Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“If you close your eyes –- your life, a naked truth revealed. Dreams you never lived, and scars never healed.”

 

revenant-leo

 

Tahun 2015 memang sudah berakhir. Kami juga sudah bikin daftar film-film paling keren di tahun yang baru saja kita tinggalkan tersebut. Tapi tutup tahun bukan berarti sudah selesai, loh. Masih banyak film bagus 2015 yang belum bisa kita saksikan di bioskop. Film-film nominator Oscar dan Golden Globes seperti The Revenant ini, contohnya. Ataupun juga film-film independen yang baru sekarang namanya terdengar. Beberapa dari mereka mungkin ga bakal tayang di sinema kita. Makanya, meski rada pointless nge-review film yang ga bisa diakses banyak orang, The Palace of Wisdom akan berusaha untuk tetep bikin dan nyempilin ulasan beberapa film tersebut di sepanjang tahun ini.

 

The Revenant menceritakan kisah nyata yang terjadi sekitar 1820 tentang pria bernama Hugh Glass, seorang pemburu yang balik memburu rekan-rekan yang sudah tega meninggalkan dirinya di dalam hutan dalam keadaan cedera parah. Dia gak bisa jalan. Dia gak punya makanan. Glass berusaha mati-matian bertahan hidup di tengah dinginnya cuaca di dalam hutan, yang enggak hanya penuh dengan beruang namun juga digentayangi oleh kaum Indian yang sedang berseteru dengan bangsa kulit putih.

Tampangku pastilah bagai tampang orang idiot menonton film ini dengan rahang ternganga selama dua jam lebih. Adegan-adegan dalam film The Revenant sangat BRUTAL DAN KERAS, NAMUN BEGITU REALISTIS, dan juga disuguhkan dalam SINEMATOGRAFI YANG LUAR BIASA INDAH DAN MENGHERANKAN.
Oke, sepertinya terlalu banyak pujian dalam satu kalimat. Mari membahas mereka satu-persatu.                                                                                                       Sedari pembukaan cerita, kita sudah dibuat tegang dan banjir adrenalin oleh adegan pembantaian dan kejar-kejaran yang sangat–seperti-nyata. Dengan segera kita tidak lagi hanya melihat mereka dari jauh, kita seolah berada langsung di antara orang-orang yang berlarian tersebut! Kita ikut deg-degan takut kena anak panah nyasar. Kita ikut merasa ingin cepat-cepat berlindung. Shot panjang bukanlah hal asing bagi sutradara Alejandro Gonzales Inarritu, apalagi sejak Birdman tahun lalu, dan dia kembali melakukan teknik tersebut pada adegan huru-hara ini dengan hasil yang sama efektifnya, jika tidak lebih.

Yang paling banyak dibicarakan tentu saja adalah satu adegan besar yang menyangkut beruang grizzly. Serius, adegan ini benar-benar bikin takjub! Bukan tidak mungkin itu adalah adegan film terbaik seantero 2015. The Revenant berhasil membuat suatu adegan manusia melawan binatang buas yang intens, yang enggak keliatan bland kayak potongan klip dari Discovery Channel, ataupun enggak over-the-top kayak rekaman amatir pecinta satwa. Dekat-tapi-tidak-terlalu-dekat. Si beruang juga tidak serta merta diperlihatkan jahat ataupun mereka nanti bakal temenan. Yang kita lihat di layar adalah binatang yang murni bergerak dengan nalurinya. Sense of reality yang berhasil dicapai oleh adegan ini adalah kelas dewa. Yang jelas, kita bakal mikir dua kali buat masuk hutan setelah menyaksikan adegan yang cukup disturbing tersebut. Sungguh mengherankan bagaimana para pembuat film ini melakukannya. Membuat kita bertanya-tanya. Bagaimana cara mereka mengintegrasikan efek, akting, kamera, dan semua hal tersebut. Jarang loh jaman sekarang kita dibuat peduli terhadap cara sebuah film mengesyut adegan-adegan. Pada kebanyakan film, kita paling hanya bilang “meh, CGI.”

"Demorph, Rachel! DEMORPH!!"

“Demorph, Rachel! DEMORPH!!”

 

 

Sebelum ini, aku juga dibuat tercengang oleh film Mad Max: Fury Road, film favoritku tahun 2015 (lihat daftar lengkap My Dirt Sheet Top 8 Movies of 2015). Kedua film ini sukses menggelitik minatku untuk pengen tahu lebih jauh bagaimana proses pembuatan film. Mengapa enggak semua film mengandalkan teknik pengambilan gambar yang amazing seperti yang dilakukan oleh The Revenant? Kalo kita perhatikan sedikit, pencahayaan dalam film ini natural banget. Bayang-bayang yang terekam layar terlihat beneran berasal dari sumber alami, seperti matahari dan api. Enggak ada lightning dari lampu studio. Mereka memperhatikan sudut pengambilan gambar secara terperinci sehingga menghasilkan gambar yang realistically stunning. Aku enggak bisa bayangin betapa susahnya mencapai apa yang sudah berhasil disuguhkan oleh film yang jadi kandidat kuat untuk Best Motion Picture Golden Globes tahun ini. Aku ingin tahu!

Jangan salah sangka, meski memang cinematography adalah hal yang paling terakhir aku lihat dalam sebuah film, bukan berarti aku ga suka film yang bervisual bagus. Bukan berarti aku ga suka film pemandangan. Bukan berarti aku ga suka film yang banyak CGI. I love it when they did it right, seperti dalam The Revenant ini. Yang aku enggak suka adalah film-film yang terlalu mengandalkan – terlalu bergantung kepada pemandangan, yang maksain pake CGI yang enggak bagus. Yang menganggap teknik tersebut adalah gimmick untuk bikin orang tertarik, padahal gak nyambung kayak cerita persahabatan yang malah fokus ke tempat-tempat indah, dan gak perlu kayak film hantu yang ngotot hantunya harus mejeng dengan rupa yang ngeri (atau lebih tepatnya dingeri-ngeriin)

Alam menjelma menjadi sesosok karakter. Kita merasakan hutan dan salju itu mengisolasi Glass. Nature is not playing nice. Glass harus memanfaatkan apa yang dia punya sebisa mungkin untuk bertahan hidup. Satu lagi yang memorable adalah kala ia bergelung kedinginan di dalam seekor kuda. Kalimat tersebut masuk akal jika kalian sudah menyaksikan sendiri hehehe. Mirip seperti Mark di The Martian, tanpa bagian yang lucu. Leonardo Dicaprio bagus sekali dalam film ini. Dia mampu bermain maksimal sebagai Hugh Glass dengan dialog yang minimal. Sepertinya dia bakal mendapatkan apa yang menjadi haknya dalam Oscar later this year. Leo sudah nunjukin penampilan hebat yang konsisten selama beberapa tahun terakhir. Tom Hardy yang jadi lawan mainnya juga nampil mengundang decak kagum. Sebagai Fitzgerald, dia adalah pusat dari semua kejadian dalam film ini, dan Tom dengan luwes menjelma menjadi karakter tersebut. Adegan puncak mereka berdua tersajikan dengan, sekali lagi; brutal, disturbing namun sangat nyata.

dan hey, kebetulan kah Tom Hardy juga bermain di film Mad Max Fury Road yang juga dibuat dengan mindblowingly realistic?

dan hey, kebetulan kah Tom Hardy juga bermain di film Mad Max Fury Road yang juga dibuat dengan mindblowingly realistic?

 

Di sela-sela terbaring di tanah bersalju, Glass memejamkan mata dan kita dibawa ke adegan mimpi yang sureal tentang masa lalu pria yang punya keluarga Indian ini. Dia dihantui oleh kenangan tersebut. Lagi, seperti Mad Max: Fury Road. Namun, adegan-adegan yang diniatkan agar penonton bisa nyusun puzzle sambil nonton tersebut relatif gak make sense alih alih bikin kita penasaran. Membuat kita berpikir – poin yang bagus – namun setelah dipikir adegan-adegan itu sendiri jadi terasa terlalu pretentious. Kontras dengan gaya film yang mengutamakan ‘kenyataan’. Sebab gambaran dalam kepala Glass tersebut jatohnya lebih sebagai jadi motivasi bagi Glass untuk terus bertahan dan berjuang. Jika luka di sekujur tubuhnya jadi bahan bakar bagi api dendam, ‘mimpi’ Glass itu datang sebagai pengingat kepadanya bahwa ada luka-luka yang enggak bakal bisa disembuhkan. Sekuen adegan yang muncul cukup sering tersebut membuat The Revenant menjadi repetitif di bagian tengah. Jadinya kerasa untuk mengulur-ngulur waktu durasi saja.

 

Film dingin dengan aksi sadis-namun-realistis, hidup oleh penampilan tokoh serta berkat kerja dan permainan kamera yang bikin kita ingin tahu bagaimana cara membuatnya. Film yang didasarkan kepada novel tentang kisah hidup Hugh Glass ini punya banyak adegan-adegan yang akan dikenang sepanjang masa. Karena keindahan sinematografinya. Karena pencapaian teknikalnya. Karena rasa nyata yang berhasil disajikannya. The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE REVENANT.

 

 

 

 
That’s all we have for now.

Remember; in life, there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

 

We be the judge.

Advertisements