jemaine Clement, Taika Waititi, Cori Gonzalez-Macuer
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.6/10
“I think we drink virgin blood because it sounds cool.”

Ini. Film. Vampire. Paling. Lawak. Yang. Pernah. Ada. Titik.
Vampire enggak melulu harus cool. Hal itulah yang ingin ditunjukkan oleh komedi indie ini. Kehidupan vampire yang apa adanya, tentang tentang vampire berumur ratusan tahun yg ngekos bareng, mereka ngebolehin aktivitas mereka direkam menjelang pesta akbar para makhluk abadi (ada zombie, witches, werewolves juga!). Dokumenter style gitu, kayak Spinal Tap. Jadi kita ngeliat gimana para vampire berinteraksi dengan dunia modern sekarang ini.
Karakter-karakternya dibuat se’manusiawi’ mungkin, gilak dan cenderung norak, tapi enggak lebay. Gak ada lelucon immature ala film Adam Sandler. Jokes di sini variatif, dari seputar mitos tentang vampire, kayak mereka gapunya bayangan di cermin, harus diundang baru bisa masuk ke nightclub, efek makan potato chips buat mereka, dan yang konyol-konyol lainnya. It has some hearts too. Tentang solidaritas dan perks of being undead.
Aku ngakak tiap menit nonton ini. It was a lot of fun, seger banget kayak darah yang mereka minum hihi!

My Favorite Scene:
602-What-We-Do-in-the-Shadows
Saat mereka parade around getting ready sambil nyobain pakaian bekas korban mereka, dan saling ngomentari penampilan masing-masing. Tampangnya malu-malu tapi sok penting lmao!

 

 

 

 

 

 

5. STAR WARS THE FORCE AWAKENS
star-wars-force-awakens-official-poster
Director: J.J. Abrams
Stars: Daisy Ridley, John Boyega, Oscar Isaac, Adam Driver
MPAA: PG-13
IMDB Ratings: 8.6/10
“There has been an awakening. Have you felt it?”

Beragam reaksi berkenaan dengan rilisnya film yang paling ditunggu-tunggu sepanjang tahun 2015 ini. Banyak yang memuja, pun tak sedikit yang merasa dikecewakan. Well, saat kemunculan trilogy prekuel, orang pada protes karena Star Warsnya terasa menyimpang dari pakem yang original. Sekarang orang juga protes karena Episode VII ini kembali menggunakan pola yang mirip dengan trilogy yang pertama. Aku enggak mau jadi golongan fan yang labil kayak gitu. Buat kacamataku, Star Wars the Force Awakens tetaplah sebuah film Star Wars yang hebat, karena it was indeed a great filmmaking.
Ada struktur cerita, ada karakterisasi tokoh-tokoh dan pengembangan plotnya, enggak berat di eksposisi, pokoknya semua ditulis dengan superb. Dialognya kocak, khas Disney universe. Rating PG-13 membuat film ini jadi bisa punya momen-momen yang intensitasnya keluar sempurna. Duel lightsabernya story-driven dan gak over coreographed. Aku suka sebagian besar set nya yg bener-bener memakai alam – enggak semata green-screen. Practical effect wins everytime!
Film ini bakal mengawali munculnya generasi baru dari penggemar Star Wars sementara masih bisa memberikan penghargaan yang cukup buat para penggemar lama. Aku suka bagaimana tokoh-tokoh dalam film ini jauh lebih impactful dibanding apapun yang kita lihat dalam trilogy prekuel. Rey, Finn, Poe, dan Kylo, kita lihat mereka semua ‘belajar’.

aku punya perasaan Kylo Ren akan jadi Bezita buat Rey’s Goku.

aku punya perasaan Kylo Ren akan jadi Bezita buat Rey’s Goku.

Mungkin memang Star Wars The Force Awakens enggak seinovatif yang kita harapkan, tapi paling enggak ini adalah langkah mereka untuk kembali ke ‘jalur terbang’ yang benar. Kekuatan dari original trilogy adalah setiap film menjawab pertanyaan sama besarnya dengan memberikan another questions, dan hal yang bikin penasaran tersebut juga kita rasakan seusai menonton Episode ini. Still, the storytelling sangat worthy untuk kita jalani, meskipun kalian bukan penggemar Star Wars. APALAGI jika kalian adalah penggemar Star Wars.

My Favorite Scene:
The moment the lightsaber terbang melewati Kylo Ren dan ditangkap oleh… Rey! For a split second, I thought that was Luke!!

 

 

 

 

 

 

4. DOPE
DOPE_OFFICIAL_POSTER
Director: Rick Famuwiya
Stars: Shameik Moore, Tony Revolori, Kiersey Clemons
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.3/10
“So why do I want to attend Harvard? If I was white, would you even have to ask me that question?”

Pencapaian luar biasa untuk bisa membuat teen comedy jadi punya kharisma seperti film ini. Enggak peduli dari mana kita berasal, it doesn’t matter how much money we make, heck warna kulit jelas sama sekali bukan masalah, setiap orang bebas untuk mengejar mimpinya dan menjadi sukses. Kejadian yang dialami Malcolm dan teman-temannya mengajarkan kita hal tersebut. Meski mereka melakukannya dalam konteks rada gangster yang ga semuanya kudu kita tiru.
Malcolm dan dua temennya enggak fit in dalam ‘brotherhood‘ dan SMA mereka. I mean, mereka black tapi geek! Mereka terobsesi dgn 90’s hip hop dan other ‘white’ thing kayak skateboard, bmx, nintendo, bikin band punk sendiri, suka belajar, dan pengen kuliah. Things jadi makin menarik saat Malcolm terlibat sesuatu dgn wrong group of people. Hidup Malcolm jungkir balik. Mau gak mau dia harus terjun ke dalam lingkungan ‘keras’ yg selama ini dia hindari while try to maintaining who he really is. Yg aku suka dari karakter Malcolm ini adalah meskipun with all those struggles, dia dibully melulu karena posisinya awang-awang di mata dunia – antara si pintar yg hitam dan si hitam yg pintar- Malcolm enggak pernah terlihat nunjukin keluh kesah ke penonton. Dia enggak meminta simpati. Dia gak nodong kita untuk menyukainya karena dia memilih beda dan ‘tertindas’. He was always very real.
1443928015315
Originalitas point of view film ini perlu untuk mendapat jempol. Dramanya, musiknya, humornya, semuanya sangat energik. Storytelling Dope bahkan sukses bikin Inglewood – kota mereka – terlihat bener-bener hidup dengan semua aktivitasnya. Film Dope nunjukin kalo film yang bagus adalah film yg bikin penonton pengen lebih – bukan sekuel, tapi for more characters like the ones we saw.

My Favorite Scene:
Sekuens endingnya yang begitu kuat leaves me high with perspective and I still want more!

 

 

 

 

 

 

3. THE VOICES
thevoicesposterlarge
Director: Marjane Satrapi
Stars: Ryan Reynolds, Anna Kendrick, Gemma Arterton
MPAA: R
IMDB Ratings: 6.3/10
“Friday I had a pretty cushy gig. Had lots of friends, I was the office hottie… now I’m a severed head in a fridge. Sucks to be me, Jerry.”

Dalem, meski tergolong dark-comedy, The Voices sebenarnya adalah a sad story of a mental mind. Mungkin film Ryan Reynolds yang satu ini memang bukan buat semua orang. Padahal ini adalah salah satu penampilan terbaik yang disuguhkan oleh Reynolds, loh! Dalam film ini dia meranin seorang pria, karyawan biasa, yang bisa ngobrol dengan kucing dan anjing. Kedua peliharaannya itu udah kayak malaikat dan setan yang senantiasa membisiki Jerry. Adegan-adegan dalam The Voices cukup disturbing, in a funny-awkward way.
Lucu gimana film ini sukses ngebikin kita berempati kepada Jerry. Kita mengerti kenapa dia enggak mau minum obat karena dunia halusinasinya simply lebih indah. Di dalam ‘dunia’nya, Jerry gak sendirian. Enggak sepi. Baginya, kematian adalah cinta. Sedihnya, dia sadar, dan justru coba untuk memahami semua itu, dalam kapasitas senormal yg bisa dimengerti olehnya.
Banyak orang yang bilang kalo mental people itu, they have fear of rejection. Tapi kita harus tahu, bahwa mereka sudah mencoba. Kadang mencoba terlalu keras. I knew, maybe I’m one of them. Yang jelas, yang suka nyilem ke dalam pikiran orang gila pasti bakal nemuin kalo film unik ini adalah permata di antara Box Offices raksasa.

My Favorite Scene:
dd2x
Jerry had some deep, meaningful conversations about life dengan kucing dan anjing peliharan, serta kepala korban pertamanya (hhihi!)

 

 

 

 

 

 

2. THE GIFT
the-gift-poster-3
Director: Joel Edgerton
Stars: Jason Bateman, Rebecca Hall, Joel Edgerton
MPAA: R
IMDB Ratings: 7.2/10
“You see what happens when you poison other people’s mind with ideas?”

Buatku, The Gift terasa sangat personal.

Kutekankan, film ini bukan horor bunuh-bunuhan. The Gift, in the essence, jauh lebih seram. Ini adalah psikologikal thriller. Drama yang sangat bagus, kalo boleh kutambahkan. Suspense nya terbangun mantap. Karakternya kompleks. Film ini benar-benar mengaburkan garis antara yang baik dan yang jahat. Kita dibikin bengong, gatahu pasti harus bersimpati kepada yang mana. Mereka semua adalah wounded person. You think you know them, kita pikir kita tahu ini tentang apa, tapi percayalah, kita sama sekali have no idea. Film ini akan membuat kita tetap tertarik sambil membuka pelan-pelan ‘rahasia’ para tokohnya.
Penulisannya yang pintar, juga penampilan para bintangnya yang nyaris tanpa cela, membuat menonton film ini terasa seperti membuka kado dengan banyak lapisan bungkus. Penasaran, sekaligus agak ngeri ngeliat isinya. Kita tidak mau terburu-buru, kita ingin menikmati setiap lapisan terbuka.
Mengerikan memang, bagaimana sebuah ide, terutama gagasan yang buruk- bisa berpengaruh besar dan luas. Pesan The Gift lebih dari sekedar mulutmu harimaumu. Liat aja saat tetangga Robyn ngasih komentar-sambil-lalu tentang Gordon; gimana coba efek omongan tersebut ke semua orang yang ada di sana?
Film ini nunjukin kalo suggestion, sekecil apapun itu, betul-betul bisa menimbulkan keraguan. Dan pada akhirnya mampu mengubah drastis kehidupan seseorang. Juga nunjukin kalo kita tidak bisa menolak ‘hadiah’ yang disebut dengan masa lalu. Our past akan terus membebani. Namun sebenarnya yang sangat kita inginkan, alasan kenapa kita memberi, adalah ingin mendapat balasan berupa sebuah closure. Sebuah perdamaian.

My Favorite Scene:
thegift1
Scare di kamar mandi benar-benar membuatku kaget, it took me by surprise. Well done haha!

 

 

 

 

 

Drum roll buat posisi pertama, please..!!
Pada titik ini, mungkin kalian sudah bisa menebak, karena sungguh susah untuk tidak memasukkan film yang satu ini jika kita sedang berhajat buat ngumpulin film-film keren tahun 2015. Film yang udah sukses accomplished so many things dalam presentasinya, inilah my 2015 top movie ..

1. MAD MAX: FURY ROAD
10636937_661847177254140_3001186770164503894_o
Director: George Miller
Stars: Tom Hardy, Charlize Theron, Nicholas Hoult
MPAA: R
IMDB Ratings: 8.2/10
“As the world fell, each of us in our own way was broken. It was hard to know who was more crazy… me… or everyone else.”

Nonstop actions=check
Cult leader main villain=check
Mobil-mobil monster modifan=check
Fire-spewing guitar hero on a huge rockstar vehicle=check

Fury Road literally punya semua aspek yang dilupakan oleh film-film action pada umumnya. Bahkan, aku berani bilang kalo film ini adalah film action terbaik yang pernah dibuat. Mad Max ngebuktiin kalo ledakan dan aksi gilak juga bisa punya hati dan terlihat real. Kuncinya jelas pada tokoh-tokohnya. Mereka enggak serta merta kuat tak terkalahkan. They all are vulnerable. Kita bisa liat dengan jelas bagaimana masing-masing karakter itu constantly berada di ujung tanduk. Semuanya bisa mati kapan saja, kita ga pasti siapa yang bakal selamat dari satu adegan. Film ini got it right, setiap aksi terekam sempurna dan beneran has its weight to the plot. It also gets emotionally powerful at times.
Bicara soal beneran, Fury Road penuh dengan practical effects dan stuntworks yang bikin kita terperangah. Hare gene sudah jarang banget kita nonton film dan bertanya, “kok bisa?”, karena kita sudah tahu komputerlah yang melakukan semuanya. Tapi menonton Mad Max teranyar ini, kita akan dibuat terheran-heran, bagaimana cara mereka melakukan semua aksi-aksi keren tersebut. Karena semua kendaraan dan senjata dan ledakan itu asli! Benar-benar terjadi dan ada barangnya. Kita serta merta akan dibuat peduli, bukan hanya kepada Nux, Furiosa, Immortan Joe, ataupun Mad Max, tapi juga kepada bagaimana cara film ini dibuat?

Beautiful wide shot of chaos and destruction

Beautiful wide shot of chaos and destruction

Aku biasanya paling nganggap remeh soal film-film laga. Aku malah gak pernah mimpi bakal nemuin film action yang jadi juara paling atas dalam daftar film favoritku. Namun tak bisa mungkir, I had the most fun nonton Mad Max: Fury Road dibandingkan dengan film-film lain di tahun ini. It was so incredible sehabis nonton aku langsung sadar kalo sudah menyaksikan sesuatu yang spesial. 2015 adalah tahun yang paling ditunggu-tunggu oleh penggemar film karena kita dijanjikan bakal ngeliat sesuatu yang baru dari dunia-dunia yang sudah kita kenal. Di 2015 kita melihat Star Wars baru, Jurassic Park baru, Terminator baru, Goosebumps, Peanuts, yang finally diangkat ke layar lebar, dan tentu saja setelah 30 tahun, Mad Max yang baru. Di antara yang baru-baru itu, memang cuma Mad Max: Fury Road lah yang paling impactful due to its fantastic filmmaking, berhasil membangkitkan sense of realistic to the max!

My Favorite Scene:
Semua adegan kejaran-kejaran! Tidak ada satu adegan pun dalam film ini yang terasa dull dan enggak penting. Non-stop thrill ride!! Tapi kalo disuruh milih, yeah, si gitar tetaplah hal paling awesome yang kulihat pada seantero film yang keluar di tahun 2015!
mm4

 

 

 

 

 

Pengalaman menonton yang menyenangkan buat seorang penggemar film di tahun 2015. I’m really surprise aku enggak bisa nemuin tempat dalam top list tahun ini untuk genre horror, padahal ada yang lebih-dari-lumayan kayak It Follows ataupun  Krampus. Meski genre favorit, aku ingin list ini tetap jujur sesuai yang benar-benar the best menurut hematku. Let’s see if horror would make a comeback di akhir tahun nanti. Apa film favorit kalian tahun ini?
Buat prediksi, sepertinya Leonardo DiCaprio bakal mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya di Oscar tahun ini.
Dan buat film Indonesia, sungguh nyaris sekali! Pertahankan orisinalitas dan aku yakin akhirnya bakal bisa menuliskan judul berbahasa Indonesia dalam daftar delapan besarku tahun depan.

“SELAMAT TAHUN BARUUU!!!” :tiup terompet:

 

 

 

Okee, that’s all we have for now.

But we’re not done yet. Make sure the check back buat ngeliat film mana yang akan mendapat penghargaan “Best Movie Scene” di My Dirt Sheet Awards KELIMA !!

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are
a0a8a7dfc1fe1a62aa

We be the judge.

 

 

 

Advertisements